Adi Ankafia
Adi Ankafia Art Worker

Ordinary People; Sabrang Noelliam Bagaskara Mandjer Kawuryan; Grá Sabrina Laniakea Myristica Naira; Facebook : Adi Ankafia; Instagram : @adiankafia

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

"Si Doel The Movie", Polemik (Cinta Segitiga) yang Tak Kunjung Usai

8 Agustus 2018   13:59 Diperbarui: 12 Agustus 2018   21:23 3343 8 1
"Si Doel The Movie", Polemik (Cinta Segitiga) yang Tak Kunjung Usai
Si Doel The Movie. Sumber Foto: Kompas.com/Dian Reinis Kumampung

"Di, sudah nonton Si Doel The Movie?" tanya Mas Ferianto (untuk selanjutnya akan disebut sebagai Mas Feri) kepada saya kemarin pagi saat sarapan di kantor sebelum memulai rutinitas sebagai buruh di salah satu lembaga litbang pemerintah ternama di tanah air, sebut saja ****. 

Raut mukanya tampak memerah kepedasan oleh sambal matah, bekal sarapan buatan istrinya. Padahal istrinya bukan orang Bali. Dan, sarapan sambal matah? Seriously?

"Belum, Mas, saat premiere tanggal 2 Agustus kemarin saya kehabisan tiket." Jawab saya bersanding nada keluh.

Mas Feri mengangguk-angguk paham.

"Nanti istirahat siang aja, yuk, nonton Si Doel The Movie! Sekalian Mas Teguh juga kita culik!" Ajak Mas Feri setelah menandaskan sisa sambal matah dengan cara menenggaknya. Mas Teguh merujuk kepada seorang teman kantor yang duduk tepat di sebelah kanan saya, sementara Mas Feri duduk tepat di sebelah kiri saya. Jadi, posisi meja kerja saya diapit oleh Mas Feri dan Mas Teguh. Mas Teguh manut aja sama ajakan Mas Feri dan Saya.

Dari Kiri ke Kanan : Mas Ferianto, Mas Teguh, dan Saya (Dokumen Pribadi @adiankafia)
Dari Kiri ke Kanan : Mas Ferianto, Mas Teguh, dan Saya (Dokumen Pribadi @adiankafia)
Mas Feri dan Mas Teguh adalah senior saya di kantor. Diantara kami bertiga, Saya adalah yang paling muda. Jika diibaratkan dalam dunia persilatan, Saya adalah murid paling bungsu. Pada masa awal saya sebagai new kids on the blocksaya memanggil mereka dengan sebutan Pak Feri dan Pak Teguh. For Your Information, mereka berdua, masing-masing sudah beristri dan memiliki anak. Saya?... belooon!

Tiket Si Doel The Movie (Dokumen Pribadi @adiankafia)
Tiket Si Doel The Movie (Dokumen Pribadi @adiankafia)
Nonton Si Doel The Movie disponsori oleh Mas Feri. Semacam farewell party kecil-kecilan mengingat minggu depan Mas Feri sudah akan melanjutkan sekolah untuk meraih gelar Master di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Pada dasarnya saya bukanlah penonton setia serial Si Doel Anak Sekolahan di zamannya. Saat itu saya lebih familiar dengan serial Friends. Bukan sok kebarat-baratan, tapi, saya masih terlalu ingusan untuk memahami problematika Doel-Sarah-Zaenab. 

Kendatipun demikian, animo masyarakat yang merindukan Si Doel sejak episode terakhir yang cukup gantung di tahun 2006 berhasil memprovokasi saya untuk menjadi ikut penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Dua belas tahun, dan, tentunya rindu sudah cukup tebal bahkan mengkerak.

Si Doel The Movie dari kacamata saya terlalu banyak adegan klise. Si Doel The Movie agak sedikit ternoda oleh dominasi polah tingkah Mandra. Meski, menurut Mas Feri tanpa peran Mandra, Si Doel The Movie habis karena terlalu flat. Ada benarnya juga. Tapi, tidak sepenuhnya benar karena Mandra sudah terlalu berlebihan. Seperti sayur asem yang kebanyakan garam.

Saya menduga, Si Doel, dalam hal ini Rano Karno nyang jadi dalangnye sengaja menampilkan Si Doel The Movie seperti sekumpulan clue-clue cerita yang bakal dikembangkan pada sekuel-sekuel selanjutnya. 

Sebagai tahap awal semacam woro-woro : "Eh! Si Doel masih ada, lho!" hanya saja, yang patut disayangkan, Rano Karno, sebelum produksi film, tidak mempersiapkan dirinya agar tampak sebagai Doel yang cool dan gagah, seperti misalnya diet karbo dan rutin nge-gym. Saya sempat membayangkan jika dibantu teknologi CGI untuk mengesankan badan Doel yang atletis. Saya yakin, Bang Rano bakal bilang : "Emangnye aye mau jadi Kapten Amerike!"  <--- merujuk pada film Captain America : The First Avenger (2011). Ya kali, Bang, Amerika jadi Amerike.

Beberapa adegan yang saya cermati di trailer sepertinya tidak ditampilkan, yaitu ketika Mandra minta sambal ke (disinyalir) tukang hot dog di Amsterdam saat sedang sighseeing bareng Doel yang di-guide oleh Hans, dan adegan ketika Zaenab (Maudy Koesnadi) menelpon Si Doel yang sedang di Amsterdam dan menanyakan: "Kok, kayak ada suara kereta, Bang?", lalu Doel menjawab : "Oh, iye, emang tokonye deket stasiun kereta." Saya tidak tahu kenapa tidak ditayangkan. Apakah hanya untuk keperluan trailer?

Pada prinsipnya konflik dalam Si Doel The Movie sudah terbangun cukup apik dan natural. Diselaraskan dengan kondisi nyata. Doel konsisten  tidak menggantikan peran-peran yang sudah ditinggalkan oleh pemerannya yang sudah meninggal. 

Sejak di serial yang total jendral menghasilkan 162 episode yang tayang sejak tahun 1994 sampai 2006, Doel tidak mengganti peran Babeh dengan aktor lain setelah Benyamin meninggal, pun dengan Pak Tile, dan Mas Karyo. Skenario disesuaikan dengan kondisi real. Doel tidak ingin ikut-ikutan virus film-film tanah air berlabel Reborn yang beberapa waktu lalu sempat menjangkit.

Si Doel The Movie secara otomatis tidak lepas dari cinta segitiga antara Doel-Sarah-Zaenab. Diceritakan bahwa Sarah (Cornelia Agatha) pergi meninggalkan Doel ke Belanda, tanpa pamit. 

Saat itu Sarah dibakar api cemburu karena Doel membantu Zaenab (Maudy Koesnadi) yang tengah keguguran anak pertamanya. Zaenab yang juga jatuh hati pada Doel cintanya terhalang restu orang tuanya yang tidak menyukai Doel karena meski sudah Insinyur (Sarjana) tapi belum punya pekerjaan tetap. Malah narik oplet bareng Mandra yang notabene adalah adik dari Mak Nyak (Aminah Cendrakasih) atau dengan kata lain adalah pamannya Doel. 

Zaenab terpaksa menikah dengan Koh Ahong, juragan pabrik batu bata yang kaya raya pilihan orang tuanya.

Zaenab sosok yang kalem, nrimo, dengan wujud ayu natural khas gadis desa yang bersahaja, santun, dan terpelajar. Berbanding terbalik dengan Sarah yang lebih modern. Bisa dimaklumi karena Sarah adalah keturunan orang kaya yang sudah punya pengalaman sekolah di luar negeri sebelumnya. Sarah adalah perempuan tahan banting dan pribadi yang selalu optimis serta sosok yang pemurah. 

Doel sendiri menjadi unik dan memiliki nilai plus di mata Sarah karena Doel adalah sosok anak Betawi yang teguh memegang prinsip ke-Betawi-annya. Anak Betawi tulen yang tidak terbawa arus zaman namun tetap berkompromi dengan perkembangan zaman tanpa berlebihan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3