Mohon tunggu...
Pemuja Sunyi
Pemuja Sunyi Mohon Tunggu... Bukan Orang Dalam

"Jika setiap mengeluh diganjar kematian, maka aku adalah yang paling banyak bereinkarnasi. Karena masih saja hidup."

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Puisi | Untuk Tenang, Lagu Maaf Diputar Ulang

27 Mei 2019   20:03 Diperbarui: 30 Mei 2019   19:46 0 18 4 Mohon Tunggu...
Puisi | Untuk Tenang, Lagu Maaf Diputar Ulang
(KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN)

Mungkin terlatih
Sedari kecil tiba dewasa tiada selesai
Haruskah keliru jadi pemandu fasih
Tak adil jua bila hanya berujar damai

Masih teruskan
Rayuan udara keruh gombali hirup
Bukannya napas rangkul sejuk pikiran
Malah isap asap kotor knalpot; degup

Tahu-tahu saja
Rintih dan serapah memuai dikepala
Buah dari sengaja atau tak kuasa
Hingga tradisi 'cuma maaf' dipiara

Mungkin belum jenuh
Setelinga semata masih menanti jera
Tak cukupkah dampak sedu meriuh
Dalam nyanyian nostalgia pendusta

Masih saja dendangkan
Seusai senyum dan peluk lupakan luka
Tebar lagi tanam kembali akal-akalan
Di pekarangan yang subur maafnya

Tiba-tiba saja nanti
Sesak dan sesal hantui
Tapi nanti saat mata telinga mati
Apalagi hati muak dipaksa mengerti

Adalah mustahil hapus jejak noda
Namun di upacara menyambut pulang
Dimaafkan atau tidak bukan esensinya
Untuk tenang lagu maaf diputar ulang

Indonesia Bagian Selatan, 27/05/019