Mohon tunggu...
Ajinatha
Ajinatha Mohon Tunggu... Professional

Pekerja seni

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Hilangnya Hak Golput untuk Menghujat

25 Maret 2019   08:12 Diperbarui: 25 Maret 2019   08:31 0 13 6 Mohon Tunggu...
Hilangnya Hak Golput untuk Menghujat
Foto: Detik.com

Dalam sebuah percakapan, kadang saya lebih cenderung mendengarkan esensi dari apa yang disampaikan, tidak sekedar larut dalam percakapan tersebut. Pikiran-pikiran yang sederhana dan realistis dari ungkapan yang jujur, lebih mengena dan tepat sasaran, karena tidak tendensius.

Semakin dekat waktu Pemilu, ternyata semakin kita tahu masih banyak orang yang ragu terhadap pilihannya, dan bahkan cenderung untuk tidak memilih. Memang hanya ada dua kandidat dalam Pemilu 2019 nanti, dan salah satu dari dua Pilihan tersebut harus kita pilih, mau tidak mau, atau suka tidak suka, karena pilihan tersebut akan sangat mempengaruhi masa depan kita, juga seperti apa Indonesia kedepannya.

Ada orang yang berpikir begini, 'siapapun yang kita pilih, nasib kita tidak akan berubah, tetap saja akan seperti biasanya, tapi pilihan kita tersebut akan sangat menentukan nasib bangsa ini kedepan, itulah yang membuat saya harus memilih salah satunya, yang benar-benar mau mengubah nasib bangsa ini, dan apa yang dilakukannya memang sudah membuat perubahan.'

Ini salah satu pemikiran yang sangat sederhana, namun esensinya jelas, alasannya untuk memilihpun cukup jelas dan realistis. Dalam memilih pemimpin memang bukan didasari oleh perasaan suka dan tidak suka, juga bukan atas dasar kepentingan kita sendiri, tapi lebih kepada kepentingan bangsa dan negara kedepan.

Dia sangat yakin bahwa, untuk mengubah nasib bangsa, sangat tergantung bagaimana pola pikir dalam memilih seorang pemimpin. Tuhan mengubah nasib suatu kaum tergantung bagaimana ikhtiar suatu kaum untuk mengubahnya, salah ikhtiarnya maka salah pula hasilnya.

Lantas muncul pertanyaan, seperti apa pemimpin yang baik, yang bisa mengubah nasib bangsa ini, agar ikhtiar kita untuk mengubah nasib bangsa ini tidak salah.? Yang jelas tetap memilih, tidak mengabaikan hak pilih. Satu dari dua Pilihan yang ada, pastinya memiliki program yang realistis, yang sangat mungkin bisa direalisasikan.

Itu adalah hal yang terpenting, bukan cuma sekedar program, bukan pula sekedar janji politik, tapi program yang memang sesuai dengan kebutuhan bangsa ini kedepan. Kemudahan berbagai akses untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan bangsa ini, adalah hal yang terpenting, bukanlah berupa subsidi, tapi adalah hak yang memang harus diberikan.

Sederhananya, kita coba bandingkan apa yang kita hadapi dimasa lalu, dengan apa yang kita rasakan dimasa kini, apa saja yang membuat kita menjadi terasa mudah dalam mengakses apa yang kita butuhkan. Dulu kalau sakit kita merasa terbebani oleh biaya rumah sakit, sekarang kita tidak lagi dihantui oleh biaya rumah sakit.

Begitu juga dalam hal pendidikan, begitu banyak biaya pendidikan dimasa lalu yang sangat sulit kita penuhi, tapi sekarang kita tidak lagi terlalu banyak dibebani oleh biaya pendidikan, Karena sebagian besar sudah ditanggulangi oleh Pemerintah. 

Memang tidak semua sudah merasakan manfaatnya, namun sudah ada usaha untuk mengurangi beban masyarakat.
Nah kedepan, jelas kita harus memilih pemimpin yang benar-benar peduli terhadap kebutuhan yang akan kita hadapi dimasa datang. Kebutuhan akan semakin banyak, namun kemudahan untuk menanggulangi kebutuhan tersebutpun harus tersedia. Siapa diantara calon pemimpin tersebut yang programnya memberikan kemudahan tersebut, itulah yang menjadi pilihan.

Memilih Presiden itu bukan cuma hak, tapi adalah juga kewajiban sebagai warga negara. Jangan sampai tidak memilih tapi menghujat pemimpin yang terpilih. Sudahlah tidak berpartisipasi, tapi malah menuntut hak sebagai warga negara, ketika ada pemilihan Presiden malah memilih untuk Golput.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2