Cerpen

Penyesalan yang Terlambat

12 Oktober 2018   21:45 Diperbarui: 12 Oktober 2018   22:03 404 0 0

Mungkin aku adalah orang yang paling hina di Dunia, orang yang paling merugi, orang yang paling tidak tahu diri, dan memang pantasnya aku disebut sebagai anak yang tidak tahu balas budi. Sebutan  itu pantas di sematkan, karena kesombongan yang selalu mengganggap remeh suatu perkara. Tidaklah salah jika banyak mata yang memandang dan selalu tersenyum kecut, di antara kata-kata yang mereka lontarkan, aku menerimanya dengan lapang dada.

Rasanya aku ingin menangis sekuat tenaga, menghajar kepala ini dengan besi yang sangat besar hingga keluar semua isi di kepala dan mengambil sebagian memori yang ada di otak agar dapat kembali ke masa lalu, di mana aku masih dapat menuruti apa kata orang tua, menuruti kata-kata ibu yang selalu dengan sabar membimbing dan mengarahkan ke arah yang selalu baik.

Tidak ada orang tua yang ingin anaknya lemah, anaknya salah dan anaknya tak mengerti tentang arti hidup yang digariskan oleh agama. Ingin rasanya aku kembali ke masa dimana aku bisa berjalan beriring-iringan dengan teman sebaya, menuju musholla tempat insan-insan muda membaca dan mengeja iqra, merangkai huruf hijaiyah hingga menjadi kalimat yang indah, yang kelak akan menuntun ke jalan yang benar, jalan yang akan membuat aku merasa menjadi manusia yang layak.

Siapa yang tidak kenal aku? Hampir semua siswa di sekolah mengenalku, aku aktif hampir di semua kegiatan yang ada di sekolah. Mulai dari OSIS, PASKIBRA, THEATER, Pemimpin majalah dinding sekolah. Selalu mendapat peringkat terbaik di kelas, hampir semua siswa dan guru kenal namaku, tapi ... hampir tak ada yang tahu kenapa aku tidak masuk dalam kegiatan ROHIS di sekolah.

 Aku menghindari kegiatan ROHIS, karena tidak suka dengan kegiatan keagamaan, males harus kumpul-kumpul di Masjid sekolah hanya buang-buang waktu saja. Dengan guru agama tidak terlalu dekat karena selalu terbata-bata ketika harus membaca potongan-potongan ayat suci Al-quran, ya karena memang aku tidak terlau bisa membaca ayat Al-quran dan mengganggap itu bukanlah hal yang terlalu penting.

Nilai ujian agama sangat minimal, praktek baca tulis Al-quran mendapat nilai paling buncit, ada dua siswa termasuk aku yang harus mengulang praktek agama dan itu dilaksanakan di ruangan guru. Ruangan tempat guru-guru beristirahat dan aku harus membaca ayat Al-quran yang jelas-jelas  sama sekali tidak lancar dalam membacanya.

Ketika mulai membaca dengan di eja sontak saja mata para guru tertuju padaku, tatapan mata dengan sorot yang sangat tidak percaya, sorotan mata yang membuat aku sangat tertunduk. Banyak yang bertanya kenapa aku tidak bisa membaca ayat suci Al-quran, padahal aku adalah siswa yang sangat aktif di sekolah? Aku hanya dengan senyuman. Setelah itu aku bersikap  biasa-biasa saja. Tak terlalu perduli dan ambil pusing.

Entah kenapa, sama sekali aku tidak tertarik mengaji, padahal aku adalah muslim, orang tua ku muslim, tapi untuk mengaji ... "Ah, nanti dulu lah!"

Aku pernah masuk sekolah madrasah, tapi itu hanya bertahan satu minggu setelah itu aku keluar, males harus mengeja huruf arab yang membuat kepala pusing, lebih baik memilih bermain, atau nonton TV. Ibu ku yang selalu sabar, membujuk agar aku mau belajar mengaji, tapi selalu membandel dan menentang ibu. "Bodo amat!" batinku dalam hati.

Hari ini, aku baru tersadar bahwa kemalasan, keengganan dan kecerobohanku tidak mau belajar membaca Al-quran itu harus dibayar dengan sangat mahal! Teramat sangat mahal! Ingin rasanya memutar kembali waktu dan merangkai setiap detik yang telah terlewat menjadi masa lalu, ingin aku kembali ke masa di mana aku bisa beriring-iingan dengan teman kecilku berjalan menuju mushalla untuk belajar mengaji. Ingin rasanya kuputar waktu kembali ke masa aku sekolah dan meminta guru agamaku untuk menuntun aku belajar membaca Al-quran. Ingin aku mendengar kembali nasihat-nasihat ibu yang dengan sabar membujuk aku untuk mau belajar membaca quran. Tapi semua terlambat!

Ibuku terbujur kaku sekarang! Dihadapanku ... di depan mata kepalaku sendiri! tubuhnya di selimuti kain batik panjang. Ada yang mengaji dan melantunkan ayat-ayat suci Al-guran di samping jasad ibu. Tapi itu bukan aku! aku yang anaknya, anak yang di kandung dan dilahirkan dari rahimnya, anak yang diasuh dan dibelai dengan kasihnya hanya bisa membisu dan terpuruk, anak yang seharusnya menghantarkan perjalanan terakhirnya dengan lantunan yang merdu hanya bisa duduk terpaku. Justru orang lain, sahabat- sahabat aku yang khusyu membaca Al-quran di samping jasad ibuku. Tapi tangisan dan air mata takkan berarti apa-apa sekarang. Jika saja waktu dapat diputar dan mengembalikan semua kenangan yang tentang ibu, tapi terlambat.

"Maafkan aku ibu," bisikku di daun telinganya yang sudah basah dengan air mata penyesalan. Air mata yang sama sekali tidak ada artinya.

(Untuk ibu yang senyum manisnya selalu terbayang)