Mohon tunggu...
Afa Fadila
Afa Fadila Mohon Tunggu... Mahasiswa - Prodi : Pendidikan Islam Anak Usia dini

STOP WISHING START DOING!

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Pengetahuan Dasar: Teori Jean Piaget (Asumsi Dasar Perkembangan Kognitif)

20 Maret 2021   13:47 Diperbarui: 20 April 2021   15:05 1264
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dengan pengalaman tadi, anak dapat membentuk pengalamannya secara kompleks seputar serangga. Piaget berpendapat bahwa anak-anak mampu membangun keyakinan serta pemahamannya berdasarkan pengalaman, teori ini disebut dengan konstruktivisme.

Asumsi ketiga yaitu, anak belajar melalui proses asimilasi dan akomodasi. Proses asimilasi Asimilasi adalah penggabungan antara informasi, persepsi, konsep dan pengalaman baru ke dalam benak individu yang sudah ada, atau merupakan suatu respons terhadap objek atau peristiwa melalui cara yang sebelumnya telah dimiliki. Proses asimilasi individu menggunakan struktur atau kemampuan yang telah ada untuk menghadapi masalah yang ada di lingkungannya. 

Contohnya seperti bayi yang berada pada tahap suka memasukkan segala hal ke mulutnya, bahkan ketika ia bermain boneka, ia akan memasukkannya ke mulut. Sedangkan akomodasi merupakan kemampuan untuk memodifikasi skema yang sudah ada atau membentuk rancangan yang baru. 

Contohnya seperti saat anak makan, pengalaman ketika anak terbiasa makan dengan menggunakan sendok, kemudian dihadapkan pada situasi baru yaitu makan menggunakan sumpit, ia akan mencoba untuk menyesuaikan cara memegang sumpit agar dapat membantunya untuk makan.

Asumsi keempat yaitu, interaksi anak dengan lingkungan fisik-sosial penting bagi perkembangan kognitif.  Aktivitas yang dapat menstimulasi fisik yaitu bermain tanah, pengamatan tanaman, atau percobaan menggunakan air. Menurut Piaget berbagai aktivitas tersebut merupakan elemen penting bagi pertumbuhan kognitif. Melalui aktivitas tersebut anak mampu mengembangkan pemahamannya tentang ukuran, berat, membedakan jenis, hukum sebab akibat, prinsip suatu gaya, dan sebagainya.  

Berbagai aktivitas tadi dapat menjadi gambaran pada aktivitas belajar-mengajar di sekolah dalam penggunaan kegiatan berbasis penemuan dan pengalaman langsung. 

Adapun interaksi lain yang terjadi di lingkungan sosial, interaksi dengan lingkungan sosial turut berkontribusi dalam perkembangan kognitif. interaksi dengan orang lain yang usianya beragam, secara bertahap akan membentuk pemahaman mengenai perbedaan pada setiap individu. Selain itu, anak akan belajar menghargai pendapat orang lain dan dapat memodifikasi keyakinannya tentang suatu hal melalui diskusi.

Asumsi kelima yaitu, perubahan kematangan pada otak menjadikan kualitas berpikir anak berbeda di tingkatan usia yang berbeda pula. Piaget berpendapat bahwa, otak berubah secara signifikan dan berpengaruh pada proses berpikir yang semakin kompleks. Pada usia 2-7 tahun terjadi perubahan neurologis yang utama. Kemudian dilanjutkan pada tahap anak-anak sampai remaja (masa pubertas). Perubahan tersebut memungkan muncul kemampuan baru dan pemikiran yang semakin luar biasa.

Asumsi keenam yaitu, proses ekuilibrasi mendorong kemajuan pikiran yang semakin kompleks. Ekuilibrasi merupakan proses pergerakan dari kondisi ekuilibrium (seimbang) ke pada kondisi disekuilibrium (gangguan pada mental karena suatu hal yang tidak sesuai pemahaman awal). Pada akhirnya kembali ke pada kondisi ekuilibrium (menangkap dan merespons peristiwa yang sebelumnya dirasa membingungkan). Proses ekuilibrasi dan dibantu motivasi intrinsik anak dapat mendorong perkembangan kemampuan berpikir yang kompleks.

 Perkembangan kognitif Piaget terbagi menjadi 4 tahap yang berbeda-beda. Memahami berbagai tahapan secara detail dari Teori Piaget dapat memberikan wawasan terkait hakikat proses berpikir anak di berbagai tingkatan usia. 

Tahapan tersebut yaitu dimulai dengan tahap sensor motorik usia 0-2 tahun, di masa ini bayi memahami lingkungan sekitar dengan mengoordinasikan sensori dengan melihat dan mendengar, kemudian dengan tindakan sensori seperti meraih, menyentuh, dan merasakan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun