Mohon tunggu...
Adica Wirawan
Adica Wirawan Mohon Tunggu... Wiraswasta - "Sleeping Shareholder"

"Sleeping Shareholder" | Email: adicawirawan@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Harkulnas 2018, Memanjakan Penikmat Kuliner dan Menggenjot Ekonomi UKM

16 Mei 2018   10:18 Diperbarui: 16 Mei 2018   10:36 1161
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
go food festival di grand galaxy park, bekasi (sumber: dokumentasi pribadi)

".. semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya.. menahan rasa ingin jumpa.."

Dari sebuah gerai makanan tiba-tiba saja terdengar lirik lagu Kangen karya grub band Dewa di atas. Saya tak begitu paham alasan si pemilik gerai menyetel lagu itu. Apakah itu sebuah suatu bentuk "kesengajaan" dari si penjaga stand agar para muda-mudi yang sedang makan di sekitarnya ikut "terbawa suasana" alias "baper" jelang malam Minggu? Bisa saja.

Namun demikian, apapun alasannya, setidaknya lagu tersebut hadir "mengusir" suasana panas di sekitar stand kuliner sewaktu saya menyambangi Go Food Festival di kawasan Grand Galaxy Park, Kota Bekasi, pada hari Sabtu, 12 Mei kemarin.

Sebetulnya saya sudah mendengar gelaran Go Food Festival seminggu sebelumnya. Acara yang diselenggarakan oleh Gojek dalam menyambut Hari Kuliner Nasional 2018 itu memang diadakan di sejumlah tempat, seperti Jakarta, Palembang, Surabaya, dan Makassar. Selain memperkenalkan kuliner Nusantara, event itu juga bertujuan "menggenjot" roda perekonomian UKM yang bermintra dengan Gojek.

Biarpun sudah dibuka pada tanggal 5 Mei lalu, saya baru sempat mengunjunginya pada h-1 penutupan. Makanya, ketika ada kesempatan, saya akhirnya "melipir" ke Grand Galaxy Park Bekasi, menjelajahi stand makanan di Go Food Festival, lalu menikmati wisata kuliner yang tentunya "memanjakan" lidah.

suasana stand-stand di go food festival, grand galaxy park (sumber: dokumentasi pribadi)
suasana stand-stand di go food festival, grand galaxy park (sumber: dokumentasi pribadi)
Walaupun suasananya tampak lengang, saya melihat beragam jenis kuliner di dalamnya. Kuliner itu di antaranya ialah bakso, nasi goreng, dan seblak. Di antara sekian banyak kuliner yang tersedia, mata saya tertuju pada stand Pempek Lenggok. Pada saat itu, perut saya belum lapar-lapar amat. Makanya, terasa pas kalau saya menyantap olahan pempek di stand tersebut sekadar untuk icip-icip.

stand pempek lenggok (sumber: dokumentasi pribadi)
stand pempek lenggok (sumber: dokumentasi pribadi)
Agar lebih praktis, saya memutuskan makan di tempat. Makanya, kemudian saya memesan satu porsi pempek seharga Rp 17.500, lengkap dengan mie kuning di dalamnya. Pembayaran dilakukan memakai Gopay. Untungnya, saldo di Gopay saya cukup. Jadi, saya segera membuka fitur scan, mengarahkan "mata kamera" ke barcode, dan mengurus proses pembayaran. Semua transaksi dilakukan secara nontunai. Sungguh praktis.

semua transaksi dilakukan memakai gopay (sumber: dokumentasi pribadi)
semua transaksi dilakukan memakai gopay (sumber: dokumentasi pribadi)
Selagi si embak menggoreng pempek, saya sempat mengobrol dengan sekuriti setempat. Darinyalah saya mengetahui bahwa event Go Food Festival akan diselenggarakan setahun penuh. Jadi, biarpun secara resmi berakhir tanggal 13 Mei, penjualan makanan akan berlanjut.

Kemudian, iseng-iseng saya juga bertanya penyebab sejumlah stand tampak sepi. Pak sekuriti kemudian menjelaskan bahwa si pemilik stand "hijrah" menjajakan dagangannya di kawasan Gelora Bung Karno (GBK). Maklum saja, di sana, sedang ada event yang dikunjungi banyak warga. Makanya, lumayan banyak pedagang yang berduyun-duyung "berebut" rezeki di situ.

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pesanan saya tiba. Secara sekilas, Pempek Lenggok terlihat sama dengan pempek lainnya. Ia terbikin dari tepung yang dibentuk sedemikian rupa dengan isian berupa telur dan campuran mie kuning.

pempek lenggok siap disantap (sumber: dokumentasi pribadi)
pempek lenggok siap disantap (sumber: dokumentasi pribadi)
Namun demikian, yang membedakan pempek tersebut dengan lainnya ialah kuah cuko-nya. Sewaktu saya mencicipi kuahnya, memang ada sensasi pedas dan asam yang muncul di lidah. Kedua rasa tersebut seolah menyatu dan meresap ke dalam kulit pempek yang gurih.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun