Mohon tunggu...
Agustina Purwantini
Agustina Purwantini Mohon Tunggu... Freelancer - Sang Pembelajar

Pengelola www.tinbejogja.com

Selanjutnya

Tutup

Diary Artikel Utama

Akhirnya Sore Itu Saya Berkesempatan Melihat (Jenazah) Buya Syafii

28 Mei 2022   23:54 Diperbarui: 29 Mei 2022   01:30 1017 32 12
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun


Disclaimer:

Tulisan ini hanyalah curahan perasaan atas pengalaman pribadi selaku orang biasa yang sebiasa-biasanya. Yang kurang beruntung sebab hingga akhir hayat Buya Syafii, tidak kunjung punya akses untuk sekadar melihat beliau secara langsung meskipun ingin sekali.

***
Begitu membaca informasi bahwa jenazah Buya Syafii akan disemayamkan sementara di Masjid Gedhe Kauman, saya segera berkirim pesan WA kepada seorang teman yang sebelumnya mengajak makan siang.

"Maaf. Aku enggak jadi ikutan maksi. Mau takziah Buya di Masjid Gedhe. Aku harus takziah."

"Takziah Buya? Buya Ahmad Syafii Maarif?"

"Iya."

"Haaah?! Innalillahi wainna ilaihi rojiuun. Aku sediiih. Kapan meninggalnya, Mbak?"

"10.15 WIB. Kurleb setengah jam lalu."

O la la! Rupanya teman saya belum tahu kabar duka itu. Saya juga tidak tahu kalau ia merupakan pengagum berat Buya Syafii. Jadi, tidak secara khusus mengabarinya. 

Andai kata tak berkirim pesan WA untuk membatalkan janjian kami, saya kemungkinan besar tak bakalan mengabarinya.

"Aku pingin takziah juga. Terbuka untuk umum gak ya?"

"Lebih baik kamu nyamperin aku. Berangkat dari rumahku. Pasti boleh. 'Kan itungannya sebagai warga sekitar."

"Eh, Mbak, tapi aku perlu makan dulu. Belum makan sejak semalam. Dimakamkan jam berapa, ya?"

"Info di WAG kampung, jelang Jumatan sampai Asar disemayamkan di Masjid Gedhe. Berarti pemakaman setelah salat Asar. Eh, tunggu. Aku cek lagi. Jangan-jangan pemakaman selepas Jumatan?"

Setelah sekali lagi cek ricek, saya segera berkabar.

"Pemakaman setelah salat Asar. Berarti kamu bisa makan siang dulu, baru ke tempatku. Jam dua, ya. Jangan mepet-mepet Asar. Kita ke masjid sebelum azan." 

Ketika jarum jam menunjukkan pukul 14.00 WIB saya mulai waswas. Teman saya belum datang! 

Bisa gawat kalau ia datang bersamaan azan Asar. Dijamin kami bakalan susah cari tempat. Terlebih yang hendak diantarkan ke pemakaman adalah seorang Buya Syafii. Pasti yang melayat dan hendak menyalatkan jenazah beliau banyak sekali.

Syukurlah ia muncul sebelum setengah tiga. Dengan tergopoh-gopoh dan terlihat kecapekan. 

Usut punya usut, saat hendak ke warung makan dan selepas makan ia terjebak kemacetan. Lebih dari itu, ia syok karena seorang ibu yang naik motor di belakangnya mengalami kecelakaan tunggal di tengah kemacetan. Olaaah. Pantesan.

Kebetulan rute jalan yang dilewatinya sedang dipadati para siswa Muallimat Muhammadiyah yang menuju Masjid Gedhe Kauman. Mereka juga akan takziah Buya Syafii.

Setelah teman saya ngadem sejenak, kami cepat-cepat bersiap. Alhasil 15 menit jelang azan Asar, kami sudah melangkah menuju Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.

Situasi jalan kampung yang sepi membuat teman saya ragu meneruskan langkah. Ia khawatir bahwa kami terlalu awal berangkat. Bahkan mukena yang semula dipakai sejak dari rumah, ia lepas lagi.

