Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, Penyunting.

Penulis; penyunting; penerima anugerah Penulis Opini Terbaik Kompasianival 2018; pembicara publik; penyuka neurologi; pernah menjadi kiper sebelum kemampuan mata menurun; suka sastra dan sejarah.

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

Drakor "Flower of Evil": Menyibak Bahaya Stigma, Gangguan Kepribadian Antisosial, dan Sensasi Psikopatik

21 Februari 2021   06:59 Diperbarui: 21 Februari 2021   22:22 1424
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Itulah tiga pelajaran penting yang tersaji dengan baik dalam drakor ini. Masih ada stigma lain, tetapi cukuplah tiga hal itu sebagai bocoran di artikel ini.

Baek Hee Song dan Cha Ji Won (Gambar: AsianWiki via Kompas.com)
Baek Hee Song dan Cha Ji Won (Gambar: AsianWiki via Kompas.com)

Gangguan Kepribadian Antisosial

SEJAK EPISODE PERTAMA hingga terakhir, Baek Hee Song benar-benar mencerminkan pasien gangguan kepribadian antisosial (antisocial personality disorder). Dengan ekspresi datarnya, Hee Song sukses menunjukkan karakter seseorang yang tidak bisa menunjukkan rasa empati pada perasaan orang lain. Maladaptasi sosial tampak benar-benar nyata dan sebagaimana realitas yang ada.

Bukan hanya sukar berempati dan beradaptasi dengan orang lain, Hee Song juga menampilkan sosok yang perfeksionis dalam mengerjakan sesuatu, mampu membaca perasaan orang lain demi dalih manipulatif, cenderung menyiasati iba hati orang lain untuk keuntungan diri sendiri, dan agresif manakala ia merasa tersakiti.

Drakor ini menyajikan getir nasib anak yang menderita gangguan kepribadian antisosial. Hee Song remaja kerap menjadi korban risak teman seusia lantaran tidak punya teman, tidak mampu menjalin pertemanan, dan sibuk dengan dunianya sendiri. Dampak perisakan itu terbawa hingga ia dewasa.

Saya menonton drakor ini seperti membaca jurnal tentang antisocial personality disorder dalam versi visual. Saya melihat saripati kajian Cameron dan Rychlak (1985), Farrington dan Coid (2003), atau Gabbard (2005). Sebuah tayangan ilmiah yang berkelas.

Baek Hee Song tiruan berhasil mengatasi Baek Hee Song asli (Gambar: bidik layar tvN)
Baek Hee Song tiruan berhasil mengatasi Baek Hee Song asli (Gambar: bidik layar tvN)

Sensasi Psikopatik

KISAH PEMBUNUHAN BERANTAI menjadi benang merah yang menghidupi drakor ini. Kejadian yang sudah terkubur selama 18 tahun perlahan-lahan terkuak karena peniruan pola pembunuhan. Ada beberapa kasus yang meniru pola Do Min Seok dalam menghabisi korbannya, tetapi hanya satu yang benar-benar mirip.

Pembunuhan dengan pola serupa terjadi saat Nam Soon Kil, teman Do Hyun Soo ketika dalam pelarian, tewas secara mengenaskan dengan ciri-ciri seperti korban Do Min Seok. Sebagai buron, Do Hyun Soo menjadi sasaran tembak para polisi. Ternyata keliru. Adalah suami korban ketujuh (yang tidak ditemukan jasadnya) Min Seok yang menjadi pelakunya.

Intisari kajian Rodrigo (2010) tentang kepribadian psikopatik berhasil tergambar dengan baik sepanjang serial drakor ini. Ketelitian dalam menghabisi korban, kemampuan menghapus jejak, serta tabiat psikopat secara umum tersuguh dengan apik. Mulus. Persis wajah tanpa jerawat batu.

Empat aktor pendukung drakor
Empat aktor pendukung drakor
KEHEBATAN MENJAGA PLOT, sebagaimana drakor pada umumnya, sangat berasa dalam drakor ini. Flower of Evil. Bahkan hingga sepuluh menit terakhir episode 16 pun masih tersaji adegan akhir yang menyesakkan dada.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun