Mohon tunggu...
Aditya Nuryuslam
Aditya Nuryuslam Mohon Tunggu... Menikmati dan Mensyukuri Ciptaan Ilahi

Sosok jawa tulen yang berikhtiar mengadu nasib di belantara Megapolitan Jakarta

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Malaikat itu bernama Ibu

22 Desember 2020   21:02 Diperbarui: 23 Desember 2020   11:03 237 12 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Malaikat itu bernama Ibu
Bapak dan Buk'e

Malam semakin larut, Buk’e (panggilan kami ke Ibu) masih berkutat dengan jahitan baju pesanan orang yang besok pagi harus segera jadi. Nampak jelas kelelahan yang terus ditahan oleh Buk’e agar tetap terjaga dan terus berusaha menyelesaikan pekerjaannya. Terkadang saya dapati Buk’e tertidur di kursi dengan posisi masih memegang baju dengan posisi tusuk jelujur pada lipatan baju yang sedang beliau selesaikan, namun kemudian Buk'e terjaga kembali dan  meneruskan pekerjaannya, entah sampai jam berapa. 

Kejadian seperti ini bukan hanya sekali atau dua kali saja, tapi hampir di tiap malam, apalagi malam-malam menjelang lebaran, musim masuk sekolah, musim acara pernikahan dan natal.  Itu belum termasuk pekerjaan rutin sehari-harinya sebagai ibu rumah tangga menyiapkan sarapan, membersihkan serta merapikan kamar, menyapu kadang mengepel , memasak untuk kami dan membereskan pekerjaan rumah lainnya. Tak terbayang betapa besar pengorbanannya kepada kami untuk mendapatkan segenggam nafkah tambahan, membanting tulang, mengencangkan ikat pinggang, menunda keinginannya untuk menikmati jerih payahnya agar bisa memenuhi kebutuhan anaknya “hidup” dengan layak dan menggapai impian bersekolah hingga setinggi tingginya.

Ketika jaman euforia sepeda federal, saya merengek ke Buk’e agar dibelikan sepeda federal baru dan tidak ketinggalan mode dengan anak-anak lainnya. Sepintas dalam ingatan, saya mendapati serpihan-serpihan memori bagaimana Buk’e bekerja lebih keras dari biasanya, bahkan ditambah dengan mencoba peruntungan dengan berjualan dagangan pakaian batik yang ditawarkan ke pelanggan jahitan Buk’e, demi mendapatkan tambahan uang untuk membeli sepeda impian anaknya. Alhamdulillah akhirnya sepeda federal pun terbeli, dan lagi-lagi (kala itu) begitu senangnya saya mendapatkan sepeda Federal sampai saya melupakan betapa beratnya usaha Buk’e berjuang keras membanting tulang demi kebahagiaan anaknya.

Buk’e bukanlah pribadi yang bagus nilai akademisnya, sejak kecil Buk’e termasuk anak yang bisa dibilang “terpinggirkan” dari perhatian Mbahkung dan Yangti, maklumlah di keluarga yang jumlah anaknya banyak kadang ada satu dua anaknya kurang mendapatkan perhatikan karena tuntutan ekonomi, kesibukan mencari nafkah. Mereka biasanya paling sering disuruh membantu orangtuanya berdagang atau diberikan tugas mengurus rumah dikala kedua orangtuanya sedang sibuk bekerja. Kesibukan membantu Mbahkung dan Yangti dalam mengurus rumah atau membantu perniagaan inilah yang menyebabkan terbengkalainya urusan sekolah. Alhasil nilai akademisnya juga kurang optimal beliau dapatkan ketika dibangku sekolah.

Namun demikian, kecerdasan alami yang terpendam di jiwa Buk’e telah mampu mendidik kami dengan sangat baik. Walaupun dengan keterbatasan pemahaman literatur akademik, Buk'e terbukti mampu menjadi psikolog sekaligus mentor kami dalam memompa semangat anak-anaknya untuk mengejar prestasi akademik setinggi mungkin, serta mampu mendidik kami agar senantiasa menjadi orang yang beriman dan bertaqwa, pesan Buk'e kepada kamipun juga sederhana agar jangan lupa untuk sholat lima waktu. Satu petuah Buk’e yang sampai saat ini terus membekas dihati saya adalah “kowe rasah mikir Buk’e golek duit, sing penting kowe sinau sing sregep gen iso juara wes cukup gawe atiku seneng, mbesok nek wes gede mugo-mugo iso dadi wong sing sukses” (kamu tidak usah memikirkan bagaimana ibu mencari uang/nafkah, yang penting kamu belajar yang rajin agar bisa jadi juara, itu saja sudah bikin ibu bahagia, besok kalau sudah besar semoga kamu bisa menjadi orang yang sukses).

Tanpa mengurangi rasa hormat saya ke Bapak yang juga telah berkomitmen membanting tulang menafkahi keluarga dari gaji kecilnya sebagai buruh di salah satu perusahaan batik ternama di kota Solo, Buk’e telah berkomitmen mendedikasikan dirinya menjadi ibu rumah tangga yang mencari nafkah tambahan dengan tidak meninggalkan anak-anaknya. Dengan menjadi penjahit busana wanita, alhamdulillah rejeki halal sedikit demi sedikit dapat membantu Bapak dalam menafkahi keluarga khususnya memenuhi kebutuhan kami anak-anaknya yang semakin hari semakin besar dan banyak tuntutannya.

Tahukah anda bagaimana pengorbanan perasaan Buk’e dalam menghadapi pelanggannya. Luar biasa sabar beliau dalam menghadapi omelan, nyinyiran kadang maki-makian gara-gara terlambat diselesaikan, atau mungkin karena tidak sesuai keinginan padahal model itu yang dia pilih waktu di awal akad, ya begitulah pelanggan, kadang mereka menumpahkan kekesalan, emosi dan hati kalutnya kepada orang yang sekiranya tergantung kepadanya. Sekali lagi demi mendapatkan bayaran upah guna memenuhi kebutuhan kami anak-anaknya. 

Pernah suatu kali ada kejadian, waktu itu saya masih kuliah dan mendapati Buk’e dimaki-maki sama pelanggannya, reflek, karena saya emosi saya sampai ambil kursi dan mau saya lempar ke orang itu, beruntung Buk’e masih mampu mencegahnya. Setelah kejadian itu Buk'e  memarahi saya habis-habisan, Buk'e berpesan agar jangan jadi orang yang emosional, tetap pegang teguh pada jiwa yang sabar dan tawakal agar tidak melakukan hal-hal yang berakibat buruk dikemudian harinya, dan akhirnya saya baru sadar atas kekhilafan saya itu, maklumlah darah muda yang kadang tak terkendali emosinya ketika melihat orang yang disayanginya diperlakukan semena-mena hanya karena hal yang sepele.

Seiring dengan waktu, pengorbanan dan jerih payah Buk’e dalam membantu Bapak mencari nafkah bagi keluarga, telah membentuk karakterku untuk menghargai apa arti nafkah bagi keluarga. Nafkah dicari bukan untuk dihambur hamburkan guna mengejar kesenangan sesaat, namun nafkah digunakan sebaik-baiknya untuk tetap menjaga marwahnya memberikan manfaat dan berdayaguna bagi diri sendiri, keluarga dan sesama

Tak terasa, sudah hampir dua puluh tahun saya terpisah jarak dengan Buk’e, saya di Jakarta dan Buk’e masih di Solo. Kesibukan membangun rumah tangga dan menjalani rutinitas kerja membuat saya jarang pulang kampung untuk menjenguk Buk’e, paling hanya dua tiga kali dalam setahun bisa pulang ke Solo menjenguk Bapak dan Buk’e. Dari sini saya merasa masih begitu kurangnya saya membahagiakan beliau. 

Hutang budi yang tiada tara kepada Bapak dan Buk’e sepertinya tak akan pernah lunas dibayar. Seperti biasa Buk’e selalu bilang, melihatmu sehat dan bahagia seperti saat ini saja sudah membuat hatiku senang, tak perlu risau dengan jarangnya pulang ke rumah (Solo) keluargamu di Jakarta lebih penting untuk kamu perhatikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x