Humaniora Pilihan

Semua Orang Bisa Menulis

16 Maret 2017   15:32 Diperbarui: 16 Maret 2017   15:49 307 11 9
Semua Orang Bisa Menulis
dokumentasi pribadi

Ketika saya memulai tulisan ini, anggap saja merupakan sebuah motivasi bagi diri saya sendiri bahwa berangkat dari ketertarikan dan keinginan terpendam. Selama ini saya hanya menulis bagi diri sendiri, belum pernah saya mencoba untuk mempublikasikan tulisan ke media. Tapi ketika saya mengikuti pelatihan menulis beberapa minggu yang lalu, rasa itu mulai bergejolak kembali. 

Tatkala menyimak dan mengikuti alur yang dihantarkan Bang Thamrin Sonata dan Bang Isson Khairul. Inspirasi tentang menulis begitu berhamburan bagai sekumpulan bulu-bulu angsa yang berdesakan dalam karung bantal terbuka jahitannya. Bahwa semua orang bisa menulis apapun, dimanapun dan kapanpun.

Tulisan pertama saya ini, hanya ingin mengejawantahkan mutiara kata-kata yang menjadi kunci dan inspirasi bagi pemula seperti saya. Setidaknya dengan keajaiban kata-kata ini, menjadi salah satu energi saya untuk melanjutkan tulisan ini. Saya mencoba mengartikulasikan kata kunci yang mengalir diungkapkan oleh dua orang trainer menulis senior tersebut dengan bahasa saya.

Menulis butuh berfantasi, meskipun kita tidak pernah melakukan suatu pekerjaan. Tetapi jika kita selalu memainkan imajinasi kita dan fokus terhadap pekerjaan itu, kemudian menuliskan imajinasi itu, dan banyak orang yang membaca tulisan kita. Maka bisa jadi kita dianggap sebagai ahli dalam pekerjaan tersebut. Betapa kekuatan kata-kata dapat menyulap seseorang yang tidak dapat melakukan apapun, menjadi seorang ahli meski tidak pernah melakukannya. Oleh karena itu, tidak selalu hal yang kita tulis, dapat kita lakukan dan dapat diwujudkan. Sehingga, dalam menulis membutuhkan kemerdekaan dalam berpikir dan berimajinasi.

Peristiwa dapat diciptakan dengan menulis. Ketika seseorang dapat mengungkapkan ide-idenya, maka sebenarnya ia sedang menciptakan sebuah peristiwa. Imajinasi yang berkembang dalam pikiran penulis bisa memberikan gambaran sebuah peristiwa yang mungkin dia tidak pernah mengalaminya. Menghantarkan pembacanya untuk segera melakukan aksi untuk mewujudkan peristiwa yang dia usung. Karena pembaca yang membaca idenya mungkin mempunyai inspirasi untuk mewujudkan apa yang ada dalam pikiran penulis.

Seorang penulis merupakan raja atas kata-katanya. Dia bisa memerintah kata-kata yang dia keluarkan dan menentukan arah tentang tujuan kalimat yang disusunnya. Dia juga dapat memanipulasi makna kata-kata yang ditulisnya menjadi sebuah kalimat yang berjuta makna. Pembaca dengan sudut pandang serta latar belakang kehidupan dan pendidikan yang berbeda, seakan terbawa perintah sang penulis untuk mengikuti arah pikirannya. Maka tidaklah heran jika ada seorang penulis bisa mempunyai banyak pengagum juga pengikut.

Menulis itu tidak sesederhana yang dibayangkan, ada proses kreatif di dalamnya. Proses kreatif dapat kita peroleh melalui berbagai aktivitas, membaca, meneliti, bermain, mendengar sesuatu, berkunjung pada suatu tempat, berdiskusi dengan orang terdekat, bahkan dapat menjadi bagian dari suatu peristiwa. Proses kreatif selanjutnya adalah bagaimana kita dapat menuangkan ide-ide kita. Menulis membutuhkan waktu untuk merangkai kata-katanya dari berbagai hal yang dialaminya. Sehingga apa yang ingin kita tahu harus melalui sebuah proses kreatif meskipun dari hal-hal yang sederhana. Proses kreatif itu pula yang menghantarkan kita sebagai subjek pendidikan selama proses penulisan itu berlangsung.

Menulis itu bukan bakat dan tidak ada teknik khusus. Menulis itu ya menulis, seolah seperti gerakan refleks, dimana saraf sumsum tulang belakang begitu saja menggerakkan tangan dan pikiran kita untuk menulis. Seperti halnya kita melempar sebuah gelang karet agar masuk ke dalam batang botol minuman. Tidak cukup satu kali untuk memasukkannya, itu membutuhkan latihan, sehingga selama proses latihan itu akan diperoleh suatu pola yang baik bagaimana agar gelang karet itu dapat masuk kedalam botol. Begitu juga dalam menulis, tidak cukup satu kali kita menulis. Tapi membutuhkan sekian banyak latihan untuk mengolah. Teknik menulis akan muncul dengan sendirinya ketika kita sering melatih diri untuk menajamkan intuisi dan sense dalam menulis.

Menulis secara ekperimetal membutuhkan pertarungannya sendiri. Kadangkala, kita membutuhkan berbagai informasi yang mumpuni untuk memulai dan mengeksplorasi sebuah tulisan. Karena menulis itu butuh dasar buah pikiran, dasar pemikiran mestinya berasal dari berbagai sumber. Sehingga proses penyusunannya tidak hanya sampai pada satu sumber saja. Bahkan sebagai penulis, memerlukan eksplorasi diri untuk bereksperimen dan pelaku peristiwa. Sehingga tulisannya mempunyai nilai dan makna tersendiri.

Kemerdekaan berpikir merupakan pemicu untuk menulis. Tanpa mempertimbangkan berbagai aspek yang ada di sekeliling, akan menghidupkan imajinasi dari berbagai lini agar senantiasa terus mengalir bagai air. Pada akhirnya,untaian kata-kata menghasilkan untaian kalimat, mewujudkan bagian-bagian paragraf bak hujan deras mengalir. Seringkali saat kita memulai menulis, pikiran kita terperkosa dengan pilihan-pilihan kata dan berbagai aturan penulisan. Sehingga, berat rasanya untuk memulai sebuah kalimat. Namun ketika kita coba membebaskan belenggu pikiran kita, dan membuka penjara kata di slide memori otak kita. Tak terasa, kata-kata itu berhamburan dengan bebas.

Menulis juga merupakan cermin masa lalu. Menulis dapat berasal dari pembacaan dan wacana yang dia peroleh dari kejadian yang lalu. Seperti halnya kompasioner Aloysius memulai ceritanya dengan kalimat “Seperempat abad silam, Iwan Fals sudah jeli melihat tanda-tanda zaman” (Kompasiana, 23/02/201). Sebuah awal tulisan yang menggelitik hati untuk terus mengikuti alurnya. Dengan mengumpulkan informasi di masa lalu kemudian membandingkannya dengan masa kini, maka kemasan tulisan akan tertuang dengan apik dan lugas.

Menulis merupakan proses berpikir tingkat tinggi. Tanpa sadar, ketika kita mendeskripsikan suatu kejadian, suatu benda, seseorang, maupun suatu tempat dalam bentuk tulisan. Kita sedang menerapkan gaya berpikir tingkat tinggi. Bukanlah hal mudah, manakala orang yang membaca tulisan kita, sehingga mereka dapat membayangkan apa yang kita tuliskan. Betapa tidak, karena ada proses berpikir tingkat tinggi di dalamnya. Analisa yang mendalam terhadap data dan fakta yang terbuka dalam imajinasi seorang penulis, menuntut kepiawaian untuk mengapresiasikan datanya dalam kalimat-kalimat yang dapat dipahami oleh para pembaca.

Penulis hidup dengan keresahannya. Keresahan itu merupakan sumber inspirasi seorang penulis untuk menuangkan idenya. Seorang penulis yang produktif, selalu mencari keresahan sebagai sumber inspirasinya untuk menulis. Bahkan bisa dikatakan, eksistensi seorang sudah tak ada manakala dia sudah tidak merasakan keresahan lagi. 

Karena dalam keresahan itulah, muncul berbagai pertanyaan dan permasalahan yang harus dicari solusinya. Keresahan akan terus berlanjut, jika kemudian solusi dari permasalahan tersebut mendapat tanggapan yang berbeda dari pembacanya. Sering kali sebuah artikel yang termuat pada sebuah media, menjadi bahan polemik yang berkepanjangan. Ada interaksi dialogis di dalamnya, antara yang mendukung pendapat penulis dengan yang kontra terhadap tulisannnya. Tentu saja ini membutuhkan proses literasi yang panjang.

Menulis tentang inspirasi menulis tentunya tidak akan habisnya. Akhirnya semuanya bermuara pada keinginan seorang penulis. Menulis harus dengan hati, tak ada keterpaksaan dan tak ada kewajiban. Apa yang terpikirkan, apa yang terbersit dalam benak, dan apa yang hendak terucap, akan terasa mebludak dalam tulisan jika kita mengasah jiwa menulis kita. Bahwa semua orang bisa menulis adalah sesuatu yang sangat mungkin. Kuncinya hanya terletak pada itikad kita untuk menjadikan menulis sebagai sebuah kesadaran diri. Jika menulis lebih diasumsikan pada tugas dan kewajiban, maka tulisan itu tak berjiwa. Sehingga tulisan menjadi datar dan gahar. Maka marilah kita menulis dengan hati, karena semua orang bisa menulis.

Penulis adalah Pengajar di SMPN 1 Cipanas dan anggota di KPLJ