Mohon tunggu...
Abi Hasantoso
Abi Hasantoso Mohon Tunggu... Akuntan - Jurnalis

Lahir di Jakarta pada 26 Februari 1967. Berkecimpung di dunia jurnalistik sebagai wartawan Majalah HAI pada 1988 - 1994. Selama bekerja di majalah remaja itu ia sempat meliput konser musik New Kids On The Block di Selandia Baru dan Australia serta Toto dan Kriss Kross di Jepang. Juga menjadi wartawan Indonesia pertama yang meliput NBA All Star Game di Minnesota, AS. Menjadi copywriter di tiga perusahaan periklanan dan menerbitkan buku Namaku Joshua, biografi penyanyi cilik Joshua Suherman, pada 1999. Kini, sembari tetap menulis lepas dan coba jadi blogger juga, Abi bekerja di sebuah perusahaan komunikasi pemasaran.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Presiden Abdurrahman Wahid dan Surat 18.45

30 Desember 2009   15:49 Diperbarui: 26 Juni 2015   18:42 1144
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Hujan mengguyur Jakarta pada Rabu (30/12) sore. Lumayan deras. Di dalam sebuah gedung bertingkat di lantai 12 tak terdengar suara menggelegar petir dan halilintar yang menyambar.

Menjelang Maghrib hujan sudah mulai reda. Tapi justru sebuah ”petir” berita yang mengagetkan kita semua saat kita mendengar berita wafatnya Presiden Abdurrahman Wahid, akrab dipanggil Gus Dur, yang dikabarkan berpulang ke rumah Tuhan pada pukul 18.45 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, pada usia 69 tahun 114 hari. Gus Dur meninggalkan istrinya, Shinta Nuriyah, empat anak perempuan yang disayanginya, dan lebih dari 231 juta rakyat Indonesia.

Kita sebagai bangsa, tentu, sangat sangat sangat berduka.

Karena Gus Dur – kelahiran Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 – adalah salah satu tokoh penggerak demokrasi di Indonesia. Ia yang gigih memperjuangkan kesamaan dan kesetaraan hak bagi seluruh warga negara Indonesia. Ia selalu berada di baris terdepan melawan kezaliman.

Ia muslim yang melintasi seluruh agama. Ia mengayomi penganut agama-agama lain, meski dirinya seorang kyai dan keturunan darah biru pendiri organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU).

Saya salah satu pengagumnya, dari dulu sampai kapan pun. Apalagi ketika dia jadi presiden. Bayangkan, ”seorang anak pesantren”, bukan tentara, bukan lulusan Harvard University, berhasil menjadi presiden.

Langkah-langkahnya, di luar urusan pergi melanglang buana ke sejumlah negara, saat menjadi presiden sungguh jelas. Ia memisahkan polisi dari tentara. Ia mempelopori pembentukan KPK. Ia melikuidasi Departemen Penerangan, dan yang paling dahsyat ia meminta Golongan Karya (Golkar) dibubarkan saja! Ia memperteguh langkah menuju jalan demokrasi bagi Indonesia: kebebasan pers dan kebebasan berpendapat yang dilindungi Undang-Undang.

Hebatnya, di dunia internasional, Gus Dur menggebrak dengan ide membentuk poros baru New Delhi – Jakarta – Tokyo – Beijing. Yang membuat Presiden AS Bill Clinton mau tidak mau menerima kehadiran Gus Dur di Gedung Putih, meski sebelumnya sama sekali tak ada jadwal keduanya untuk bertemu. Mungkin, karena ide besarnya itulah, Gus Dur harus dijatuhkan. Karena Gus Dur tak mau disetir Amerika a.k.a. Neolib.

Di sebuah lapangan terbuka dekat Monas, bersama sekumpulan massa pendukungnya, saya sempat mengantar Gus Dur keluar Istana Negara menuju Amerika Serikat untuk berobat (sebuah alasan yang dicari-cari supaya Gus Dur bisa meninggalkan Istana secara elegan), tak lama setelah dijatuhkan oleh keputusan Sidang Istimewa MPR RI pada 23 Juli 2001. Bersama sejumlah teman, saya menangis pada hari itu. Menyaksikan ketegaran Gus Dur ”dikeroyok” dan ”dipukuli” sampai ”mati” oleh lawan-lawan politiknya. Tanpa memberikan perlawanan, selain dengan lambaian tangannya dengan pakaian tidur – bercelana kolor – di luar serambi Istana.

Sebetulnya, Gus Dur bisa saja melawan. Karena Pasukan Berani Mati dari berbagai daerah, terutama dari Jawa Timur, siap membelanya sampai titik darah penghabisan. Tapi, Gus Dur bukan lah seorang yang gila kekuasaan. Seperti Bung Karno, ia tak ingin terjadi pertumpahan darah. Ia lebih baik memilih jalan damai, ahimsa, jalan damai anti-kekerasan yang diajarkan Mahatma Gandhi, salah satu tokoh dunia yang dikaguminya.

Lebih dari itu, Gus Dur lah yang kembali memulai mempopulerkan batik sebelum kita heboh setahun ini soal memakai baju batik secara massal pada 2 Oktober lalu. Hampir tiap hari Gus Dur – dan anggota kabinet – berbatik di Istana. Termasuk saat menerima tamu-tamu negara: presiden, perdana menteri, hingga raja dan ratu. Beberapa motif batik sempat identik dengan Gus Dur. Kalau kita ke butik atau toko batik, juga Pasar Beringhardjo Yogya, sering kali kita ditanya dan ditawarkan apa sedang mencari motif batik Gus Dur.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun