Mohon tunggu...
AANG JUMPUTRA
AANG JUMPUTRA Mohon Tunggu... Freelance, writer

Konsultan

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Ibu Kota Baru Bernama Nusantara

28 Agustus 2019   09:13 Diperbarui: 28 Agustus 2019   09:39 0 0 0 Mohon Tunggu...

Saya memberanikan diri mengusulkan nama baru, -menyusul telah ditetapkannya Kalimantan Timur sebagai lokasi calon ibu kota pengganti Jakarta- , yaitu Nusantara. Ada beberapa alasan nama Nusantara sangat tepat dipilih.

Alasan pertama, selama ini Nusantara merupakan imaginasi semata, padahal sejarah membuktikan betapa sudah sangat tua dan mengakarnya sebutan Nusantara itu hidup dalam sanubari rakyat Indonesia. Darah dan daging kita, nafas dan nyawa kita sebagai bangsa dan masyarakat Indonesia adalah Nusantara. Dalam mengarungi belantara imaginasi itu, berkembang kosakata sangat bagus seperti Wawasan Nusantara dan bukan wawasan Indonesia; sementara kalau mengatakan kawasan kita pasti akan menyebutnya kawasan Indonesia yang meliputi: Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai pulau Rote.Tegasnya, banyak sumber menyebutkan betapa Nusantara lebih tua dan lebih kompleks penuh makna.

Alasan kedua, meski lebih tua dan kompleks penuh makna, Nusantara kurang "diabadikan" seperti Indonesia dalam banyak hal. Ada PT sangat terkenal di ibu kota Jakarta, bernama Universitas Indonesia, tetapi tidak salahlah kalau saya pertanyakan: Di mana ada PT bernama Universitas Nusantara. Ada contoh lain juga, yaitu Bank Indonesia sebagai bank sentralnya negeri ini, dan pertanyaannya: Mengapa waktu itu pilihan nama Bank Nusantara tidak menarik? Tegasnya, mari pada saat yang tepat ini, Nusantara kita sematkan secara sangat terhormat sebagai nama ibu kota baru pengganti Jakarta yang akan berlokasi di Kaltim.

Alasan ketiga, melihat berbagai pertimbangan mengapa Kaltim dipilih, salah satu pertimbangan menarik ialah karena Kaltim ada di tengah-tengah kawasan Indonesia. Maka, sangat tepatlah nama ibu kota itu Nusantara, dengan alasan menjadikan Nusantara sangat konkrit dalam arti terjamah, menyatukan, dan menjadi pusat peradaban baru bangsa dan Negara Indonesia. Bukankah pengertian di tengah-tengah kawasan Indonesia juga mengandung makna pusat segala peradaban baru?

Alasan keempat, nama ibu kota Negara sebaiknya jangan akronim atau "perpaduan" dari penggalan beberapa nama setempat. Nama ibu kota baru harus sangat berwibawa, mengandung aspek historis yang kuat, serta tidak menimbulkan "iri hati baru" dari banyak pihak yang berada "di luar" Kaltim mengingat pilihan Kaltim ini pun sudah menimbulkan iri hati.

Alasan kelima, apabila nama Nusantara segera diputuskan, maka segala perancangan mulai tahun 2020 ini semakin dimudahkan, diperlancar, dan terus akan semakin bergaung, dikenal sampai dengan peresmiannya kelak di tahun 2024 (?). Segera ditetapkannya nama Nusantara juga akan memudahkan penyusunan payung hukum beserta aspek regulasi lainnya.

Selamat datang Nusantara, nama ibu kota baru Republik Indonesia.