Mohon tunggu...
Abdulazisalka
Abdulazisalka Mohon Tunggu... Tutor - Tinggal di The Land of The Six Volcanoes . Katakan tidak pada Real Madrid.

Membacalah, Bertindaklah

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Menakut-nakuti Anak, Antara Tuman dan Kesalahan "Parenting"

11 Desember 2020   08:26 Diperbarui: 12 Desember 2020   21:59 1538
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Profesi seperti, Polisi, Suster, Dokter, Satpam, Hansip, Tukang Tahu Tek, Mamang Ketoprak, dan lainnya sering kali dijadikan alat jitu untuk menakut-nakuti anak. Kalau tidak mempan, mulai dikeluarkan sosok seperti, Momok, Wewe Gombel, Pocong, Genderuwo, Kuntilanak, Tuyul dan lainnya. 

Apa salah profesi dan sosok tersebut? Mereka dijadikan senjata orang tua untuk mendisiplinkan anaknya. Ingat, si kecil pandai berimajinasi. Ia mampu membayangkan bahwa seorang dokter berjas putih dan membawa suntik adalah sosok menyeramkan. 

Badan Pusat Stastik (BPS) pernah merilis hasil penelitian yang berjudul, "Anak Umur 1-17 Tahun Yang Mengalami Hukuman Fisik Dan/Atau Agresi Psikologis Dari Pengasuh" Hasilnya di wilayah kota 52,3% anak dan wilayah desa 57,51% anak mengalamai agresi psikologis

Agresi psikologis merupakan tindakan orang tua atau pengasuh anak yang memaksa atau mengancam agar anak patuh dan menurut. Tindakan ini sebenarnya cakupannya luas. Kekerasan fisik, memanggil anak bodoh, mengancam, mencubit, memanggil anak pemalas, menakut-nakuti dan berbagai macam tindakan negatif lainnya.

Cara membuat anak menurut dengan menakut-nakuti adalah metode usang yang tak perlu digunakan lagi. Lebih banyak dampak negatif daripada positifnya. Sekali lagi orang tua tidak boleh tuman menebar ketakutan kepada anaknya! 

Kerabat saya, memiliki anak umur 11 tahun yang fobia terhadap pria berkumis. Ia enggan melihat, takut dan akan menjauh. Baginya pria berkumis adalah petaka dalam hidupnya.

Papa dan mamanya, sudah berkonsultasi ke psikolog. Ternyata penyebabnya pada saat kecil anaknya sering ditakut-takuti ketika tak mau mandi dan gosok gigi, dengan "ancaman" akan digigit dan didatengin Pak Raden (Alm. Drs. Suyadi, pencipta Si Unyil) sembari menunjukan foto beliau.

Dampak menakut-nakuti ini sungguh luar biasa. Memori dan ingatan anak akan cenderung mengingat hal-hal buruk yang ia alami terutama ketakutannya. Jadi sebagai orang tua haruslah menebar kebahagiaan kepada si kecil agar selalu terseyum dan tidak terbebani.

Kredit foto: nastya_gepp, via pixabay
Kredit foto: nastya_gepp, via pixabay

Lalu, bagaimana parenting yang tepat agar anak menurut dan patuh?

Pertama, berikan contoh yang baik kepada buah hati
Anak adalah peniru paling hebat di dunia. Ia mampu meniru banyak hal yang ia lihat. Maka, tak jarang ketika orang tua menyajikan tontonan sinetron, anak juga akan meniru perilaku yang ia lihat secara visual dalam tayangan tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun