Mohon tunggu...
Achmad Siddik Thoha
Achmad Siddik Thoha Mohon Tunggu... Dosen - Pengajar dan Pegiat Sosial Kemanusiaan

Pengajar di USU Medan, Rimbawan, Peneliti Bidang Konservasi Sumberdaya Alam dan Mitigasi Bencana, Aktivis Relawan Indonesia untuk Kemanusiaan, Penulis Buku KETIKA POHON BERSUJUD, JEJAK-JEJAK KEMANUSIAAN SANG RELAWAN DAN MITIGASI BENCANA AKIBAT PERUBAHAN IKLIM. Follow IG @achmadsiddikthoha, FB Achmad Siddik Thoha

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Ekowisata Halal, Sinergi Pelestarian Alam dan Iman

10 Januari 2018   23:05 Diperbarui: 11 Januari 2018   17:35 1289
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tren wisata dunia salah satunya mengarah ke wisata berbasis alam dan ramah lingkungan. Banyak orang mengenal tipe wisata ini dengan istilah ekowisata. Ekowisata merupakan istilah ideal bagi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak alam bahkan justru menjadi pengungkit bagi upaya pelestarian alam yang lebih optimal.

Ada beberapa poin penting dari ekowisata yang berasal dari kata ecotourism. Berikut pengertin ekowisata dari Wikipedia yang lebih mudah dipahami secara umum. Ecotourism is a form of tourism involving visiting fragile, pristine, and relatively undisturbed natural areas, intended as a low-impact and often small scale alternative to standard commercial mass tourism. It means responsible travel to natural areas conserving the environment and improving the well-being of the local people. Its purpose may be to educate the traveler, to provide funds for ecological conservation, to directly benefit the economic development and political empowerment of local communities, or to foster respect for different cultures and for human rights (baca tentang ecotourism di sini).

Ekowisata berawal dari keprihatinan dunia terhadap kerusakan lingkungan yang salah satunya diakibatkan oleh pembangunan infrastruktur pariwisata yang serampangan. Menjamurnya bangunan hotel dan vila di kawasan hijau adalah salah satu hal yang mendorong bangkitnya kesadaran lingkungan pengelola wisata. Termasuk juga mulai terkikisnya nilai tradisi dan budaya lokal akibat komersialisasi wisata. (Baca  Perkiraan Tren Pariwisata Indonesia 2015disini)

Penulis pernah menjadi salah satu tim ahli yang mendampingi lembaga pengelolaan hutan tingkat tapak di beberapa Kabupaten di Sumatera Utara (Sumut) untuk membuat rencana pengelolaan hutan jangka panjang pada akhir Desember 2017.  Semua wilayah dibawah pengelolaan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) memiliki program kerja pengembangan ekowisata. Ini mengindikasikan bahwa ekowisata menjadi alternatif terbaik bagi pelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sangat tepat dengan visi pembangunan kehutanan nasional yaitu "Hutan Lestari dan Rakyat Sejahtera". Apalagi provinsi Sumatera Utara sangat kaya dengan keindahan alam, budaya, etnis dan kehidupan toleransi dalam keberagaman.

Pengelolaan ekowisata bukan tanpa kendala. Banyak lokasi ekowisata yang lebih mengakomodir keinginan wisatawan mancanegara dari negara barat yang mayoritas nonmuslim. Pengalaman saya berkeliling di beberapa lokasi ekowisata di Sumut, fasilitas bagi turis mancanegara dari Barat begitu mudah ditemukan termasuk makanan dan minuman. Sebut saja minuman beralkohol dan cara berpakaian yang sangat terbuka. Pengelola ekowisata cenderung membuka diri dan kadang memaksakan diri dengan melonggarkan aturan konsumsi minuman beralkohol dan tata cara pakaian ala Barat di daerah wisata. Padahal lokasi ekowisata tersebut banyak pemeluk agama Islam dan masih memiliki budaya ketimuran termasuk dalam hal berpakaian dan pergaulan.

Fenomena begitu terbukanya penerapan budaya asing di lokasi ekowisata bisa berimplikasi pada menurunnya minat wisatawan yang menginginkan wisata halal. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang sangat besar sebagai destinasi pariwisata halal skala global. Wisatawan muslim domestik  maupun wisatwan dari negeri muslim umumnya enggan berwisata ke tempat yang tidak menyediakan suasana dan tempat yang aman bagi terpeliharanya suasana keagamaan yang mendukung.

Wisatawan muslim tetap merasa resah bila perjalanan wisatanya tidak menjamin terpeliharanya aktivitas ibadah dan syariah yang mereka yakini meski berada di tempat yang sangat indah. Bukankah bagi seorang muslim, berkunjung ke tempat wisata bisa merupakan sarana lebih mendekatkan diri pada Yang Maha Pencipta dan Yang Maha Besar. Bukan sebaliknya, malah terjerumus pada perbuatan dosa atau lalai dalam mengingat-Nya.

Misalnya, ketika berkunjung ke lokasi wisata Danau Toba, sebagai salah satu lokasi ekowisata terbesar yang menjadi tujuan pariwisata dunia yang dimiliki Indonesia. Di situ wisatawan akan melihat betapa kekuasaan Allah demikian besar sehingga terbentuklah danau yang begitu luas dengan bentang alam yang sangat menakjubkan. Dengan melihat Danau Toba, muncullah kesadaran bahwa Tuhan begitu besar kuasanya dan Tuhan sangat indah dan menyukai keindahan. Dari perenungan tentang Danau Toba tersebut maka terbaharuilah iman wisatawan.

Danau Toba Sumatera Utara (sumber Kompas.com)
Danau Toba Sumatera Utara (sumber Kompas.com)
Contoh lain adalah ekowisata di Tangkahan Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Di situ wisatawan dapat melihat keindahan hutan hujan tropis, atraksi gajah, pantai kupu-kupu dan sungai yang sangat jernih. Keindahan alam yang sangat alami dan menakjubkan di Tangkahan ini, bisa membantu menjernihkan jiwa sehingga makin dekat dengan Tuhan.

Alangkah baiknya bila spriritualitas yang meningkat dari wisawatan ekowisata ini tetap "lestari" dengan pelayanan pariwisata dan "nyambung" dengan suasana spritulitas ini. Pada saat iman meningkat, akan sangat bertentangan bila pengelola malah menyuguhkan suasana yang tidak halal menurut pengunjung muslim atau menyalahi budaya ketimuran. Saat suasana hati dekat dengan Tuhan ketika menikmati atrakasi pariwisata yang mengagumkan, maka suasana ini bisa terus bersambung dengan sarana ibadah yang nyaman, makanan halal yang lezat dan suasana penginapan yang aman syar'i serta lokasi yang terjaga adab yang tidak menyalahi syariah.

Di situlah indahnya berwisata halal di lokasi ekowisata. Alam terjaga, hutan lestari, masyarakat makin sejahtera dan iman terjaga. Bagaimana mewujudkan sinergi dua misi ini, lestari iman dan alam?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun