Agustinus Wahyono
Agustinus Wahyono Penganggur

Warga Balikpapan, Kaltim, tapi bukan siapa-siapa sejak menjadi "Taruna" (29 Maret 2018). Tidak tertarik pada uang dari K-rewards, meski dia masih tergolong dalam kaum melarat (https://www.kompasiana.com/agustinuswahyono/5bd813cbaeebe115571e1586/konsistenitas-dalam-titik-terendah-dari-sebuah-keterbatasan). Bukunya: kumpulan cerpen "Gadis yang Mengendarai Ombak" dan "Aku Ingin Menjadi Malam" (http://guepedia.com/penulis/agustinus-wahyono/).

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Mengintip Manuver Yusril Merapat ke Jokowi

7 November 2018   20:30 Diperbarui: 9 November 2018   11:40 1220 4 2
Mengintip Manuver Yusril Merapat ke Jokowi
Yusril Ihza Mahendra, saat wawancara di kantor redaksi Kompas.com, Jakarta, Selasa (5/4/2015). (KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO)

Tidak ada yang luar biasa dalam dinamika politik praktis jika tokoh yang berseberangan kemudian bisa berdekatan bahkan merapat untuk sebuah hajatan bernama "Pemilu". Demikian pula dengan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH., M.Sc. (YIM) pada Senin, 5/11/2018 yang merapat ke kubu nomor 01, Joko Widodo-Ma'ruf Amien, sebagai pengacara.

Berseberangannya YIM-Jokowi yang paling mencolok adalah ketika YIM menjadi pengacara dalam tim kuasa hukum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pada Selasa, 23/5/2018.

“Saya rasa ini tugas mulia diamanahi kepada kami dan kami juga dengan ikhlas membantu beliau-beliau. Sebagai saudara sesama muslim kewajiban kami saling membantu. Orang bukan Muslim pun kalau dizalimi wajib kami membelanya. Apalagi sesama Muslim,” ujar YIM waktu itu dalam konferensi pers di 88 Kasablanka Office Tower, Tebet, Jakarta Selatan.

HTI resmi dibubarkan oleh pemerintah pada rabu, 19/7/2017, berdasarkan pencabutan status hukumnya melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor AHU-30.AH.01.08 tahun 2017 tentang pencabutan Keputusan Menteri Hukum dan HAM nomor AHU-0028.60.10.2014 tentang pengesahan pendirian badan hukum perkumpulan HTI. Pembubaran itu pun sesuai dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 yang mengubah UU Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan.

Sedangkan pada Selasa, 8/5/2018, ketua umum Partai Bulan Bintang (PBB) itu pun mempersilakan mantan anggota HTI menjadi kader PBB. Yusril siap memfasilitasi eks anggota HTI apabila bergabung dengan partainya. Bahkan Yusril siap mengakomodir mantan anggota HTI yang ingin maju menjadi calon legislatif (caleg). Yusril mengakui ada beberapa mantan anggota HTI yang mendaftar menjadi caleg.

"Kalau kemudian orang-orangnya bergabung dan mendukung PBB, jadi ya tidak masalah," katanya di kantor HTI, Crown Palace Tebet, Jakarta Selatan.

Di samping itu YIM sudah menyatakan sikap berseberangnya dengan Jokowi. "Sikap kami juga kepada Pak Jokowi tegas mengatakan bahwa PBB tidak akan mendukung Pak Jokowi," tegasnya pada Senin, 16/4, di Kantor Bareskrim Mabes Polri di gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat.

Dalam kontestasi Pilpres 2019 antara YIM dan Jokowi sempat "akan" berseberangan lagi, meski baru sebatas rekomendasi internal PBB. Hasil Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) PBB di Jakarta, Minggu, 6/5/2018 yang diselenggaran selama tiga, salah satunya adalah merekomendasikan YIM sebagai calon presiden atau wakil presiden pada Pemilu 2019.

Jauh tahun atau pasca-Pilpres 2014, YIM merapat ke kubu Prabowo-Hata Rajasa. YIM dipercaya oleh Prabowo-Hatta untuk memberi keterangan sebagai ahli dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi (MK) karena Prabowo Subianto-Hatta Rajasa tidak mau menerima hasil pilpres yang dimenangkan oleh Jokowi-Jusuf Kalla.

Sekilas tentang YIM, PBB dan Calon Presiden

Sebagian orang Indonesia mengetahui, YIM bukanlah pendatang baru dalam politik praktis Indonesia. Konon, YIM salah seorang penulis pidato-pidato Presiden Soeharto. Yang bukan konon, pakar Hukum Tata Negara ini pernah menjadi menteri di era rezim lainnya.

Di era rezim Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, YIM menjabat Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Indonesia (1999-2001). Di era rezim Megawati, YIM menjabat Menteri Hukum dan Perundang-undangan Indonesia (2001-2004). Di era rezim Soesilo Bambang Yudhoyono, YIM menjabat Menteri Sekretaris Negara (2004-2007).

Pada Pemilu 1999 YIM maju sebagai calon presiden (capres), dimana kompetitornya pada waktu itu adalah Gus Dur dan Megawati. Waktu itu Amien Rais menjabat sebagai Ketua MPR RI 1999-2004, dan pilpres dilakukan oleh DPR dan MPR.

Hasilnya, YIM kalah. Kekalahan itu meninggalkan catatan "buruk" bagi YIM terhadap Amien Rais, dan rekam jejak dusta itu tersiar di CNN.Com edisi 3/3/2018.

"Saya sudah sering mengatakan Amien Rais itu berdusta. Sampai hari ini Amien Rais tidak berani men-challenge omongan saya tidak benar. Itu fakta sejarah," ucapnya di kantor Bawaslu, Jakarta, Jumat (2/3).

YIM juga penggagas dan pendiri PBB, yang mana PBB resmi berdiri pada 17 Juli 1998. Ia menjabat ketua umum PBB sejak 1998 s.d. 2004, dan pada 26 April 2015 terpilih kembali. PBB atau kepanjangannya sering diplesetkan sebagai "Provinsi Bangka Belitung" itu memang rutin menjadi peserta pemilu (1999, 2004, 2009, dan 2014).

Tentunya tidak mudah menghidupi sebuah partai, apalagi kini berusia 20 tahun. Bukan berita langka jika ada partai yang "wajib" dihidupi oleh kontestan terpilih dalam suatu pilkada yang akhirnya menyeret si kontestan terpilih ke penjara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), semisal mantan Gubernur Jambi 2016-2021.

Pemilu 2019 PBB menjadi peserta lagi dengan nomor 19 dari total 20 partai. Ke-20 partai peserta Pemilu 2019 adalah PKB, Gerindra, PDIP, Golkar, NasDem, Partai Garuda, Partai Berkarya, PKS, Perindo, PPP, PSI, PAN, Hanura, Demokrat, Partai Aceh, Partai Sira (Aceh), Partai Daerah Aceh, Partai Nanggroe Aceh, PBB, dan PKPI.

"Pada hari ini, Selasa, tanggal 6 bulan Maret 2018, bertempat di kantor KPU, KPU telah melakukan rapat pleno tanggal 4 Maret 2018, menetapkan Partai Bulan Bintang sebagai partai peserta Pemilu 2019," ujar komisioner KPU Evi Novida Ginting Manik di kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Selasa (6/3/2018).

YIM, Jokowi, dan Ahok

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4