Agung Han
Agung Han wiraswasta

Menulislah & biarlah tulisanmu mengalir mengikuti nasibnya... (Buya Hamka) Follow me : Twitter/ IG @agunghan_ , FB; Agung Han Email ; agungatv@gmail.com Tulisan lain ada di www.sapadunia.com

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Pilihan

Mendarat di Bandara Silangit Menikmati Kue Ombus-ombus

9 November 2018   13:30 Diperbarui: 10 November 2018   06:08 415 1 0
Mendarat di Bandara Silangit Menikmati Kue Ombus-ombus
Penjual Panganan Khas Ombus-ombus di parkiran Bandara Silangit -dokpri

Akhirnya, pesawat kami mendarat di Bandara Silangit Siborongborong Tapanuli Utara. Setelah satu jam dan empat puluh lima menit, membelah langit dari Bandara Soekarno - Hatta Jakarta. 

Menjelang pendaratan, saya sempat dibuat takjub dengan pemandangan sekitar. Pasalnya, lapangan tempat landasan pesawat, berpagar bebukitan hijau alami. Dari balik jendela, saya bisa melihat rumah penduduk tak jauh dari tempat kami hendak menjejak tanah.

Begitu keluar dari dalam perut burung besi, saya menyapu pandangan ke sekitar, tak mendapati pesawat selain yang kami tumpangi. Sehingga kami bebas mengambil gambar di sekitar pesawat, sementara petugas terkesan memberi kelonggaran.

Bandara Silangit memiliki landasan pacu 2400 meter, tampak sedang melakukan perbaikan fasilitas di sana-sini. Terlihat terminal kedatangan masih berupa tenda putih, dengan lantai yang dilapisi karpet warna abu-abu.

Tempat pengambilan bagasi masih seadanya, penumpang bisa melihat tas mereka diangkut dari pesawat, kemudian satu persatu ditaruh dan berjalan di atas conveyor.

Porter berjajar merapat di depan kantor pengelola bandara, tidak tampak digunakan pengunjung, mengingat lantai bandara kombinasi tanah, kayu, semen dan aspal yang belum rata.

Kedatangan Bandara Silangit Siborong-borong Tapanuli Utara -dokpri
Kedatangan Bandara Silangit Siborong-borong Tapanuli Utara -dokpri
 

Terlepas dari fasilitas yang masih minim, sesungguhnya saya justru menikmati perjalanan dan suasana Bandara. Bahkan saya cukup exited merasakan situasi antimainstream, mengingat (biasanya) kerap mendapati bandara dengan kondisi bagus.

Satu hal lagi, ternyata Bandara Silangit sudah berstatus Bandara Internasional. Dipersiapkan untuk mendukung, peningkatan wisatawan ke Danau Toba dan daerah Tapanuli lainnya.

Swafoto di landasan bandara Silangit -dokpri
Swafoto di landasan bandara Silangit -dokpri
****

Udara dingin daerah Siborongborong menembus pori-pori, padahal cahaya matahari cerah tidak terhalang mendung. Saya merasakan paru-paru ini 'nyeees', saat menghirup oksigen bebas polusi dengan perlahan dan mendalam.

Udara dengan kualitas serupa, bisa Kompasiner temui dan rasakan di daerah Dieng, Tretes Pasuruan, Bandung dan atau daerah dataran tinggi lainnya. Dan tentunya kampung halaman saya sendiri, berada di kaki gunung Lawu, tidak begitu jauh dari perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Rombongan Jurnalis dan Blogger, beriringan keluar halaman Bandara. Dari area parlkir, seorang bapak menghampiri kami menyapa akrab kepala rombongan kami.

Rupanya bapak penjemput sudah menanti, tidak terlalu kesulitan mencari, mengingat kepala rombongan adalah kepala dinas salah satu Instansi yang sudah saling mengenal.

Satu persatu kami bersalaman, ngobrol basa-basi sekedarnya kemudian foto bersama di bangunan permanen tempat chek in di depan Bandara. Sembari yang lain sedang sibuk dengan koper dan barang bawaan, saya menemukan pemandangan unik tak jauh dari tempat kami berdiri.

 

Kue Ombus-ombus -dokpri
Kue Ombus-ombus -dokpri
Seorang penjual makanan tak jauh dari pintu keluar Bandara, memakai rompi berbahan kain ulos, dengan topi hitam bundar bertengger di kepala.

Sepeda kumbang kokoh (model lama) ditopang dua standart, kemudian kotak jualan didesign unik dengan warna dan motif khas batak. 

Terdorong rasa penasaran, saya bergegas menghampiri, untuk mencari tahu tentang apa yang saya lihat.

"Ombus-ombus itu apa Pak?" tanya saya

"Makanan khas Siborongborong" jawab si penjual

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2