Mohon tunggu...
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, Penyunting.

Penulis; penyunting; penerima anugerah Penulis Opini Terbaik Kompasianival 2018; pembicara publik; penyuka neurologi; pernah menjadi kiper sebelum kemampuan mata menurun; suka sastra dan sejarah.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Gerindra Letih Gara-gara Teman Sendiri, Ndro

8 Juni 2019   19:10 Diperbarui: 9 Juni 2019   07:27 3432
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tidak heran jika Andre meraung. Bayangkan saja. PAN pernah menikam dari belakang, lalu diterima dengan lapang dada ketika kembali ke pelukan koalisi, kemudian lagi-lagi terlihat akan berkhianat. Rasanya seperti luka lama yang kembali bernanah.

Terlalu percaya pada teman baru. Gerindra jelas bahagia dan makin percaya diri ketika PD bergabung ke dalam koalisi. Bagaimanapun, pengalaman Pak SBY dua kali memenangi pilpres merupakan aset berharga bagi Gerindra. Sebut saja, kehadiran PD bak angin segar bagi hasrat menang yang tak kunjung tercapai.

Setelah gagal merontokkan karisma wong ndeso bernama Joko Widodo pada Pilpres 2014, Prabowo dan Gerindra tentu sangat berambisi melakukan revans alias penebusan kekalahan. Bagaimanapun, Prabowo tidak ingin kehilangan muka lagi. Itu sebabnya Gerindra senang hati menyambut kedatangan PD. 

Akan tetapi, Gerindra juga punya strategi. Tidak semua masukan teman baru dalam koalisi diterima mentah-mentah. Beberapa sodoran strategi PD ditampik setelah, sepertinya, ditapis dengan saringan bernama "suka-suka gue". Apalagi ada "tukang ngoceh" dari Demokrat yang kerap bikin belingsatan. Andi Arif namanya.

Nah, Andi Arif inilah yang sering menjadi api dalam sekam atau penggunjing dari dalam. Mula-mula ledekan Jenderal Kardus hingga ocehan terbaru tentang asal-muasal kekalahan Prabowo-Sandi. Ocehan terbaru itulah yang membuat kuping Andre seperti tersunu rokok. Sakit akibat gerunyam kader teman baru jelas bikin uring-uringan. Bikin sakit pikiran.

Terlalu percaya diri sendiri. Sekalipun sudah pernah merasakan kalah tarung di gelanggang pemilu, Prabowo dan Gerindra punya rasa percaya diri yang tiada tara. Sodoran cawapres hasil ijtimak ulama ditolak dengan tegas. Pak Anies Baswedan dipaksa menjomlo atau menjadi semacam orangtua tunggal bagi rakyat DKI Jakarta. Ketua BPN pun dipulung dari kalangan loyalis. Pendek kata, semua dari Gerindra.

Ketika indikasi kegagalan menguat dan kekalahan di depan mata, wajar apabila jajaran Gerindra kalut dan kalap. Uang emak-emak sudah terkumpul, sumbangan orang-orang miskin sudah tertumpuk, kekalahan kembali menerpa. 

Jangan dikira menerima kenyataan itu mudah, apalagi menerima kekalahan. Jangan disangka menghadapi kegagalan itu gampang, apalagi menghadapi kekalahan. Sekali saja sakit, apalagi berkali-kali.

Jangankan manusia, kondisi kejiwaan tikus saja rentan terhadap ketakstabilan emosi apabila menderita kegagalan. Melalui penelitian yang hasilnya disebarkan pada 1994, Albonetti dan Farabollini meriset sekawanan tikus jantan untuk mengetahui pengaruh stres akibat kekalahan berulang-ulang terhadap perilaku bersosial.

Hasilnya mengejutkan. Tikus yang pernah mengalami kekalahan berkali-kali cenderung kian sensitif. Satu kecurangan saja dapat memantik kegusaran, bahkan menyulut agresivitas berlebihan. Pada gilirannya, perasaan antipati menguasai hati sehingga kekalahan tidak diterima.

Tidak heran jika Andre galau membaca cuitan Andi Arif di Twitter. Sederhananya begini. Kalah dalam pemilihan Bupati saja menyakitkan, apalagi kalah dalam pemilihan Presiden. Ditambah lagi, kalah berkali-kali. Andre, juga petinggi Gerindra lainnya, pantas kecewa karena merasa dirojok teman sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun