Mohon tunggu...
Adrian Pramana
Adrian Pramana Mohon Tunggu...

Tulisan kelas teri

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Pilihan

Antara Sawit dan Leonardo Dicaprio, Ada Apa?

2 April 2016   11:51 Diperbarui: 2 April 2016   16:25 0 3 2 Mohon Tunggu...

[caption caption="Instagram/LeonardoDicaprio"][/caption]Kedatangan Leonardo Dicaprio mengundang pertanyaan dan polemik, pasalnya kedatangan pemeran Hugg Glass dalam film The Revenant tersebut menimbulkan perbincangan pro dan kontra. Aktor Hollywood tersebut mengunjungi TNGL (Taman Nasional Gunung Leuser) pada minggu (27/03/16) tepatnya di Pusat Penelitian orangutan Ketambe.

Peraih piala Oscar ke-88 melalui perannya di film The Revenant sebagai Best Actor, Dicaprio bertemu dengan orangutan Sumatera (Pongo abelii) di kawasan pusat penelitian orangutan Ketambe. Dilansir lewat akun Instagramnya, Dicaprio mengkritik mengenai ekosistem leuseur yang kian habis untuk memenuhi kelapa sawit, jika hal tersebut terus terjadi maka akan mendorong orangutan di jurang kepunahan termasuk satwa lainnya.

Tulisan Dicaprio tersebut menuai kritik, dari berbagai pihak termasuk pemangku kepentingan sawit juga dari salah satu anggota dewan atas kedatangan Leonardo yang mengkritisi mengenai problematika lingkungan di Indonesia. Maksud lain dalam kunjungan Dicaprio yang dianggap sebagai bentuk deskridit mengenai kelapa sawit. Asmar Arsyad, pengusaha sawit asal aceh mengomentari mengenai kunjungan Leo ke Leuseur.

“Leonardo salah sasaran. Mestinya dia kampanye pelestarian lingkungan di hutan Amazon yang habis untuk perkebunan minyak nabati kedelai,” Ujar Asmar

Komentar lain datang dari Anggota Komisi IV DPR Firman Subagyo yang menyatakan kedatangan Leo,punya maksud lain dari kepentingan pelestarian Lingkungan yang difasilitasi LSM berkedok lingkungan.

 “Sasarannya jelas. Pasti dia akan menembak perkebunan kelapa sawit dengan membungkusnya soal lingkungan,” ujar Firman.

 “Oleh karena itu, saya sampaikan kepada Kepala BIN dan Kapolri untuk menindak tegas kelompok-kelompok tersebut. Saya minta (Ditjen) Imigrasi untuk mendeportasi Leonardo apabila dia terbukti melakukan black campaign sawit kita,” tandas Firman.

Dari kritikan tersebut, dapat ditelusuri adanya tanda tanya baru mengenai problematika sawit di Indonesia. Kita ketahui, Indonesia merupakan produsen sawit terbesar di Dunia. Berbagai korporasi Internasional memiliki perusahaan dalam pengembangan sawit, tak dipungkiri semakin gencarnya pembukaan lahan baru bagi korporasi baik sawit atau pulp and paper maka Deforestasi didepan mata hari ini. Kasus kebakaran hutan di tahun 2015 kemarin salah satu contoh dari tindakan tata kelola hutan yang buruk dari perusahaan sawit, kertas, tissue independen atau yang berbasis  asosiasi/swadaya dari masyarakat.

Kasus serupa pun pernah menimpa aktor Horisson Ford yang geram akan rusaknya Hutan Tesso Nilo pada 2013 lalu, yang diancam dideportasi dari Indonesia karna berkomentar mengenai laman resmi negara saat proses wawancara bersama Menhut Zulkifli Hasan.

Siapapun, jika melihat sebuah kondisi lingkungan yang buruk, pasti ia akan memiliki komentar atau kritikan melalui apa yang ia lihat, bukan melihat pada label apa ia seorang selebritis sekalipun. Maka kritik Leonardo adalah ungkapan bagaimana ia melihat jika tata kelola sawit buruk, akan merusak ekosistem dan satwa yang bergantung pada ekosistem tersebut.

Tak menolak, produk hasil sawit melekat pada kehidupan kita setiap harinya, masyarakat dunia tidak mungkin untuk terlepas dari ketergantungan pada sawit, ya kita adalah kaki tangan dari suksesi sawit, korporasi sawit harus menekan tata kelola perkebunan sawit yang lebih sustainable demi masa depan yang lebih baik tentunya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x