Novel

Ketulusan Cinta Saraswati dan Kisah Cinta Segitiga

2 Juli 2018   15:00 Diperbarui: 2 Juli 2018   15:03 503 0 0

Sebuah resensi novel karya A.A. Navis : Saraswati Si Gadis Dalam Sunyi

Saraswati juga ingin merasakan cinta, kasih-sayang dan diperlakukan sama seperti wanita sebagaimana semestinya.

A.A Navis dalam novel Saraswati Si Gadis Dalam Sunyimengajarkan kepada kita tentang rasa tulus, cinta, menyayangi, mengikhlaskan, perjuangan dan kegigihan.

Saraswati adalah seorang gadis desa bisu dan tuli yang tinggal di Jakarta karena, Orang tuanya merupakan pegawai pemerintah. Meskipun begitu, ia tidak ingin diperlakukan seperti gadis yang cacat dan mendapat perhatian khusus. Penderitaannya bertambah ketika  keluarganya tewas dalam kecelakaan mobil di bandung dan hanya menyisakan ia sebatang kara, seorang diri, dan ia seorang gadis.

Kemudian ia dibawa oleh pamannya ke kampung di padang panjang, segalanya terasa asing baginya, tempat baru, keluarga baru, dunia baru dan yang lebih penting dia bisu dan tuli. Ia bertemu dengan Busra dan Bisri anak Angah, begitu ia menyebut Pamannya. Busra memberikan perhatian lebih padanya, ia menyayanginya. Begitu juga dengan Saraswati ia nampak merasa nyaman ketika berada di dekat Busra. Keduanya mulai diselimuti benih-benih cinta.

Bisri juga diam-diam mencintai Saraswati, ketika pulang dari pendidikan militer, Bisri mencium dan memeluk Saraswati dari belakang, awalnya ia menolak namun ia merasakan sesuatu yang berbeda semenjak saat itu.

Novel ini memberikan kita sebuah arti cinta yang tulus, sakit hati, penghianatan sekaligus pergulatan cinta segitiga antara Saraswati dengan Busra dan Bisri. Dan dibumbui dengan konflik dua kubu militer yang berimbas kepada kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Dengan membaca Saraswati Si Gadis Dalam Sunyi, A.A Navis mencoba mengobrak-abrik pedalaman diri kita dengan alur yang dirangkai sedemikian  rupa, sehingga kita dapat merasakan pergulatan batin Sang tokoh utama.