Mohon tunggu...
Achmad Ridwan Sholeh
Achmad Ridwan Sholeh Mohon Tunggu... Pegawai

Ayah dari Achmad Ibrahim

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Pilihan

Pengalaman Turun Mesin Setelah 14 Tahun, Supra 125

20 Maret 2020   10:56 Diperbarui: 20 Maret 2020   11:23 123 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pengalaman Turun Mesin Setelah 14 Tahun, Supra 125
Supra 125 tahun 2006 menemani dari SMP hingga anak dua--dokpri

Sekedar mau berbagi cerita pengalaman tentang turun mesin sepeda motor saya.

Tipe motor Supra 125 tahun keluaran 2006 belum injeksi masih karburator. Ini satu-satunya kendaraan saya yang telah menemani lebih dari 14 tahun, mulai dari SMP, SMA, S1, S2, hingga sekarang menikah dan hampir memiliki anak dua. Sungguh perjalanan panjang dimana dia tak pernah berkeluh kesah selama mendampingi saya, Supra you are awesome...! yang secara de jure masih atas nama Ibu saya wkwkwk.

Harus saya akui Supra 125 saya ini minim perawatan yang berarti, paling cuma ganti oli 2 bulan sekali dan servis rutin 4 bulan sekali kadang juga 6 bulan sekali. Tak ada permasalahan berarti kecuali ganti bodi yang plastik-plastik 3 kali karena kecelakaan lalu lintas (Biasa dulu gejolak kawula muda).

Sebenarnya beberapa kali ada keinginan untuk menjualnya, mengingat sekarang lagi ngetrennya matic bongsor milik H*nda dan Y*maha yang selalu berseliweran. Tapi keinginan itu urung dikarenakan istri lebih memilih untuk menabung dan membeli kendaraan dengan roda yang lebih banyak. 

"Yah masak anak sudah mau dua masih naik motor? (istri lagi hamil anak kedua saat ini)" ucapnya. Saya pikir-pikir, "iya juga gimana ribetnya nanti kalau sudah punya anak dua masih naik motor kemana-mana" Akhirnya saya putuskan menikmati motor Supra 125 ini lebih lama. Toh rasanya sama saja dengan PeCe-Ex dan En Mek , kalau hujan ya sama-sama kehujanan juga, meskipun motor saya kalau disandingkan jauh lebih buluk.

Setahun terakhir motor Supra saya ini merupakan silent transportation, sangat ramah dengan pengendara lain. Tidak bisa ngebel, tidak bisa sein kanan kiri, lampu rem dan lampu belakang mati, indikator mati rem agak los-los gimana gitu dan hanya bisa kick starter, intinya kelistrikannya down. Saya masih tidak masalah dengan semua, toh masih membuat saya sampai kantor dengan selamat wal afiat.

Dan tiba-tiba kurang lebih 6 bulan lalu motor ini MOGOK, ya mogok di tanjakan kampung saya hari Jum'at lagi. Setelah 14 tahun mengabdi tanpa bersua tidak ada angin dan hujan motor itu terhenti. Sebelum kejadian mogok, motor sudah mengeluarkan asap tipis berwarna putih dan oli cepat berkurang. Ini diketahui saat ganti oli, dimana oli bekas yang akan diganti tersisa sedikit.

Sebenarnya sebelum mogok itu sudah terasa pada gasnya. kalau ditarik endut-endutan dan akhirnya ditanjakan curam itu  gas sudah los dan berhenti. Mana lagi nganter istri kantor, akhirnya seperti ibu-ibu pada umumnya ...... NGOMEL. Saya suruh naik angkot aja ke kantornya daripada nungguin motor yang saya saja gak tahu cara ngebenerinnya.

Setelah bolak-balik cari bengkel karena banyak bengkel yang tutup karena hari Jum'at (di daerah saya hari Jum'at banyak toko-toko tutup) akhirnya ketemu satu bengkel yang buka. Dititiplah selama seharian dan saya pergi ke kantor naik angkot juga.

Setelah selesai motor hidup kembali, menurut montirnya klep motor perlu diganti dan jangan terlambat ganti oli. Biaya ganti klep dan montir Rp. 180.000. Motor kembali hidup meskipun saat itu kelistrikan belum dibenahi dan asap motor juga tidak terlihat.

Tapi keadaan normal tak berlangsung lama. Kira-kira 4 bulan lalu motor saya kembali mengeluarkan asap (asapnya warna putih), sama seperti sebelum ganti klep. Oli pun tinggal sedikit saat ganti oli. Saran dari tukang bengkel langganan saya untuk turun mesin. whatt???. Menurutnya ini sudah kena sekernya, kalau dibiarkan oli akan terus habis dan tambah parah kerusakannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x