Mohon tunggu...
11 Terbaik
11 Terbaik Mohon Tunggu... -

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Politik Salah Kaprah, Penguasa Media dan Penegak Hukum yang Tak Berdaya

6 Oktober 2018   03:05 Diperbarui: 6 Oktober 2018   03:38 1290
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Itulah salah satu contoh dari ribuan kisah sejarah, bagaimana hebatnya peran media menggiring pikiran kita, orang yang cuma dianggap remeh remeh ini, kearah.. sesuka hati merekalah. Tapi media hanyalah alat politik. Lalu siapa sebenarnya yang mempermainkan kita ? Ya dua golongan tadi, penguasa dan satu golongan lain yang ingin merebut kekuasaan.

Kaki tangan penguasa adalah hukum dan penegak hukum. Tangan memukul, kaki menendang. Palu di ketuk, ente masuk kandang. Indonesia memiliki banyak catatan kelam terkait hukum dan penegak hukum ini. Terutama di era orde baru dimana otoritas ditegakkan atas nama keamanan dan stabilitas negara. Banyak nama yang sampai ke telinga kita, tapi kita tak pernah melihat orang nya. Akhirnya kita memilih diam, karena kita takut bernasib sama. 

Di jaman now, jaman yang serba kekinian. Jaman Demokratis Kapitalis plus embel-embel generasi micin ini, kita singkat saja, demokrasi. Eranya sudah bebas memang, tapi koq, gitu sih ? Anjing menggonggong kafilah berlalu, mulut lu bacot tong, tangan gue ketok palu. Kita tetap dalam kondisi yang sama hanya jamannya yang berbeda. Penguasa dan kaki tangannya tetap segala-galanya. 

Coba kita kembali ke kisah awal, ketika Souchon mengabaikan perintah Kaiser Wilhelm II. Terlepas dari hasil akhir, karena tak satu pun yang menduga, tidak Kaiser Jerman, Tidak Admiral Prancis dan Inggris yang siaga menjaga perairan, tidak juga Souchon sendiri, akan mampu sampai di pelabuhan Ottoman dengan selamat. Kalau di Indonesia, kira-kira kejadiannya akan seperti apa ya ? 

Dan sampailah kita pada diri kita sendiri. Jangan terkecoh dengan judul kawan, bukan penegak hukum, tapi kitalah sesungguhnya yang tak berdaya itu. Dan kita harus tahu diri dan mencamkan itu baik-baik kedalam diri kita masing-masing. 

Orang-orang di atas sana, yang terbagi kedalam dua golongan menganggap kita hanya remeh temeh. Celakanya kita ini memang remeh-temeh, setidaknya sampai detik ini kita masih betah menjadi korban. Mereka hanya butuh suara kita, lainnya tidak, tidak juga ide dan kritikan kita. Kalau perlu kita hidup dua kali saja, saat bayar pajak dan saat pemilu. Setelah itu, kita ke laut aja, daripada ngeluh sana-sini, demo ini itu, gak penting banget lu.

Dulu waktu dibungkam kita diam, ketika diam kita terlihat lugu, baik, ramah, sopan, dan suka menabung. Tampak selayak menantu idaman sesungguhnya. Tapi, setelah bebas bicara, eh eh eh, ternyata oh ternyata, sifat aslinya sungguh ternyata. 

Kita menggunakan suara kita, menghabiskan energi kita hanya untuk menyerang satu sama lain. Orang elit bertengkar, setidaknya mereka memiliki kepentingan politik masing-masing, kekuasaan, nah kita ? Kita bertengkar untuk kepentingan siapa ? Bangsa dan negara ? Jaka Sambung makan mie sop, gak nyambung sob.

Ini kah yang disebut politik salah kaprah ? Caci sana maki sini, berargumen dengan istilah politik akademik terbaik yang kita mampu, namun sama sekali tidak visioner. Semua itu dilakukan hanya untuk kepentingan ego dan fanatisme semata. Suka sama, ehem, seseorang, mengidolakan tokoh, kagum pada sosok figur, ya sah sah saja, itu sudah menjadi sifat sosial kita sebagai manusia. Tapi gak usah sampe berantem sama saudara sendiri juga kali. Tul gak? Bentar, ane ngopi dulu, eh gak usah deh tanggung udah mau selesai.

Lalu apa sebenarnya tujuannya ane membuat perdana ini, boleh dibilang tidak ada, tak mungkin ada karena ane tahu diri. Ane hanyalah remeh temeh bernama Newbie dalam lingkup komunitas online called Kompasiana. 

Sejujurnya, tadinya ane gak niat menulis. Tadi ane mau berkomentar di salah satu berita politik, bukan kompas, setelah ane tulis lalu klik kirim eh, minta registrasi, ya udah ane daftar. Selesai daftar, ane balik lagi keberita tadi eh, komentar ane sama kolom komentar nya hilang. Akhirnya ane ingat Kompasiana dan mutusin buat tuliasan pertama ane sekalian. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun