Kandidat Artikel Utama

Fenomena Anies-AHY 2019, Hadirnya Harapan Baru?

11 Juli 2018   18:10 Diperbarui: 12 Juli 2018   08:04 2153 1 0
Fenomena Anies-AHY 2019, Hadirnya Harapan Baru?
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyapa warga saat meresmikan masjid As-Salam di Joglo Jakarta Barat, Jumat (25/5/2018). (KOMPAS.com/NIBRAS NADA NAILUFAR)

MENJELANG Pemilihan Presiden Tahun 2019, tak banyak bakal calon yang disebut-sebut sebagai Penantang incumbent, Joko Widodo. Bahkan yang santer diprediksi, adalah bakal terjadi "episode kedua" duel antara Jokowi dan Prabowo Subianto.

Jokowi maupun Prabowo, saat ini, belum menentukan siapa tandemnya sebagai bakal calon wakil presiden. Semula, Jokowi mengajak Jusuf Kalla (JK) kembali berpasangan, namun harus dimohonkan ke MK agar JK bisa kembali dicalonkan untuk  yang ketiga kalinya. Karena konstitusi, hanya membolehkan maksimal dua kali untuk jabatan yang sama.  JK sudah dua kali menduduki Jabatan Wakil Presiden. Periode 2004-2009, JK menduduki Jabatan Wakil Presiden RI mendampingi  Presiden RI SBY.

Pada kontestasi Pilpres 2009-2014, JK maju sebagai Capres didampingi Wiranto sebagai Cawapres. Namun, yang meraih dukungan terbesar adalah Pasangan Capres dan Cawapres SBY-Boediono.

Pada Kontestasi Pilpres 2014-2019, JK kembali maju sebagai Calon Wakil Presiden berpasangan dengan Jokowi melawan pasangan Capres-Cawapres yang diusung Partai Gerindra dan PAN, Prabowo-Hatta. Pasangan Jokowi -JK memenangkan Pilpres 2014 dan mengandaskan ambisi Prabowo menjadi Presiden RI.

Karena sudah dua kali menjabat Wapres, MK tidak mengabulkan permohonan agar JK dapat kembali menjadi calon wakil presiden. Kalau mau ikut kontestasi pada Pilpres 2019, JK hanya boleh maju sebagai Calon Presiden.

Setelah dibujuk, agar turut dalam kontestasi Pilpres 2019 sebagai Capres, JK menolak secara halus tawaran tersebut.

Jika SBY-JK menjadi King Maker, Jokowi bisa mengalami kesulitan di Pilpres 2019.

Berselang beberapa hari setelah bertandang ke rumah SBY, di Patra Kuningan, Jakarta Selatan, 25 Juni, lalu, langkah JK kembali menarik perhatian. Pertemuan ini disusul wacana mendorong JK-AHY pada Pilpres 2019. Wacana ini lalu redup karena tidak ada anggukan setuju dari JK.

Berselang beberapa hari, JK bertemu Gubernur DKI, Anies Baswedan. Bahkan, satu mobil dengan Anies menuju ke salah satu acara yang diadakan oleh PBNU. Apakah JK akan menjadi King-Maker dan memainkan Anies yang sedang naik daun itu?

Langkah politik zig-zag JK memang susah ditebak. Pasca satu mobil dengan Anies Baswedan, popularitas Anies melonjak hingga masuk dalam bursa Calon Presiden. Jejak langkah politik Anies Baswedan, tak lepas dari peran JK.

Sebelum menceburkan diri ke politik praktis, Anies Baswedan dikenal sebagai cendekiawan muslim dan Rektor Universitas Paramadina. Ia pernah menjadi rektor termuda di Indonesia dan dikenal dengan gagasannya "Indonesia Mengajar".

Berbekal itu, Anies mencoba ikut konvensi  Calon Presiden Partai Demokrat Tahun 2014. Anies berkeliling Indonesia mempresentasikan gagasan kebangsaannya di hadapan kader-kader Partai Demokrat di seluruh tanah air.

Pada 16 Mei 2014, hasil survei Partai Demokrat dipresentasikan. Akhirnya disimpulkan , berdasar hasil survei peserta konvensi, tak ada yang bisa diusung. Elektabilitas Gubernur DKI, ketika itu dijabat Ir. Joko Widodo yang santer disebut akan bertarung sebagai Capres PDIP, masih jauh mengungguli survei peserta konvensi. Bersama Menteri BUMN era Presiden SBY, Dahlan Iskan, yang juga adalah peserta konvensi Capres, Anies Baswedan urung maju. Pun Partai Demokrat memilih netral di Pilpres 2014 dan tidak mengusung pasangan calon.

Setelah Jokowi berpasangan dengan JK sebagai Capres dan Cawapres, Anies bergabung dengan Tim Sukses Jokowi-JK dan ditunjuk sebagai Jubir Tim.

Sebenarnya, bergabungnya Anies ke Tim Jokowi-JK, ini berawal dari saran Husain Abdullah, orang dekat JK --Sekarang Jubir Wakil Presiden Jusuf Kalla, ke JK, agar mengajak Anies bergabung. Alasannya, saat mengikuti konvensi Capres Partai Demokrat, Anies memiliki gagasan cemerlang untuk bangsa dan negeri ini. "Selain itu dipercaya oleh masyarakat," kata Husain Abdullah.

Saat itu, salah satu Capres yang melawan Jokowi-JK adalah Prabowo Subianto berpasangan dengan Hatta Rajasa. Sebelumnya Prabowo menguasai panggung opini publik karena mahir berkomunikasi, sedangkan Jokowi, memiliki kekurangan, gagap dalam berkomunikasi.

Setelah bergabung, sebagai Jubir Tim Jokowi-JK, sindiran-sindiran dan argumentasi Anies terhadap Prabowo mampu meningkatkan  empati publik kepada Jokowi dan kemudian mengalahkan logika dan argumentasi Prabowo. Peran Anies sebagai Jubir, sangat handal mematikan argumentasi Prabowo.

Setelah Jokowi-JK memenangkan Pilpres dan Jadi Presiden dan Wakil Presiden RI 2014-2019, Anies bergabung ke dalam Kabinet Indonesia Hebat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Keberadaan Anies pun di Kabinet Jokowi-JK itu, tak terlepas dari usul JK

Setahun menjadi menteri, tiba-tiba Anies diresufle oleh Presiden Jokowi. 2016, Jokowi mengumumkan akan mengganti Menteri Pendidikan Anies Baswedan. Presiden mengabaikan opini publik yang menilai Anies adalah menteri yang memiliki kinerja yang baik.

Anies akhirnya tak punya job di pemerintahan. Ia kembali aktif di Indonesia mengajar. Ia juga tak paham, kenapa dirinya dicopot oleh Presiden. JK pun tak bisa berbuat apa-apa, karena urusan menteri adalah hak prerogatif Presiden, bukan kewenangan Wapres.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2