Mohon tunggu...
Adian Saputra
Adian Saputra Mohon Tunggu... Jurnalis - Jurnalis

Menyukai tema jurnalisme, bahasa, sosial-budaya, dan lainnya. Saban hari mengurus wartalampung.id, sesekali menjadi pembicara dan pengajar tamu jurnalisme. "Menulis enggak mesti jadi jurnalis. Itu keunggulan komparatif di bidang kerja yang kamu tekuni sekarang."

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

1 Abad NU, Mengapa Sulit Melahirkan Lagi Tokoh Sekaliber Gus Dur?

9 Februari 2023   10:46 Diperbarui: 9 Februari 2023   10:50 208
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Headline Kompas edisi wafatnya Gus Dur. Sumber foto Twitter Billy Khaerudin

Abdurahman Wahid memang menjadi fenomena di Indonesia. Apalagi kala cucu pendiri NU Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari itu menjadi presiden RI. 

Satu peninggalan Gus Dur, sapaan akrab Abdurahman Wahid, saat menjadi presien, adalah membuka sekat-sekat kebangsaan dengan memberikan peluang kepada kalangan Tionghoa untuk merayakan Imlek dengan bebas dengan segala varian budayanya.

Gus Dur juga membuka jalan bagi banyak elemen masyarakat untuk semakin egaliter. Pada pokoknya, Gus Dur dipandang sebagai pahlawan bagi keberagaman.

Jauh sebelum itu, Gus Dur dikenal sebagai kolumnis. Saya ingat sempat membaca beberapa tulisan Gus Dur di tabloid Bola

Ulama kenamaan NU ini memang piawai dalam mengutak-atik narasi dalam tema sepak bola. Hebatnya lagi, prediksi Gus Dur ini sering betulnya. Saya menyaksikan sendiri.

Waktu Piala Dunia tahun 1998 digelar di Prancis, TVRI melakukan wawancara dengan Gus Dur. Pertandingan pertama mempertemukan juara bertahan Brasil dengan tim Skotlandia. Usai bincang sana dan sini, presenter tanya kepada Gus Dur.

"Gus, Brasil lawan Skotlandia kira-kira siapa yang menang dan berapa skornya."

Gus Dur dengan enteng menjawab, "Brasil yang menang, skornya 2-1 untuk Brasil."

Presenter acara tanya lagi ke Gus Dur. Kenapa Gus Dur pegang Brasil menang, bukannya Skotlandia.

Gus Dur jawab sambil terkekeh. "Skotlandia sering kalah."

Usai itu, saya menonton pertandingan pembuka Piala Dunia 1998 di Prancis di TVRI. Saya memang suka dengan Brasil. Faktor utama karena saya fans berat kiper Timnas Brasil Claudio Taffarel. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun