Mohon tunggu...
Ai Hikmawati
Ai Hikmawati Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Dolanan Sarat Makna, ke Manakah Kalian?

17 Maret 2017   19:09 Diperbarui: 17 Maret 2017   19:19 621
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dalam sebuah acara workshop, seorang trainer meminta para pesertanya untuk memasukkan lima buah gelang karet ke leher botol. Satu persatu peserta mencoba larut dalam permainan memasukkan karet gelang ke dalam leher botol. Ada yang berhasil dalam satu sessi pelemparan (satu sessi terdiri dari lima kali lemparan), ada yang berhasil dalam sessi ulang, namun lebih banyak yang tidak berhasil meski mengulang dalam sessi pelemparan berikutnya. Sekilas nampaknya mudah-mudah saja melemparkan karet gelang ini. Akan tetapi, bila kita coba dan melakukannya maka yang terjadi adalah kegagalan dan kekecewaan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkinkah ada kesempatan bagi kita bisa berhasil dalam permainan ini?

Setidaknya, ada beberapa kesan menarik saat mengamati dan melibatkan diri menjadi bagian dari permainan ini. Tidak hanya dari aspek permainan gelang karet itu yang mengingatkan kita pada salah satu permainan tradisional di negeri ini yang nyaris tak bisa kita temui lagi dalam kehidupan generasi saat ini. Melainkan bahwa, permainan karet gelang ini mengajarkan kita beberapa hal yang sekilas nampak sepele namun lekat dengan kepribadian dan peran kita dalam kehidupan ini.

Permainan karet gelang ini mengingatkan memoar kita pada permainan tradisional dua puluh lima tahun yang lalu tentang berbagai permainan yang menggunakan bahan dasar gelang karet atau semacamnya antara lain kobak, cutik, lompat tali, jepretan, bandring, bongkar pasang karet, sulap karet, dan lain sebagainya. Betapa permainan-permainan itu menjadi booming di jamannya. 

Setidaknya menjelang akhir tahun 90-an, perainan ini masih digandrungi. Anak-anak begitu bersuka cita saat bermain dengan karet mereka. Bagaimana tidak? karena semua kalangan anak dapat dengan mudah memainkannya tanpa mengenal golongan dan kasta, tanpa harus merasa kesulitan bagaimana membelinya, tanpa harus resah karena kehabisan batere, bahkan tanpa  harus takut kotor dan tidak bersih.

Permainan tradisional mengajarkan kita untuk senantiasa menempatan diri sebagai mahluk sosial. Dimana, hampir setiap dolanan teknik permainannya berbasis tim. Membutuhkan kesigapan anggota kelompok agar dalam setiap sessinya dapat dimenangkan. Dalam prosesnya, kita diajarkan bagaimana melakukan kerjasama, berkomunikasi, berkoordinasi dan berkolaborasi dalam sebuah rangkaian aturan yang disepakati bersama. Dalam kehidupan ini, kita dituntut untuk selalu memainkan peran sosial saat kita berhubungan dengan orang lain. Memberikan kontribusi positif dan menerima berbagai masukan yang konstruktif dalam setiap episode kehidupan kita sehingga hidup ini memberi arti dan makna yang lebih.

Dalam setiap permainan itu, ada aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh setiap pemainnya. Jika salah seorang pemain menyalahi kesepakatan aturan, maka pemain lain tidak segan-segan akan mengingatkan. Hal ini tentu saja menyiratkan pesan moral yang sudah dipahami bahwa dalam kehidupan ini, selalu ada aturan dan norma yang berlaku, yang harus dipahai dan dipatuhi terutama dalam perannya sebagai mahluk sosial. 

Bila seseorang melakukan kesalahan maka sudah kewajiban orang yang ada di sekitarnya untuk mengingatkan dan mencegah agar kesalahan itu tidak terjadi. Dalam  agamapun, ada perintah untuk selalu tolong menolong dalam kebaikan dan saling mencegah dari kemungkaran. Bahkan, Tuhan menempatkan golongan orang yang selalu melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah sebagai sebaik-baiknya manusia.

Dalam memainkan perannya, pelaku dolanan dituntut untuk bersikap terbuka dalam melihat perbedaan dan persamaan. Sebagai contoh adalah permainan galah yang menuntut kecepatan menangkap lawan dan mempertahankan diri. Setiap individu mempunyai teknik tersendiri dalam menyikapi aturan mainnya, dan lawan main harus menerimanya sepanjang tidak menyalahi aturan main. Dalam memainkan dolanan, setiap pemain berhak memperoleh hak yang sama untuk mendapatkan kesempatan menang tanpa harus memandang golongan atau dari kasta mana seorang pemain berasal. Artinya, seyogyanyalah sebagai manusia kita tidak perlu mempermasalahkan latar belakang trah atau asal muasal kita ini lahir kedunia.

Dolanan tradisional menuntut kelegawaan kita untuk menerima kekalahan. Tentu saja dalam setiap permainan ada yang menang dan ada juga pihak yang kalah. Semua pemain mempunyai hak yang sama untuk menang dan kalah. Tidak mengenal darimana dan siapa pemain yang terlibat, siapa yang unggul itulah yang menang. Pemain yang kalah tidak harus jadi gontok-gontokkan dan kasak kusuk dengan kekalahannya.

Kreatifitas tinggi dan teknik bermain juga dituntut dalam permainan tradisional. Ambil saja contoh permainan sondah, selain dituntut untuk membuat medan sondah agar menarik, teknik pemilihan gundu agar tepat sasaran juga diperlukan untuk memenangkan permainan. Dengan peralatan yang bisa didapatkan di alam, apapun jadi bahan permainan. Ah indahnya massa kecil dulu, coba saja bandingkan dengan masa kecil generasi saat ini yang hanya berkutat dengan tuts huruf dan layar sentuh dalam genggaman mereka.

Kini aneka permainan itu nampaknya sekarang sudah tak ada lagi, seolah lenyap di telan bumi. Generasi millenium nampaknya kehilangan jejak dengan permaianan yang penuh makna ini. Mereka lebih tertarik dengan berbagai aksi permainan digital meski mahal. Lalu, mengapa kita tidak peduli dengan keadaan ini ? Sebegitu sibuknyakah kita dengan perangkat gadget yang kita miliki hingga melupakan dolanan itu ?. Setidaknya generasi yang sedang menjalani puncak produktifnya saat ini adalah generasi era 80 sampai 90 an. Mereka adalah generasi yang pernah mengenyam warna warninya permainan masa kecinya. Namun mmata rantai batas kepunahan berbagai permainan ini nampaknya belum ditemukan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun