Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis, Penyunting.

Novel terbaru: Kita, Kata, dan Cinta (Diva Press, 2019).

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Tas Kain Bansos, Anak Pak Lurah, dan Gelegar Gibran

21 Desember 2020   03:08 Diperbarui: 22 Desember 2020   13:04 3394 72 23 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tas Kain Bansos, Anak Pak Lurah, dan Gelegar Gibran
Dokumen Olah Pribadi

Media sosial kembali heboh. Warganet berduyun-duyun mengerumuni tagar Tangkap Anak Pak Lurah. Baik yang pro maupun kontra kompak beramai-ramai ke situ. Pangkal soalnya bermula pada dugaan kejanggalan yang gencar diembuskan oleh majalah Tempo edisi 21--27 Desember 2020. Dugaan itu merujuk pada kasus korupsi dana bantuan sosial korona.

Investigasi mendalam yang dilakukan oleh Tempo cukup menggemparkan. Tempo menemukan keajaiban pada proyek dana bantuan sosial yang dikerat oleh Menteri Sosial Juliari Batubara. Terhitung skandal besar karena menyeret nama putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka.

Hasil investigasi itu seketika menjadi sebutir gula yang dirubungi sekawanan semut. Betapa tidak, Gibran baru saja menang telak dalam pilwalkot di Solo. Namanya tengah naik daun. Apa saja yang terkait dengannya sontak menjadi perhatian publik. Tidak heran jika kabar yang diwartakan oleh Tempo itu mendapat macam-macam komentar netizen.

Bagaimana bisa Gibran terseret isu panas? Merujuk pada tautan yang disebar oleh akun ofisial Majalah Tempo di Twitter, Gibran ditengarai merekomendasikan PT Sritex sebagai penyedia tas kain bansos. Nilainya tidak tanggung-tanggung, jauh lebih dari cukup untuk membeli bertruk-truk kerupuk.

Bola gosip menggelinding kian liar karena Gibran dan pemilik PT Sritex, konon, tidak merespons konfirmasi Tempo. Prasangka buruk kontan berkecamuk di kepala warganet. Padahal, apa susahnya Gibran menggelegarkan bantahan jika memang tidak terlibat. Mudah sekali.

Hanya saja, tulisan ringan ini tidak akan mengulik apakah benar Gibran terlibat atau tidak. Tulisan ini juga tidak saya tujukan untuk mengudar sahih atau taksahihnya laporan hasil investigasi itu. Dalam hemat saya, biarlah kebenaran atau ketakbenaran isu panas itu menjadi ranah selidik para kesatria di KPK. Lantas apa yang hendak saya babar lewat tulisan ini? 

Sabar, Kawan, semua akan terang pada waktunya.

Tas Kain versus Goodiebag

Ini dia perkara yang ingin saya sigi. Beberapa hari lalu saya menggeleng-geleng karena tas kain di rumah saya makin menumpuk. Hal itu terjadi lantaran saya selalu abai membawa tas kain dari rumah saat jajan ke swalayan.

Gara-gara rambut saya butuh dikeramas agar tidak menjadi sarang kutu, saya pun jajan sampo. Tentu saja saya berpikir panjang untuk merogoh kocek demi membeli tas kain lagi. Mending botol sampo itu saya pegang atau kantongi saja.

"Mau goodiebag, Pak?" Tawaran tukang reken duit alias kasir itu langsung saya tampik. Saya tukas dengan nada datar dan hambar. "Mungkin yang Mas ingin tawarkan adalah tas kain?" Saya balas bertanya alih-alih mengangguk.

Saya memang doyan bercanda untuk hal receh terkait bahasa Indonesia. Mungkin kalian berpikir "apaan sih" atau "rempong banget hal begitu saja diributkan". Ya, saya memang tengil. Tidak apa-apa. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa kita terlalu rajin memakai bahasa asing sampai-sampai kita abai pada bahasa sendiri.

Nah, kita kembali pada hasil investigasi Tempo. Tiba-tiba saja penggunaan kata goodiebag kian santer. Tiada lain disebabkan oleh pengadaan tas kain bansos yang sedang heboh itu. Ingatan saya kembali tertuju pada tukang reken duit di konter kasir swalayan.

Saat itu ia melongo. Udaran saya tentang kata goodiebag membuat mulutnya terbabang. Kata saya, goodiebag itu biasanya terbuat dari kain belacu atau kain mori yang masih mentah. Akibat belum diputihkan, warna kain belacu pun menjadi kekuning-kuningan. Maka dari itu, absah saja jikalau saya lebih senang menggunakan tas kain daripada goodiebag.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN