Mohon tunggu...
Adi Mahardika
Adi Mahardika Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Yang Hancur dan Yang Hilang, Gelombang Gelap Perubahan Iklim

13 Desember 2017   12:57 Diperbarui: 13 Desember 2017   17:37 762
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Beberapa waktu yang lalu, National Geographic mengunggah sebuah video fenomena di kepulauan Baffin di lingkar Arktik, hasil dokumentasi oleh Paul Nicklen.  Dalam video itu, seekor beruang kutub kurus berjalan lemah, jelas kelaparan. Nyaris hanya kulit yang menyelimuti tulang, ia mengais di sela-sela rongsokan yang ditinggalkan manusia. Sebagian besar kepulauan Baffin tidak lagi tertutupi oleh es, singa laut yang menjadi makanan utama beruang, telah semakin sulit ditemukan di daerah itu. Hal ini adalah salah satu dampak dari perubahan iklim, produk sampingan paling buruk yang dihasilkan oleh peradaban spesies kita.

Sejak dimulainya revolusi Industri, pembakaran bahan bakar fosil dan aktivitas lainnya oleh manusia, melepaskan berbagai gas rumah kaca, utamanya karbon dioksida, karbon monoksida, dan metana. Gas-gas ini memerangkap panas dari sinar matahari di dalam lapisan atmosfer bumi. Peningkatan suhu permukaan bumi membuat es di kutub mencair, menyebabkan permukaan air laut global semakin tinggi seiring waktu. Data satelit dari NASA mencatat rata-rata permukaan air laut dunia meningkat 3.4 mm per tahun. Sejak tahun 1993, rata-rata permukaan air laut bumi telah meningkat sebanyak 84.8 mm.

Dampak buruk perubahan iklim tidak hanya membuat es di kutub mencair, tetapi pengaruhnya telah merambah parah ke hampir semua pelosok planet ini, tidak terkecuali Indonesia. Gambar di bawah adalah foto pantai Rangkan di tenggara Bali, Indonesia. Sebagai anak yang tumbuh di daerah pesisir, saya cukup sering menghabiskan waktu bermain di pantai ini, 20 -- 15 tahun yang lalu. Namun sejak saat itu hingga sekarang, pantai ini telah berubah drastis. Daerah berpasir di pantai ini telah berkurang secara signifikan, dan kemiringannya menjadi jauh lebih curam, akibat terkikis oleh gelombang pasang dan permukaan air laut yang semakin tinggi. Area yang dulu dipenuhi tumbuhan katang-katang (Ipomea pres-caprae), pohon kelapa, dan lontar, kini sudah jauh berkurang. Bangunan pura yang berada di sebelah kanan pada foto, belum lama ini mengalami perbaikan dan penambahan tanggul di tepinya, setelah rusak dan roboh akibat dihantam gelombang laut pada bulan Juli lalu. Hal yang dalam memori saya belum pernah terjadi sebelumnya.

Selain pantai Rangkan, banyak daerah pesisir yang telah mengalami degradasi serupa di Bali. Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bali, pada tahun 2014, sepanjang 88.3 kilometer garis pantai di Bali telah mengalami abrasi. Salah satu penyebab utamanya memang adalah semakin tingginya permukaan air laut dan gelombang pasang.

sealevelrise-5a30c276dd0fa8098d13fcb2.png
sealevelrise-5a30c276dd0fa8098d13fcb2.png
Perubahan rata-rata permukaan air laut bumi dari tahun 1993-1995, sebagaimana dikompilasi oleh NASA (dengan penerjemahan seperlunya).

Perubahan iklim juga menyebabkan musim kemarau yang berkepanjangan. Kekeringan dapat terjadi hingga tingkat yang ekstrem apabila disertai dengan fenomena alam lain seperti El Nino. Pada juli hingga November 2015 yang lalu, Indonesia terpapar oleh gelombang panas El Nino. NASA menyebutkan El Nino ini lebih kuat dari rata-rata El Nino sebelumnya. Studi yang dipublikasikan oleh Goujian Wang dkk. pada jurnal sains Nature, menunjukkan peningkatan rata-rata suhu global berbanding linear dengan intensitas El Nino yang ekstrem seperti ini. Korelasi juga dihasilkan dari data yang dihimpun oleh Kaustubh Thirumalai dkk., yang mengindikasikan bahwa 26% dari peningkatan temperatur udara ekstrem yang melanda daratan utama Asia Tenggara pada awal 2016, disebabkan oleh pemanasan global, selain juga El Nino itu sendiri.

Musim kering berkepanjangan yang terjadi pada tahun 2015 menjadi salah satu pemicu kebakaran di beberapa area hutan dan lahan gambut di Kalimantan dan Sumatera. Presiden Joko Widodo, sebagaimana dilansir dari Sekretariat Kabinet RI, menyatakan kerugian yang diderita Indonesia pada musibah kebakaran ini mencapai Rp. 220 triliun. Asap yang ditimbulkan dari bencana ini menyebabkan kurang lebih 504.000 orang, yang sebagian besar adalah anak-anak, menderita infeksi saluran pernafasan. Sektor pendidikan juga terpengaruh, karena sekolah tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Seluas 2.6 juta hektar lahan rusak, yang mencakup lahan pertanian, perkebunan, dan hutan. Terbakarnya hutan merupakan degradasi terhadap habitat liar dan keanekaragaman hayati di dalamnya, yang menjadi ancaman serius bagi keseimbangan ekosistem setempat. Lahan gambut yang dilahap api juga merupakan kehilangan yang besar bagi dunia, karena lahan jenis ini merupakan salah satu wadah sekuestrasi karbon. Lahan gambut yang terbakar melepaskan kembali karbon ke udara, yang tentunya akan semakin meningkatkan jumlah gas rumah kaca di atmosfer.

Kekeringan berkepanjangan tahun 2015 juga memberikan dampak berat di Pulau Bali. Permukaan air di Danau Beratan menurun hingga 15 meter, hal yang pertama kali terjadi sejak beberapa dekade terakhir. Ini menjadi peringatan yang mencengangkan, karena Danau Beratan dan daerah perbukitan di sekitarnya merupakan salah satu reservoir dan daerah resapan air utama dalam siklus hidrologi di pulau Bali. Minimnya curah hujan kala itu membuat Bali sempat mengalami krisis air bersih selama beberapa waktu, yang juga mengganggu jalannya roda perekonomian. Musim kering tahun 2015 ini menunjukkan seberapa jauh pemanasan global dapat mempengaruhi kestabilan pulau-pulau kecil seperti Bali.

Pada kondisi yang berlawan dengan dengan kekeringan, perubahan iklim juga dapat memicu cuaca yang lebih ekstrem ketika musim hujan, misalnya terbentuknya siklon tropis yang lebih ganas. Lennart Bengtsson, dari World Meteorogical Organization, menyatakan sebagian besar model yang digunakan untuk mempelajari siklon tropis menunjukkan bahwa siklon cenderung menjadi lebih intens dalam iklim yang lebih panas.

Siklon tropis dapat menjadi sangat destruktif pada derajat tertentu. Seperti siklon Cempaka yang terjadi awal bulan Desember ini, yang menyebabkan banjir di 34 desa dan longsor di 176 titik di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Dikutip dari infografis yang diunggah oleh kepala humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho di akun Twitternya, bencana yang ditimbulkan oleh siklon cempaka merenggut 25 jiwa, merusak 4.609 unit rumah, ratusan infrastruktur, ribuan lahan pertanian, dan memaksa 16.872 warga mengungsi.

Siklon tropis Cempaka juga menyebabkan banjir di beberapa gua di daerah Gunung Kidul, yang  membahayakan kelestarian biodiversitas lokal. Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cahyo Rahmadi, melalui akun Twitter resmi LIPI, mengungkapkan bahwa di dalam gua hidup berbagai biota khas yang telah melalui evolusi dan teradaptasi khusus dengan kondisi di gua. Akibat dari banjir, biota khas gua ini dapat mengalami perubahan habitat secara drastis. Spesies terestrial yang hidup di gua berpotensi punah karena tidak mampu bertahan terlalu lama dalam genangan air. Sementara biota akutaik yang hidup dalam gua dapat mengalami perubahan persebaran karena terseret oleh banjir hingga ke daerah pesisir di hilir, kondisi yang juga sangat mengancam keberlangsungan populasinya. Kepiting Jacobson (Karstarma jacobsoni) adalah salah satu spesies unik di darah ini, endemik dari gua Gunung Sewu. Sementara udang dua putih (Macrobachium poeti), adalah spesies terancam punah yang hanya terdapat di gua Gunung Sewu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun