Vertikultur, Solusi Menanam Bagi Lahan Sempit

17 Juli 2012 16:11:00 Diperbarui: 25 Juni 2015 02:52:09 Dibaca : Komentar : Nilai :

Punya halaman dan kegiatanberkebun mungkin salah satu impian. tapi, seringkali keinginantersebut terhambat karena hidup di gang dengan lahan yangsempit. Kini ada solusi untuk mengatasi hambatan itu,namanya vertikultur (Kompas, 1 Desember 2011). Sistem pertanian vertikultur (asal kata vertical dan culture) adalah sistem budi daya pertanian yang dilakukan secara vertikal ataubertingkat. Sistem ini cocokditerapkan di lahan-lahan sempit atau di pemukiman yang padat penduduknya. Sistem ini dapat menjadi solusi kesulitan mencarilahan pertanian yang tergusur oleh perumahan dan industri. Vertikultur adalah sistem tanam di dalam pot yang disusun/dirakit horizontal dan vertikal atau bertingkat. Cara tanam ini diusahakan pada lahan terbatas atau halaman rumah. Jenis tanamannya adalah tanaman sayuran atau tanaman hias. Beberapa hal yang harus dipersiapkan dalam budidaya tanaman secara vertikultur antara lain: pot/tempat tumbuh tanaman dapat menggunakan bahan bambu atau paralon, media tumbuh tanaman dan jenis tanaman yang akan ditanam.


Kelebihan sistem pertanian vertikultur: (1) efisiensipenggunaan lahan karena yang ditanam jumlahnyalebih banyak dibandingkan sistem konvensional, (2)penghematan pemakaian pupuk dan pestisida, (3)kemungkinan tumbuhnya rumput dan gulma lebih kecil, (4)dapat dipindahkan dengan mudah karena tanaman diletakkandalam wadah tertentu, (5) mempermudahmonitoring/pemeliharaan tanaman, dan (6) adanya atapplastik memberikan keuntungan (a) mencegah kerusakankarena hujan, (b) menghemat biaya penyiraman karena atapplastik mengurangi penguapan. Kekurangannya adalah (1)rawan terhadap serangan jamur, karena kelembaban udarayang tinggi akibat tingginya populasi tanaman adanya atapplastik, (2) sistempenyiraman harus kontinu, dan diperlukan beberapaperalatan tambahan, misalnya tangga sebagai alat bantupenyiraman. Pelaksanaan vertikultur dapat menggunakan bangunankhusus (modifikasi dari sistem green house) maupun tanpabangunan khusus, misalnya di pot gantung dan penempelandi tembok-tembok. Wadah tanaman sebaiknya disesuaikandengan bahan yang banyak tersedia di pasar lokal. Bahanyang dapat digunakan, misalnya kayu, bambu, pipa paralon,pot, kantong plastik dan gerabah. Bentuk bangunan dapatdimodifikasi menurut kreativitas dan lahan yang tersedia.Yang penting perlu diketahui lebih dahulu adalah karakteristiktanaman yang ingin dibudidayakan sehingga kita dapatmerancang sistemnya dengan benar.


Cara penanaman tergantung pada jenis tanamannya. Adayang dapat ditanam langsung di wadah vertikultur, ada yangharus disemai dulu baru ditanam, dan ada yang harusdisemai kemudian disapih dan baru ditanam di wadah.Pesemaian dibutuhkan oleh tanaman yang berbiji kecil,misalnyasawi, kubis, tomat, cabai, terong, lobak, seladadan wortel. Untuk tanaman yang bernilai ekonomis tinggi danmembutuhkan perawatan yang agak khusus, misalnyapaprika, cabai hot beauty atau cabai keriting dan tomat buahdilakukan cara penanaman yang terakhir.


Teknik vertikultur bisa dikembangkan dengan menggunakanrak, menyusun batako di pojok tembok atau lainnya.Sementara, sebagai wadah tanaman, bisa digunakan gelasplastik dari air kemasan, botol bekas sampai kemasantetrapak.Banyak tanaman bisa ditumbuhkan dengan teknik ini, tidakrusak juga. Untuk memaksimalkan pertumbuhantanaman, bisa digunakan campuran tanah dengan komposcacing dengan perbandingan 3:1. Pemeliharannya mudah,cukup dengan disemprot air.Dengan teknik vertikultur, maka setiap rumah tangga bisa memproduksi sayuran organik secara mandiri. Selain itu,kesehatan juga bisa diupayakan dengan herbal yangditumbuhkan sendiri. Rumah juga lebih indah berkat tanamanhias (Kompas, 1 Desember 2011). Vertikultur adalah menanam secara berundak, vertikal. Inilebih menghemat tanah, area, dan juga artistik. Jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak menanam. Mari menanam!

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article