Mohon tunggu...
Sri Wintala Achmad
Sri Wintala Achmad Mohon Tunggu... Biografi Sri Wintala Achmad

SRI WINTALA ACHMAD menulis puisi, cerpen, novel, filsafat dan budaya Jawa, serta sejarah. Karya-karya sastranya dimuat di media masa lokal, nasional, Malaysia, dan Australia; serta diterbitkan dalam berbagai antologi di tingkat daerah dan nasional. Nama kesastrawannya dicatat dalam "Buku Pintar Sastra Indonesia", susunan Pamusuk Eneste (Penerbit Kompas, 2001) dan "Apa dan Siapa Penyair Indonesia" (Yayasan Hari Puisi Indonesia, 2017). Profil kesastrawanannya dicatat dalam buku: Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku (Balai Bahasa Yogyakarta, 2016); Jajah Desa Milang Kori (Balai Bahasa Yogyakarta, 2017); Menepis Sunyi Menyibak Batas (Balai Bahasa Jawa Tengah, 2018). Sebagai koordinator divisi sastra, Dewan Kesenian Cilacap periode 2017-2019.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Pusat Pemerintahan Sriwijaya dalam Polemik para Sejarawan

4 Juli 2019   18:21 Diperbarui: 5 Juli 2019   01:46 0 12 3 Mohon Tunggu...
Pusat Pemerintahan Sriwijaya dalam Polemik para Sejarawan
Sumber gamba: akurat.co 

Kerajaan terbesar di wilayah Nusantara yang berada di Pulau Sumatera adalah Sriwijaya (Srivijaya, Siwichai, Shi-li-fo-shih, atau San-fo-tsi). Suatu kerajaan maritim dan sekaligus sebagai kerajaan Buddha terbesar di Asia Tenggara yang mengalami perpindahan ibu kota sebanyak empat kali sebelum masa kehancurannya karena serangan Rajendra Chola dari Kerajaan Chola (India).

Awal mula, Sriwijaya yang menurut sebagian sejarawan beribukota di Minanga Tamwan (Riau daratan), kemudian berlanjut ke Muoro Jambi, Palembang, Medang (Jawa), kembali ke Palembang, dan Kadaram (Kedah). Namun urutan ibu kota Sriwijaya tersebut pernah memicu perdebatan dan polemik di antara para sejarawan.

Pusat Pemerinthan 

Karena nama Sriwijaya mulai dikenal pada tahun 1920, maka fakta sejarah kerajaan tersebut masih dalam polemik di antara para sejarawan. Perdebatan yang sangat menonjol di antara para sejarawan menyoal ibu kota pertama Sriwijaya ketika didirikan oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa (prasasti Kedukan Bukit, 605 Saka atau 683 M).

Dok. Araska Publisher
Dok. Araska Publisher

Teori Palembang yang diajukan oleh Coedes dan mendapat dukungan Pierre-Yves Manguin menyebutkan bahwa ibu kota pertama Sriwijaya terletak di tepi Sungai Musi. Berdasarkan hasil observasinya, Coedes menegaskan bahwa ibu kota Sriwijaya berada di sungai Musi antara bukit Seguntang dan Sabokingking (terletak di Sumatera Selatan sekarang), tepatnya di sekitar situs Karanganyar yang sekarang dijadikan Taman Purbakala Sriwijaya.

Pendapat Coedes di muka berdasarkan foto udara (1984) yang menunjukkan bahwa situs Karanganyar menampilkan bentuk bangunan air, yaitu jaringan kanal, parit, kolam serta pulau buatan manusia yang disusun rapi. 

Bangunan air tersebut terdiri atas kolam dan dua pulau berbentuk bujur sangkar dan empat persegi panjang, serta jaringan kanal dengan luas areal meliputi 20 hektar. Di kawasan tersebut ditemukan banyak peninggalan purbakala yang menunjukkan pernah dijadikan pusat permukiman dan pusat aktivitas manusia.

Sementara, Soekmono berpendapat bahwa ibu kota pertama Sriwijaya terletak di kawasan sehiliran Batang Hari antara Muara Sabak sampai ke Muara Tembesi (sekarang Jambi), dengan catatan Malayu tidak berada di kawasan tersebut. Jika Malayu berada di kawasan tersebut, Soekmono cenderung sependapat dengan teori Moens. 

Di mana letak ibu kota pertama Sriwijaya berada pada kawasan candi Muara Takus (Riau) dengan asumsi petunjuk arah perjalanan dalam catatan I-tsing dan berkaitan dengan berita pembangunan candi yang dipersembahkan oleh raja Sriwijaya (Se-li-chu-la-wu-ni-fu-ma-tian-hwa atau Sri Cudamaniwarmadewa) kepada kaisar Cina.

Teori Moens di muka mendapat dukungan Poerbatjaraka yang menyatakan bahwa Minanga Tamwan disamakan dengan daerah pertemuan sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri, Riau, tempat di mana candi Muara Takus berdiri. 

Lebih jauh Poerbatjaraka menyatakan bahwa kata "tamwan" berasal dari kata "temu", lalu ditafsirkannya "daerah tempat sungai bertemu". Namun yang pasti semasa penaklukan Sriwijaya oleh Rajendra Chola I, berdasarkan prasasti Tanjore, kerajaan tersebut beribukota di Kadaram (Kedah sekarang).

Pada tahun 2013, penelitian arkeologi yang dilakukan oleh Universitas Indonesia menemukan beberapa situs keagamaan dan tempat tinggal di Muaro Jambi. Ini menunjukkan bahwa ibu kota awal Sriwijaya terletak di Muaro Jambi di tepian sungai Batang Hari dan bukan di sungai Musi. 

Situs arkeologi mencakup delapan candi yang sudah digali di kawasan seluas sekitar 12 kilometer persegi, membentang 7,5 kilometer di sepanjang sungai Batang Hari, serta 80 menapo atau gundukan reruntuhan candi yang belum dipugar.

Situs Muaro Jambi yang ditemukan melalui penelitian arkeologi tersebut bercorak Buddha Mahayana-Wajrayana. ini menunjukkan bahwa situs tersebut merupakan pusat pembelajaran agama Buddhis yang berkaitan dengan tokoh cendekiawan Buddhis yakni Suvaradvipi Dharmakirti dari abad ke-10. Catatan sejarah dari Cina juga menyebutkan bahwa Sriwijaya menampung ribuan biksu.

Teori lain berpendapat bahwa ibu kota Sriwijaya terletak di Chaiya, Surat Thani, Thailand Selatan. Chaiya ditafsirkan dari kata "cahaya" dalam bahasa Melayu. Ada pula yang percaya bahwa Chaiya identik dengan Sriwijaya. Sekalipun teori tersebut didukung oleh sejarawan Thailand, namun dianggap kurang kuat.

Perpindahan Pusat Pemerintahan 

Dari beberapa teori di muka, sebagian besar sejarawan sepakat bahwa Minanga Tamwan merupakan ibu kota awal Sriwijaya di masa pemerintahan Dapunta Hyang Sri Jayanasa (Dapunta Sailendra). Pendapat tersebut berpijak pada teori Moens yang mendapatkan dukungan Poerbatjaraka.

Sementara penelitihan arkeologi yang dilakukan oleh Universitas Indonesia menyebutkan bahwa Muoro Jambi merupakan pusat pemerintahan awal Sriwijaya. Dari sini muncul dugaan bahwa sesudah Minanga Tamwan, ibu kota Sriwijaya berpindah ke Muoro Jambi.

Dengan demikian teori Coedes yang menyebutkan bahwa pusat pemerintahan awal Sriwijaya berada di Palembang kurang mendapat dukungan dari para sejarawan. Sekalipun Moens sepakat bahwa Palembang pernah menjadi ibu kota Sriwijaya sesudah Dapunta Hyang datang ke wilayah tersebut.

Selanjutnya Moens menyatakan ketika pusat pemerintahan Dapunta Hyang berada di Palembang, salah satu keluarga dalam dinasti tersebut berpindah ke Jawa. Dari sini muncul perkiraan bahwa pengaruh Dinasti Dapunta Hyang yang dikenal dengan Dinasti Sailendra mulai menyebarkan pengaruhnya di Jawa sejak tahun 674.

Pengaruh Dinasti Sailendra semakin kuat ketika Rakai Panangkaran Dyah Pancapana berhasil menggulingkan kekuasaan Ratu Sanjaya di Medang pada tahun 760. Bahkan sejak Rakai Panangkaran (Jawa) atau paska pemerintahan Sri Maharaja (Palembang) hingga akhir pemerintahan Rakai Garung Dyah Samaratungga pada tahun 833, ibu kota Sriwijaya berpindah dari Palembang ke Jawa (Medang). 

Namun sejak Balaputradewa (putra Rakai Warak Dyah Samaragrawira atau Rakai Garung Dyah Samaragriwa) menjabat raja, ibu kota Sriwijaya kembali ke Palembang (Swarnadwipa).

Pusat pemerintahan di Swarnadwipa berakhir semasa pemerintahan Sri Cudamani Warmadewa. Semasa pemerintahan Sri Maravijayottunggawarman, ibu kota Sriwijaya berpindah di Kataha. Sejak pemerintahan Sangrama-Vijayottunggawarman hingga Sri Dewa, ibu kota Sriwijaya berpindah di Kadaram. 

Sesudah itu, Sriwijaya mengalami keruntuhannya sesudah mendapat serangan dari Rajendra Chola. Paska runtuhnya Sriwijaya, timbullah dua kerajaan yakni Darmasraya dan Malayupura (Pagaruyung). [Sri Wintala Achmad]

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3