Abu Fathan
Abu Fathan wiraswasta

Abu Fathan adalah nama pena saya. Fathan saya ambil dari nama depan anak pertama saya. Nama asli saya Badiatul Muchlisin Asti. Pernah menekuni dunia jurnalistik sebagai Jurnalis, Redpel, dan PimRed; menulis lebih dari 40 buku dan diterbitkan oleh beberapa penerbit di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, dan Solo; menyunting puluhan buku; mengisi pelatihan dan event kepenulisan dan jurnalistik; owner Oase Qalbu Group, Ketua Umum Yayasan Mutiara Ilma Nafia, dan Ketua Umum JPIN Pusat.

Selanjutnya

Tutup

Media

10 Langkah Penting Self Publishing (Step by Step Menerbitkan Buku Sendiri)

30 Maret 2012   03:30 Diperbarui: 25 Juni 2015   07:16 3357 1 5
10 Langkah Penting Self Publishing (Step by Step Menerbitkan Buku Sendiri)
1333078189312888910

[caption id="attachment_179162" align="aligncenter" width="500" caption="Self Publishing, menerbitkan buku secara mandiri. (Ilustrasi: bookishpublishers.wordpress.com)"][/caption] Ketika Anda memutuskan untuk menerbitkan buku sendiri (self publishing), berarti semua proses penerbitan, mulai dari penyuntingan naskah, lay out (tata letak) isi, pembuatan sampul (cover), pengurusan ISBN, pencetakan, pengemasan, bahkan sampai distribusi, Andalah yang mengerjakannya. Meskipun pada akhirnya, karena sesuatu dan lain hal, misalnya karena kesibukan dan keterbatasan kemampuan, Anda tidak mengerjakannya sendiri semua proses itu, namun Anda-lah yang memimpin dan mengendalikan “proyek” itu. Andalah yang mengorganisir semua pekerjaan itu.

Sulitkah melakukan semua itu? Kalau belum pernah melakukannya dan mengerti tahapan-tahapannya, mungkin terasa njlimet. Namun, pada dasarnya sangatlah mudah. Apalagi kalau sudah terbiasa melakukannya. Untuk lebih jelasnya, berikut ini saya sampaikan langkah-langkah atau tahapan-tahapan penting yang harus Anda persiapkan dan lalui ketika ingin melakukan self publishing. Apa saja itu? Simak berikut ini:

Pertama; menyiapkan naskah. Sebelum semuanya dimulai, siapkanlah naskah yang akan diterbitkan. Naskah yang siap diterbitkan adalah naskah yang sudah lengkap dan telah tersunting rapi. Bila naskah itu diterbitkan untuk tujuan komersial, naskah yang akan diterbitkan harus sudah dipertimbangkan kemungkinan akan bisa diterima pasar. Artinya, buku itu berpotensi untuk laris karena memiliki nilai jual tinggi. Dalam hal ini, yang penting dicatat, dalam logika dan fakta buku laris, “buku berkualitas” tidak identik dengan “buku laris”.

Banyak buku yang berkualitas, dalam sisi konten, namun tidak laku di pasaran. Dan banyak buku yang “biasa-biasa saja”, namun laris tersedot pasar. Fakta ini bukan lantas menyurutkan langkah untuk menulis buku yang berkualitas, tapi justru merupakan tantangan untuk menulis buku laris yang berkualitas. [Insya Allah di kesempatan lain akan saya ulas tentang “Rahasia Buku Laris atau Best Seller”].

Kedua; menyiapkan dana. Setelah mempersiapkan naskah, dana untuk membiayai proses penerbitan buku Anda harus anda persiapkan. Besaran dana yang perlu Anda persiapkan bersifat relatif menyesuaikan spesifikasi atau kualifikasi buku yang akan Anda terbitkan, misalnya ketebalan buku dan jenis kertas.

Hitungan besaran dana juga menyesuaikan, apakah proses penerbitan pada tahap pra cetak, seperti penyuntingan, lay out isi, pembuatan sampul, dan pengurusan ISBN, bisa Anda kerjakan sendiri, atau menyewa lembaga jasa. Bila Anda lakukan sendiri, hal itu akan menekan kebutuhan dana penerbitan. Namun, bila dikerjakan oleh lembaga jasa, maka dana penerbitan akan sedikit membengkak. Bila belum berpengalaman, langkah amannya memang menggandeng lembaga jasa yang sudah berpengalaman.

Ketiga; menciptakan nama dan logo penerbitan. Namanya juga self publishing, menerbitkan karya sendiri, maka nama penerbitan juga harus Anda persiapkan dan rumuskan, berikut logonya. Jangan asal memberi nama. Nama penerbitan itu harus mengandung brand yang kuat, mudah diingat, dan memuat intisari visi penerbitan yang akan Anda bangun.

Saya misalnya, menamai penerbitan saya dengan OASE QALBU. Nama itu saya pilih karena saya bertujuan untuk menggugah jiwa dan mencerahkan hati masyarakat dengan serangkaian buku-buku penuh hikmah dan motivasi ibadah yang saya terbitkan.

Keempat; melay-out naskah. Ini pekerjaan cukup vital yang menjadi salah satu inti dari penerbitan buku Anda. Bila Anda tidak terbiasa atau belum bisa me-lay-out sendiri naskah Anda, maka sebaiknya, pekerjaan ini diserahkan kepada lay-outer freelance yang terbiasa menerima order lay-out naskah buku atau bisa lewat lembaga jasa yang memiliki tim yang berpengalaman di dalamnya. Tugas Anda cukup menyampaikan naskah mentah (dalam file microsoft word) dan ukuran buku serta style layout yang Anda inginkan.

Kelima; membuat desain cover. Cover memegang peranan penting dalam sebuah penerbitkan buku. Nilai jual buku Anda, salah satunya ditentukan oleh daya tarik cover buku Anda. Karena itulah, jangan main-main dengan desain cover. Buatkah desain cover yang bagus dan menarik. Bila Anda tidak bisa membuat desain cover yang bagus dan menawan, Anda bisa memesannya kepada desainer freelance yang biasa menerima order pembuatan cover buku. Anda tinggal mempersiapkan teks dan ornamen atau ilustrasi (bila ada) yang akan dimasukkan dalam cover buku tersebut.

Keenam; mengurus ISBN. Apa itu ISBN? ISBN adalah kepanjangan dari International Standard Book Number. Menurut Pamusuk Eneste dalam “Buku Pintar Penyuntingan Naskah” [edisi 2], ISBN adalah “….bahasa internasional sebagai sarana informasi, komunikasi, dan transaksi perbukuan, memiliki manfaat sangat banyak, antara lain dapat digunakan sebagai unsur-unsur inventarisasi, pemesanan, dan pengangkutan….”.

Di Indonesia, lembaga yang mengelola ISBN adalah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), berkedudukan di Jakarta. Pengurusannya relatif mudah dengan biaya yang murah, bahkan mulai tahun 2011, digratiskan oleh pemerintah. Syarat pertamanya, daftarkan nama penerbitan Anda ke Tim ISBN/KDT Perputakaan Nasional RI dengan mengisi formulir surat pernyataan disertai dengan stempel penerbit dengan menunjukkan bukti legalitas penerbit atau lembaga yang bertanggung jawab (akta notaris). Selanjutnya, Anda tinggal mengajukan surat permohonan ISBN untuk naskah-naskah yang akan Anda terbitkan.

Lagi-lagi, bila Anda merasa ribet, di awal-awal Anda bisa menggandeng lembaga jasa penerbitan untuk menguruskan ISBN untuk naskah yang akan Anda terbitkan, terutama bagi Anda yang terkendala belum memiliki legalitas lembaga penerbitan.

Ketujuh; menentukan kualifikasi buku Anda. Setelah semuanya beres, naskah telah di-layout dan cover telah dibuat, maka langkah penting selanjutnya adalah menentukan kualifikasi buku Anda, misalnya menyangkut jenis kertas, proses percetakan,  dan perlakuan untuk finishing cover buku.

Jenis kertas misalnya, apakah Anda akan menggunakan kertas buram atau HVS putih. Proses percetakan misalnya, apakah halaman isi buku akan dicetak dengan kalkir atau film. Dan finishing cover buku Anda, misalnya akan menggunakan UV atau DOF, semuanya Anda-lah yang menentukan. Kalau Anda belum memahami istilah-istilah itu, bisa ditanyakan kepada pihak percetakan. Anda mungkin bisa memberikan contoh kualifikasi buku yang Anda inginkan dengan menyodorkan buku yang sudah ada.

Kedelapan; mencetak dan mengemas buku. Dalam mencetak dan mengemas (wraping) buku, pilihlah percetakan yang telah berpengalaman. Jangan mengambil risiko dengan menyerahkan naskah Anda untuk dicetak di percetakan yang masih coba-coba. Pilih percetakan yang berpengalaman dan telah terbukti hasil cetakannya bagus dan berkualitas. Apa jadinya bila cetakan buku Anda buruk? kredibilitas buku Anda diragukan, dan di pasaran bisa-bisa buku Anda jeblok alias tidak laku.

Kesembilan; menentukan harga jual buku. Setelah buku jadi dan terkemas rapi serta menjadi produk yang siap dipasarkan, maka tugas Anda adalah menentukan harga jual buku Anda. Bagaimana caranya? Rumus yang umum digunakan adalah, keseluruhan biaya produksi (biaya penyuntingan, layout, cover, ISBN, dan biaya cetak) dibagi jumlah oplag buku, lalu dikalikan lima (bahkan ada yang mengalikan 5,5 atau 6, bahkan 7). Hasilnya adalah harga buku Anda.

Contoh, biaya produksi Rp 10.000.000,- (sepuluh juta). Dibagi jumlah cetak 2.000 (dua ribu) eksemplar (ketemu harga produksi @ Rp 5.000,-) dikalikan 5 = Rp 25.000,-. Dengan demikian, harga jual (bruto) buku Anda di toko adalah Rp 25.000,- (dua puluh lima ribu). Anda bisa mengalikan 6 atau 7. Gampang bukan?

Kesepuluh; menditribusikan buku. Dalam mendistribusikan buku, misalnya ke Toko Gramedia atau Togamas, Anda tidak perlu susah payah mengantarkannya sendiri. Anda bisa bekerja sama dengan perusahaan distribusi profesional yang saat ini juga menjamur. Pilihlah distributor yang profesional dan terpercaya. Merekalah yang akan mendistribusikan buku Anda ke seluruh toko buku di seluruh Indonesia. Biasanya mereka meminta rabat, yang kemudian akan di-share dengan toko buku, sekitar 55 %.

Apakah rabat sebesar itu akan membuat Anda rugi? Insya Allah tidak. Toh Anda telah mengkalikan biaya produksi lima kali lipat atau bahkan enam kali lipat, sehingga apabila dikurangi rabat sebesar itu, Anda masih akan tetap untung. Sekedar contoh, dengan asumsi hitungan di atas, keseluruhan asset Anda bila terjual adalah harga jual buku (Rp 25.000,-) dikali jumlah oplag buku (2000 eks) hasilnya adalah Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). Inilah asset keseluruhan Anda sebelum dishare dengan distributor.

Bila dikurangi, misalnya 55% untuk distributor, maka total asset bersih Anda menjadi Rp 22.500.000,- (dua puluh dua juta lima ratus ribu rupiah). Sedang modal Anda tadi adalah Rp 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah). Masih untung bukan?

Begitulah kira-kira, langkah-langkah atau tahapan-tahapan penting yang perlu Anda persiapkan dan lalui dalam melakukan selfpublishing. Sangat mudah bukan? Semoga bermanfaat dan selamat menerbitkan buku sendiri, semoga sukses! Amin.

Salam Kreatif!

Abu Fathan

www.penerbitoaseqalbu.com