Saya ketawa kecil dan berkata, "Kita berangkatnya pas. Sebelum azan, kayak biasanya kalau hendak takziah di Masjid Gedhe. Jangan-jangan orang-orang kampung sini sudah berangkat sedari tadi."

Akan tetapi, ia kurang percaya penjelasan saya selaku warga lokal. Buktinya, ia memperlambat langkah dan malah mengeluarkan HP untuk memotret suatu objek yang menarik perhatiannya.

Tiba-tiba terdengar pengumuman dari masjid. Isinya, hadirin yang hendak menunaikan salat Asar dipersilakan segera berwudu karena 3 menit lagi azan.
Spontan teman saya memakai kembali mukenanya dan kami kemudian setengah berlari menuju masjid.

Semula saya lega sebab melihat suasana halaman samping dan tempat wudu pria tidak terlalu padat. Namun, begitu lepas sandal dan hendak masuk ruangan, kelegaan saya sirna. 

Kami terhenti di ambang pintu samping ruangan utama masjid. Di dalam padat sekali. Rasanya susah untuk menyibak kerumunan jamaah pria di situ. Terlebih dalam kondisi sudah berwudu.

Saya celingukan mencari solusi. Sementara teman saya hanya bisa pasrah melihat pemandunya bingung. Ujungnya saya ajak ia lewat bagian depan. Sedikit memutar memang.

Untunglah di bagian serambi, meskipun penuh jamaah pria juga, kondisinya tak sepadat ruangan utama. Aman. Terlebih ada seseorang yang berteriak, "Beri jalan, beri jalan."

Alhamdulillah. Walaupun lumayan susah payah, kami bisa sampai di shaf wanita. 

Akan tetapi, saya heran. Orang-orang yang kami lewati tadi kok berbaris rapi, berdiri di sepanjang pinggiran pintu utama ruang salat?

Sempat saya berpikir mereka menunggu kedatangan jenazah Buya Syafii. Namun, bukankah jenazah beliau telah disemayamkan di ruangan dalam sejak jelang Jumatan?

Rasa heran tak saya turutkan karena kemudian kami sibuk mencari posisi buat salat. Ternyata tak ada tempat yang muat berjejeran. Teman saya mendapatkan tempat duluan.

Saya masih berdiri mencari-cari ketika orang-orang mendadak heboh. Barisan yang berdiri kian banyak. Yang semula duduk, kemudian banyak yang berdiri. Saya kepo, dong. Ada apa?

Setelah tahu kalau mereka heboh karena Presiden Jokowi telah tiba, saya kaget campur senang. Lalu, otomatis bergabung di barisan yang sedari tadi antusias berdiri menanti.

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Siapa yang menyangka bahwa sore itu keinginan saya untuk melihat Pak Jokowi secara langsung bisa terwujud?

Dari rumah niat saya lillahi ta'ala untuk mengikuti prosesi pelepasan jenazah Buya Syafii ke peristirahatan terakhir. Sama sekali tak tahu kalau Presiden RI akan hadir.

Alhamdulillah. Dengan demikian, niat saya datang takziah terjaga. Semata-mata karena Allah SWT, demi memberikan penghormatan terakhir kepada salah satu hamba terbaik-Nya, yang ditugaskan-Nya sebagai salah satu guru bangsa bagi bangsa Indonesia.

Coba kalau saya tahu informasi perihal kedatangan presiden? Pasti niat saya bakalan terdistraksi. Mau melihat Buya Syafii untuk yang terakhir kalinya (sekaligus yang pertama) atau mau melihat Pak Jokowi?

BUYA SYAFII BERBONUS PAK JOKOWI

Pada akhirnya saya bisa melihat Buya Syafii. Walaupun cuma bisa melihat siluet jenazah beliau yang tertutup kain hijau, perasaan saya telah cukup membuncah. Saya betul-betul mensyukurinya.

Dokpri/Midha 
Dokpri/Midha 

Bagaimanapun saya mesti tahu diri. Saya ini 'kan rakyat jelata. Orang biasa yang hanya bisa menjadi pengagum beliau dari jauh. Saya bukan siapa-siapa yang punya akses untuk kenal Buya Syafii secara personal.

Jadi sore itu, ketika berkesempatan mengikuti prosesi pemberangkatan jenazah beliau ke peristirahatan terakhir, saya bahagia sekaligus terharu.

Kiranya inilah salah satu rencana-Nya, yang sejak beberapa tahun silam "memindahkan" saya ke Kauman (tempat domisili sekarang). 

Andaikata saat ini tidak tinggal di Kauman, yang tetanggaan RW saja dengan Masjid Gedhe tempat Buya Syafii disemayamkan sementara, kecil kemungkinan saya bisa ikut takziah.

Segalanya berjalan cepat. Dalam hitungan menit, berurutan hal-hal baik menghampiri saya sejak memasuki masjid. Tanpa terduga sama sekali.

Iya. Sore itu Yang Maha Memahami mengabulkan keinginan saya untuk melihat Buya Syafii dari dekat. Bonus utamanya, bisa melihat dan mendengar suara Presiden Jokowi secara langsung.

Dokpri/Okky Marlinda S 
Dokpri/Okky Marlinda S 

Bonus tambahannya, saya bisa melihat banyak tokoh Muhammadiyah. Hanya saja, saya rupanya kurang beruntung karena tak melihat rekan sekampus Buya Syafii saat mereka sama-sama kuliah di Amerika dulu.

Maklumlah. Hadirin berjubel dan sekali lagi, saya ini warga biasa yang tentu saja dalam situasi serupa itu amat terbatas geraknya. Kalau nekad ke area VIP bisa didorong-dorong paspampres, dong.

Dokpri/Midha 
Dokpri/Midha 

KEMAJEMUKAN PELAYAT & AIR MATA SAYA

Tak perlu saya jabarkan lagi perihal kiprah Buya Syafii dalam menjaga keutuhan bangsa kita. Sudah banyak orang yang telah menuliskannya sesuai dengan kepakaran masing-masing. 

Sementara di sini, saya sekadar menuliskan hal-hal (pengalaman) ringan sebagai orang awam, yang beruntung bisa ikut hadir di prosesi pelepasan jenazah Buya Syafii oleh Presiden RI.

Sebagai orang biasa, tentu saja sudut pandang saya juga biasa-biasa saja. Tidak luar biasa, apalagi spektakuler. Hanya saja, bisalah Anda sekalian memercayai pendapat saya, yaitu mengenai kemajemukan para pelayat yang seolah menjadi cerminan dari pemikiran beliau.

Iya. Yang melayat Buya Syafii bukan hanya orang-orang Islam, terkhusus kalangan Muhammadiyah, melainkan dari pelbagai agama dan kalangan. Salah satunya, yang saya lihat kemarin, berasal dari kalangan bhiksu Buddha.

Dokpri/Midha 
Dokpri/Midha 

Saya pun menjadi teringat perkataan Buya Syafii bahwa keutuhan Indonesia adalah sesuatu yang mutlak dan harus diperjuangkan. Tidak taken for granted.

Nah, lho. Ayolah berhenti saling bermusuhan demi persatuan Indonesia yang lebih baik. Sama-sama berjuang mempertahankan keutuhan negeri ini.

Kemudian saya juga teringat pesan Buya Syafii yang satu ini, "Menjadi mayoritas itu jangan punya mental minoritas!"

Hmm .... 

Ada terlalu banyak lintasan pikiran dan perasaan yang menyergap saya sore itu. Sampai-sampai sesaat sebelum salat Asar dimulai, air mata saya menetes.

Saya menangis untuk dua hal sekaligus. 

Pertama, sebab terharu dan bahagia telah diberi-Nya kesempatan untuk melihat (jenazah) Buya Syafii secara langsung. 

Kedua, karena sedih dan cemas dengan masa depan bangsa Indonesia tanpa "penjagaan" dari Buya Syafii. Telah siapkah kita?

Salam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan