Mohon tunggu...
Adica Wirawan
Adica Wirawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - "Sleeping Shareholder"

"Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Financial Artikel Utama

Bunga KPR Rendah Bisa Picu "Tsunami Finansial"?

12 Juni 2019   09:01 Diperbarui: 12 Juni 2019   13:18 1039
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pergerakan harga sama CTRA yang menunjukkan tren turun (dokumentasi Adica)

Praktik ini kemudian menjadi populer. Oleh karena risiko sudah dilimpahkan ke pihak lain, ada banyak lembaga investasi yang "berlomba" menawarkan KPR. Mereka banyak menerima KPR tanpa memeriksa kemampuan finansial nasabahnya secara lebih detil.

Hal itu akhirnya berimbas pada penjualan properti. Oleh karena mayoritas orang bisa mengajukan KPR dengan mudah, harga properti di AS naik gila-gilaan. Tahun 2001-2007 adalah "masa keemasan" bagi pasar properti di sana.

Namun, seiring naiknya tingkat suku bunga AS yang bertahan lama, masa kejayaan tadi akhirnya redup. Pada tahun 2018, pemilik KPR jadi sulit melunasi utang, pasar properti ambruk, dan lembaga investasi yang menjual CDO akhirnya kolaps. Lehman Brothers, yang notabenenya bank investasi terbesar keempat di AS, menjadi korban atas "tsunami finansial" tersebut.

Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan

Untuk mencegah terjadinya "tsunami" tadi, Bank Indonesia (BI) berupaya menjaga stabilitas sistem keuangan dengan menerapkan kebijakan mikroprudensial dan makroprudensial. 

Mikroprudensial adalah kebijakan yang difokuskan mengawasi tingkat "kesehatan" institusi keuangan (bank dan nonbank). Kebijakan ini lebih memerhatikan aspek fundamental dari institusi keuangan yang bersangkutan.

Sebagai lembaga yang memiliki otoritas, BI terus memantau kondisi kesehatan bank-bank yang berada di bawah nauangan. Seperti seorang ibu, ia mesti memastikan bahwa anak-anaknya (bank) tumbuh dengan sehat.

Namun, ada kalanya satu-dua anak tadi terserang penyakit menular, seperti cacar. Kalau hal itu terjadi, BI bisa melakukan kebijakan tertentu supaya penyakit tadi tidak menyebar ke anak-anak lain. 

Ia tentu tidak ingin rumah tangga kacau lantaran semua anak "kompak" terkena penyakit yang sama. Ia mesti menyembuhkan anak-anak tadi dengan memberinya obat dengan dosis yang tepat.

Dari perumpamaan tadi, kita jadi tahu bahwa BI akan melakukan berbagai upaya untuk meredam risiko keuangan yang bersifat sistemik. Ingat bailout yang dilakukan BI untuk menyelamatkan Bank Century yang sedang "sekarat" pada tahun 2009 lalu? Langkah itu merupakan salah satu kebijakan BI untuk mempertahankan kondusivitas iklim ekonomi di tanah air.

Bank Century (sumber: https://static.republika.co.id)
Bank Century (sumber: https://static.republika.co.id)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun