Mohon tunggu...
Agustinus Wahyono
Agustinus Wahyono Mohon Tunggu... Arsitek - Penganggur

Warga Balikpapan, Kaltim sejak 2009; asalnya Kampung Sri Pemandang Atas, Sungailiat, Bangka, Babel, dan pernah belasan tahun tinggal di Yogyakarta (Pengok/Langensari, dan Babarsari). Buku tunggalnya, salah satunya adalah "Belum Banyak Berbuat Apa untuk Indonesia" (2018) yang berisi artikel non-fiksi dan berstempel "Artikel Utama" di Kompasiana. Posel : agustinuswahyono@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Mengenal Isak, Sang Penggali Tanah Berbatu Karang

11 Juni 2019   01:10 Diperbarui: 11 Juni 2019   14:26 345 8 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Di bawah matahari pkl. 11.00-an WITA pada kemarau Juni Pak Isak menggali tanah untuk sebuah bak penampungan air bersih berkapasitas 7000 liter. Ia mulai menggali sejak tiga hari lalu.

Tanah berisi batu karang adalah kondisi alami di sebagian wilayah Kupang, NTT. Di sana cangkul akan mengalami kesulitan hingga kepahitan tiada tara. Berbeda dengan sebagian permukaan tanah di Jawa, Bangka, Kalimantan,dan lain-lain, dimana cangkul selalu mendapat peran utama dalam penggalian.

Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Penggalian yang rata-rata berkedalaman dua meter itu ditekuni oleh bapak kelahiran So'e, Kab. Timor Tengah Selatan (TTS), NTT, 26 September 1971 ini sejak 2009. Dari satu daerah ke daerah lainnya di seputaran Kupang. Ia seorang diri saja.

Untuk wilayah yang sedang digalinya, yaitu sebuah kawasan perumahan bersubsidi, baru dimulai sejak 2018. Belasan lubang dihasilkan oleh tamatan SMA jurusan A2 (Biologi) sebuah SMA Kristen ini, dan rata-rata untuk kapasitas 7000 liter.

Pekerjaan itu pun, katanya, hanya iseng. Sebelumnya ia bekerja sebagai sopir dengan mengantongi SIM B1. Karena sekian waktu tidak ada panggilan untuk menyopiri sebuah truk bahkan minibus, ia beralih ke penggalian.

Ya, apalah artinya sebuah panggilan yang ditunggu sampai ke rumahnya di dekat pabrik semen "Kupang", Tenau jika kebutuhan keluarga dengan empat anak tidaklah bisa ditunggu-tunggu. Anak sulungnya sudah duduk di bangku SMA, dan bungsu baru berumur satu tahun.

Dengan bekal alat kerja berupa linggis, palu, pahat batu, pembelah batu, dan sekop ia tidak pernah kehabisan konsumen. Selalu saja ada panggilan penggalian, karena hasil kerjanya rapi, dan ia selalu menerima harga negosiasi dengan calon konsumennya.

Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Di wilayah perumahan sangat sederhana itu memang selalu mengalami kesulitan air bersih. Air yang mengucur dari pipa galvanis dari PDAM dua kali dalam satu minggu. Itu pun total airnya sekitar 800-1000 liter saja. Belum dengan bonusnya berupa sedikit keruh atau berkarat.

Tak pelak para penghuninya berlangganan air bersih dari mobil tangki air bersih berkapasitas 5000 liter. Di sana 5000 liter harganya Rp70.000. Dan, mau-tidak mau, rumah mereka harus memiliki bak penampungan air bersih berkapasitas 7000 liter, selain tandon jika menambahi bangunan dengan menara penumpunya.

Untuk jasa penggalian, ia mematok harga Rp2.500.000 per lubang. Sementara sebagian kompetitornya yang berusia jauh lebih muda mematok harga Rp3.000.000 per galian, bahkan Rp6.000.000 dengan pembuatan bak penampung air bersih bawah tanah.

Setiap pekerjaan galian diselesaikannya dalam waktu yang berbeda-beda. Semuanya tergantung pada kandungan batu karang di balik permukaan tanah. Ya, seolah sedang "berjudi" alias "nasib-nasiban".

Ada kalanya satu penggalian diselesaikannya dalam kurun waktu empat-lima hari. Kalau dalam satu bulan ia menggarap empat lubang, tentu saja, Rp10.000.000 bisa terkumpul.

Apa? Rp10 juta per bulan? Ya, kalau ia beruntung mendapatkan tanah dengan sedikit kandungan batu karang, satu bulan bisa sampai segitu hasilnya. Akan tetapi, ada pula satu lubang terselesaikan sampai tiga minggu.  

Pak Isak tidak pernah mengeluh jika sedang mendapatkan tanah berbatu karang yang cukup banyak. Tidak juga dibantu oleh sebuah alat kerja elektrikal semacam breaker (jack hammer) atau seorang rekan yang masih bertenaga besar. Ia selalu berangkat-pulang sendiri dengan sebuah tas ransel dan hanya berjalan kaki. Rumahnya berjarak sekitar tiga kilometer dari tempatnya menggali rezeki.

Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Ia sangat menikmati pekerjaan isengnya tanpa suka banyak omong. Sendiri, menggali, sunyi, tetapi mudah tersenyum jika diajak ngobrol dengan santai. Ia tidak merokok, dan tidak suka minum minuman keras (tidak seperti kebiasaan orang-orang di sekitarnya).

Matahari semakin mengganas. Saatnya ia akan menikmati bekal makan siang yang dibawa dari rumah.

Kupang, 10 Juni 2019

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan