Mohon tunggu...
Agung Han
Agung Han Mohon Tunggu... Learning People

2nd Wing's Journalist Award 2016 | One of Fruitaholic of The Year 2017/2018 | Danone Blogger Academy 2017 | Twitter @_agunghan | IG @agunghan_ | FB; Agung Han Email | agungatv@gmail.com other blog www.sapadunia.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ini Alasan Sebaiknya Jangan Menunda Menikah

15 Agustus 2019   07:39 Diperbarui: 15 Agustus 2019   11:15 0 3 1 Mohon Tunggu...
Ini Alasan Sebaiknya Jangan Menunda Menikah
illustrasi-dokpri

Sewaktu bujangan, saya punya kenalan seorang bapak usia di atas 40 tahun, perawakan beliau gempal dengan perut buncit. "Semangat Yaah, adek jadi penjaga gawang" Siang itu, si Bapak kewalahan, menuruti kemauan anaknya yang "memaksa" bermain bola. Si anak bersikeras, harus ayahnya yang main bola dengannya, tidak boleh diganti orang lain.

Namanya anak-anak, sekian tahun berikutnya saya mengalami, jagoan berumur dibawah 10 tahun senang main bola. Tidak hanya di kamar, tapi di ruang tamu, di teras, apalagi di halaman depan, dua kaki kecilnya tak lepas dari benda bulat empuk itu.

Saking senang main bola, uang jajannya rela dikumpulkan demi membeli bola kulit. Beruntung, ketika si ganteng lagi seneng main bola, saya ayahnya masih tigapuluh-an tahun,  secara fisik tidak gampang kecapekan.

*BalikKeSiBapak

Tidak sampai limabelas menit, si bapak ngos-ngosan dan menyerah, membujuk anaknya agar melanjutkan main bola dengan yang lain. Kedua kaki si ayah seperti tak sanggup, menyangga badan yang gempal tapi empuk itu.

Tanpa pikir panjang, beliau merebahkan diri di lantai, saya dan beberapa teman yang duduk di kursi jadi ancang-ancang melantai juga. "Kalian duduk di situ saja, enggak usah sungkan" ujarnya, membaca keengganan kami.

"Nyesel, kenapa dulu gue nikah telat" gumamnya pelan, tapi saya bisa mendengar

img-20141224-072646-5d54a4700d82306bc65075a3.jpg
img-20141224-072646-5d54a4700d82306bc65075a3.jpg
-----

Di Kompasiana, saya pernah menulis, kisah tentang ibu saya yang berubah menjadi orang yang paling "galak." Ketika mendapati saya ragilnya, menjelang umu tigapuluh tahun, tetapi belum ada tanda-tanda menikah.

Dalam berbagai kesempatan bertemu dan ngobrol, selalu saja tema pernikahan menjadi topik utama dan paling hangat. Untung ibu paham, cukup tahu tempat dan situasi. Obrolan (menurut saya) menyebalkan, dibahas ketika kami sedang berdua saja. Begitu  ada saudara lain mendekat, segera berpindah topik pembicaraan.

Pun ketika ada saudara, terkesan "menjatuhkan" saya anaknya, ibu menjadi orang pertama pasang badan, tak rela anaknya dibully.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
KONTEN MENARIK LAINNYA
x