Mohon tunggu...
Sitha Afril
Sitha Afril Mohon Tunggu... Student of Master Degree - Diponegoro University

Saya hanya seorang pembelajar yang terkadang "absurd" dalam menyikapi fenomena di sekitar. Jadi, jangan terkejut jika tulisan-tulisan saya pun "absurd", he-he!

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen: Kalian Berdua Batu

8 September 2020   05:15 Diperbarui: 12 September 2020   16:33 524 22 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen: Kalian Berdua Batu
ilustrasi sisa bangunan rumah sakit. (sumber: pixabay)

Berguling ke kanan, lantas ke kiri. Tengkurap, lalu telentang lagi. Entah sudah berapa kali aku mengubah posisi agar bisa terlelap tenang. Ada firasat aneh yang menggangguku malam ini. Firasat yang menuntun intuisiku untuk segera menghubungimu, tapi gengsi masih menahanku. 

Jujur, bagiku ini aneh karena hampir tiga bulan aku tidak merasakan cemas berlebih yang mengarah padamu. Tapi, entah kenapa malam ini rasanya begitu misterius. 

Badanku capek, mataku ngantuk. Sungguh, aku ingin tidur. Tapi, pikiranku benar-benar tidak tenang. Bayanganmu begitu jelas terlihat tiap kali aku memejamkan mata. 

Kalau memang ini karena rindu, rasanya tidak mungkin. Sebab, degub cemaslah yang saat ini mendominasi perasaanku. Ada apa sebenarnya? Kamu kenapa?

***

"Kak?" isi sebuah pesan yang masuk ke ponselku. Tertulis nama adikmu di bagian identitas pengirim pesan itu. Degub jantungku makin tak beraturan, kekhawatiranku kian menjadi-jadi. Aku tidak membalas pesan itu karena aku lantas menelponnya.

"Dik? Kamu di mana?" tanyaku.

"Kakak di mana?" tanyanya balik dengan sisipan isak tangis.

"Kos. Kenapa? Kamu kenapa, Dik? Kamu nangis, ya?" selidikku yang tambah panik karena ini kali pertama aku mendengar isakan dari adik lelakimu.

"Kak, sepuluh menit lagi aku ke kos Kakak, ya?" katanya.

"Ada apa? Ngapain ke kos Kakak jam segini?" responsku yang terkejut. Waktu menunjukkan pukul tiga kurang sepuluh menit. Sebentar lagi subuh dan Huta hendak bertamu. Gila!

"Panjang ceritanya, Kak. Kakak siap-siap aja sekarang, ya! Aku berangkat!" paksanya yang lalu mematikan panggilan kami.

Aku tidak berias. Ganti baju pun tidak. Aku hanya mengenakkan celana pendek bermotif kotak dan kaus lengan pendek yang aku lapisi sweter.

Memang tidak pas sepuluh menit, namun tidak juga sampai setengah jam. Deru motor Huta yang sudah aku hapal pun terdengar jelas. Aku bergegas membuka pintu gerbang dan mendapati matanya berkaca-kaca. Raut mukanya sedih dan dia diam tanpa kata saat melihatku.

"Kamu kenapa, Dik? Ada apa? Kok sedih, Dik?" selidikku sambil mendekatinya.

"Bang Julian, Kak. Abang..." belum selesai dia bicara, tangisnya pun pecah.

"Kenapa Abangmu? Heh! Kenapa?" tanyaku sambil menggoyangkan bahunya.

"Abang kritis di ICU, Kak. Abang kecelakaan," jawabnya terbata.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x