Mohon tunggu...
Amalyatul Fitriah
Amalyatul Fitriah Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Psikologi

Amalyatul Fitriah

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Tidak Perlu untuk Selalu Menahan Emosi

1 Juli 2021   16:24 Diperbarui: 1 Juli 2021   16:31 86 1 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Tidak Perlu untuk Selalu Menahan Emosi
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Emosi adalah hal yang umum dirasakan oleh setiap manusia. Secara umum Emosi diartikan sebagai perasaan yang muncul karena adanya impuls dari luar yang diterima oleh seseorang, emosi berkaitan dengan kognitif seseorang. Kebanyakan orang lebih suka untuk mengekspreksikan emosinya, baik dengan kata-kata atau bahkan perilaku. Namun ada sebagian lagi yang lebih suka untuk menekan emosi mereka, sebagai contoh seorang siswa lebih memilih menahan amarahnya ketika temannya bercanda tentang dirinya karena takut jika dia meluapkan emosinya temannya akan sedih atau bahkan berhenti berteman dengan dirinya. Atau saat seseorang sedang merasa sedih dan ingin menangis, ia cenderung menekan perasaan sedih tersebut karena menganggap jika dia menagis itu adalah hal yang memalukan, dan dia tidak ingin orang lain melihat kondisinya yang sedang seperti itu.

Firman Allah SWT dalam Q.S. Ali Imron ayat 134 yang artinya: "(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,"

 "Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."(Q.S. Al-Baqarah 2/190)

Dari dua ayat di atas bisa diketahui bahwa menahan amarah adalah hal yang baik dalam pandangan islam, namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Terkadang kita terlalu sibuk memikirkan perasaan orang lain sehingga membuat kita mengabaikan perasaan kita sendiri. Emosi yang terus ditekan atau ditahan, lama-kelamaan bisa saja meledak. Begitu emosi tersebut meledak bisa saja kita jadi kehilangan kendali atau kehilangan kontrol atas diri kita dan menyakiti orang-orang disekitar kita. Mungkin anda tidak sengaja mengucapkan kalimat yang menyakitkan, atau tidak sengaja melakukan kekerasan karena hilang kendali.

Tanpa kita sadari kebiasaan menekan emosi mulai menggerogoti kita, ada beberapa dampak dari menekan emosi secara terus-menerus. Yang pertama yaitu strees, sadar atau tidak saat kita menekan emosi terlalu sering otak kita terus-menerus memproduksi hormone stress yang lama-kelamaan juga akan mempengaruhi fisik kita. Dampak selanjutnya yaitu melemahnya sistem imun, seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa stress yang berkenjangan akan mempengaruhi fisik kita, awalnya mungkin sekedar sakit kepala ringan, namun lama-kelamaan akan mulai mempengaruhi hal lain. Menekan emosi terus-menerus juga akan memicu munculnya depresi, munculnya perasaan tidak berharga, merasa hampa, putus asa, dan keinginan untuk bunuh diri.

Karena itu untuk mencegah hal-hal diatas terjadi kita perlu untuk mempelajari bagaimana cara mengelola emosi yang baik dan benar. Yang paling pertama anda harus lakukan yaitu menerima emosi tersebut, kenali apa yang membuat emosi tersebut muncul. Ungkapkan apa yang anda rasakan, namun dengan bahasa yang baik pula agar setelahnya anda tidak merasa bersalah juga. Karena itu penting pula untuk belajar cara mengungkapkan emosi dengan cara yang benar. Anda bisa berlatih mengungkapkan emosi tersebut dengan awalan kata "saya", seperti misalnya "saya merasa tidak nyaman jika anda bersikap seperti itu", atau "saya sedang sedih". Karena setiap orang bertanggung jawab atas emosinya masing-masing, sekalipun penyebab munculnya emosi tersebut karena orang lain namun yang benar-benar bertanggung jawab atas emosi itu adalah diri kita masing-masing, yang bisa menuntaskan masalah yang kita rasakan adalah kita sendiri. Selain itu anda bisa mengungkapkan apa yang anda rasakan dengan orang yang sudah anda percayai. Terkadang kita tidak membutuhkan nasehat apa-apa, kita hanya butuh didengarkan, karena itu agar merasa sedikit lebih lega bisa dengan curhat dengan orang kepercayaan.

Dengan melakukan olahraga, di dalam tubuh kita itu ada yang disebut dengan saraf simpatik, atau hypothalamic pituitary adrenal. Saraf ini berfungsi sebagai system yang bertanggung jawab untuk merespon stress, sehingga membuat tubuh kita cenderung lemah saat stress ini datang. Nah cara yang ampun untuk membuat saraf tersebut stabil adalah dengan melakukan aktivitas fisik seperti olahraga. Untuk mengurangi gejolak emosi yang berlebihan juga bisa dengan melakukan interaksi dengan alam. Seperti misalnya berjalan-jalan di area persawahan, duduk dipinggiran sungai, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan alam. Dalam sebuah penelitian dikatakan bahwa dengan melakukan relaksasi aktif di alam bebas memiliki peranan positif untuk mengurangi emosi yang sedang dirasakan.

Tidak ada salahnya sesekali memikirkan diri sendiri sebelum memikirkan orang lain, karena saat anda sudah benar-benar mengerti diri anda sendiri akan mudah bagi anda untuk memahami orang lain. Memahami apa yang sedang mereka rasakan dan mencoba untuk membantunya jika memang diperlukan. Saat anda sehat secara fisik dan mental akan mudah bagi anda untuk berbagi energy positif yang mungkin diperlukan orang-orang sekitar anda.

Daftar Pustaka

Ayuningtyas, D., Misnaniarti, & Rayhani, M. (2018). Analisis Situasi Kesehatan Mental Pada Masyarakat di Indonesia dan Strategi Penanggulangannya. Jurnal Ilmu kesehatan Masyarakat, 1-10.

Kalat, J. (n.d.). Biopsikologi. Edisi 13. Jakarta Selatan: Salemba Humanika.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan