Penyakit Baru Fahri Hamzah

21 Maret 2017 12:01:47 Diperbarui: 21 Maret 2017 12:09:43 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Penyakit Baru Fahri Hamzah
sumber: tribunnews.com

Jika masyarakat Indonesia ditanya “Apa yang dihasilkan DPR RI selama ini?”, jawaban mayoritasnya pasti mengatakan tidak tahu atau tidak jelas apa yang dikerjakan DPR kecuali yang berkaitan untuk kepentingan kelompok atau partainya.

Contoh yang berkaitan dengan politik seperti revisi MD3 bisa selesai dalam kurun waktu yang sangat cepat, sedangkan berkaitan hidup orang banyak bisa dihitung dengan jari dalam waktu setahun dan hasilnya terkadang tidak jelas.

Dari salah satu fungsinya mengolah undang-undang, beberapa tahun terakhir sudah berubah fungsi dan merambah ke urusan gugat-menggugat, membuat gaduh hingga ancam-mengancam.

Puncak kebobrokkan yang nyata adalah anggota DPR yang sudah dipecat dari partai masih bertahan sampai hari ini dan dalam kurun waktu 2 bulan berjalan sudah ada beberapa ancaman yang ingin dilakukan DPR yaitu mengirim ancaman“Hak Angket/Interpelasi”.

Waktu mereka hanya disibukkan dengan persoalan angket/interpelasi dengan tujuan untuk menjatuhkan pihak lain terutama pemerintah.

Kerja DPR luar biasa sekali, setiap ada persoalan selalu diancam dengan angket seperti hak angket penyadapan soal pembicaraan SBY-Ma’ruf Amin ketua MUI, hak angket Ahok Gate soal diangkat kembali pasca cuti, hak angket E-KTP, padahal kasus-kasus tersebut sudah masuk diranah hukum bahkan prosesnya sedang berjalan dipersidangan.

Konyolnya lagi! apa yang dilakukan anggota DPR terutama yang mulia wakil ketua DPR Fahri Hamzah justru mempersoalkan ketua KPK agar berhenti dari jabatannya.

Mestinya DPR mendukung kerja KPK secara maksimal, bukan justru mencari kesalahan pimpinan KPK yang sudah membongkar kasus E-KTP yang sudah dikorupsi sekitar Rp 2 triliun.

Bukan kali ini saja Fahri Hamzah berulah, sebelumnya juga pernah meminta agar KPK dibubarkan. Dulu berupaya agar KPK dibubarkan, sekarang minta ketua KPK mengundurkan diri. Dengan meminta ketuanya mengundurkan diri, artinya Fahri Hamzah mengakui keberadaan lembaga KPK itu sendiri.

Ini adalah bentuk “plintat-plintut” dari sosok Fahri Hamzah yang sengaja ingin mengganggu ketenangan negeri ini. Hanya karena satu sosok yang tidak berguna dari ratusan juta penduduk Indonesia yang ingin mengubah segalanya.

Anda itu hebat! Lupa dengan dirinya sendiri yang seharusnya mengundurkan diri dari DPR karena sudah tidak bernaung dibawah fraksi PKS.

Semakin konyolnya lagi! ingin mengajukan hak angket E-KTP yang bukan dikerjakan rezim Pemerintahan sekarang.

Tidak puas ingin ketua KPK cabut dari jabatannya, aksi berikutnya ingin mengajukan hak angket E-KTP, jika itu dilakukan, yang mau diangket itu siapa? Apakah ditujukan ke Pemerintahan sekarang? Semestinya hak angket E-KTP ditujukan ke rezim pemerintahan SBY yang menciptakan proyek tersebut.

Pada dasarnya hak angket itu ditujukan saat pemerintahan yang sedang berjalan dengan kasus E-KTP, namun kasus tersebut adanya di zaman SBY maka Fahri Hamzah dan rekan-rekannya dipersilakan ajukan hak angket dengan memanggil SBY dan para Menteri yang berkaitan dengan E-KTP tersebut.

Belum pernah terjadi didunia hak angket kasus rezim terdahulu diajukan pada rezam sekarang, hanya Fahri Hamzah cs punya ide cemerlang yang kelewatan “Sontoloyo”.

Semakin sangat konyolnya lagi! hak angket E-KTP minta dukungan pemerintah dalam hal ini Presiden Jokowi.

Hak angket adalah hak penuh anggota DPR dibawah beberapa fraksi partai sebagai legislatif sehingga tidak ada satupun diluar legislatif boleh ikut campur apalagi melibatkan eksekutif maupun yudikatif diminta untuk mendukung.

Lagi dan lagi, apa yang dilakukan Fahri Hamzah dengan meminta eksekutif dalam hal ini Presiden Jokowi untuk mendukung Hak Angket sebagai bukti betapa “konyolnya” anggota DPR sekarang.

Kenapa tidak minta dukungan partainya di DPR, dalam hal ini fraksi PKS.

Bagaimana mau minta dukungan fraksinya di DPR! Wong sudah dipecat dari partainya sendiri. Ini adalah bentuk tidak tahu diri seorang wakil ketua DPR yang banyak melontarkan hal-hal yang sesungguhnya membodohi diri sendiri.

Bukankah ini tontonan kebodohan nyata yang ditujukan ke bangsa Indonesia sendiri sebagai cerminan bahwa masih terdapat “kebodohan” yang kita temui di dalam gedung kura-kura.

DPR adalah cerminan bangsa Indonesia, jika ada kebodohan yang ditunjukkan seorang DPR maka betapa malunya bangsa ini.

Betapa tidak, hak angket tujuannya untuk menyelidiki kasus-kasus yang berkaitan dengan Pemerintah yang sedang berjalan, tetapi seorang Fahri Hamzah justru minta dukungan terhadap pemerintah/eksekutif sekarang yang tidak ada kaitannya dengan kasus proyek E-KTP pemerintahan SBY masa lalu.

Apakah pernah menjumpai pengajuan hak angket kasus rezim lampau ditujukan ke rezim sekarang? Parahnya lagi, minta dukungan pemerintahan sekarang yang tidak terlibat kasus tersebut. Terlalu!

Apakah pengajuan hak angket terealisasi kemudian SBY cs dipanggil atau DPR melakukan penyelidikan dengan mendatangi Cikeas?

Bukankah proses hukum sudah berjalan di KPK dan berproses di pengadilan?

Bagaimana sikap publik? Tidak ada yang merespon, bahkan publik menganggap apa yang dilakukan Fahri Hamzah tidak lebih dari atraksi seorang badut Senayan yang ingin menjadi pahlawan badut.

Bisa dilihat setiap pernyataan-pernyataannya hanya berlalu begitu saja tanpa bekas, publik sudah cerdas dan paham bahwa apa yang dilakukannya seperti orang yang mengalami mulut stress dengan kondisi otak waras.

Prilaku otak tidak waras cakupannya secara keseluruhan organ tubuh baik otak dan ucapan tidak normal atau tidak waras biasa disebut insanity.

Sedangkan, orang yang memiliki otak waras/normal akan tetapi mulutnya tidak normal alias mulut stress memiliki bahasa khusus? Dengan sebutan Half Insanity?

Bertahannya Fahri Hamzah di DPR tanpa partai membuktikan kondisi otaknya waras dan cerdas, tidak mungkin otak tidak waras ada di gedung DPR yang sangat mulia dan terhormat bukan?

Hanya saja, ocehan dari mulutnya yang dipertanyakan, apakah mulutnya stress?

sumber: bandardomino88.wordpress.com
sumber: bandardomino88.wordpress.com

Sementara, persidangan kasus suap pajak terkuak nama Fahri Hamzah, Fadli Zonk dan syahrini disebut oleh terdakwa Handang Soekarno sedikit banyak mempengaruhi kejiwaan terutama Fahri Hamzah, akankah hak angketnya berubah menjadi hak paket yang akan dikirim kedalam jeruji KPK selanjutnya? (Sumber)

Salam Angket…

Wara Katumba

/warakatumba2

POLITIK LU TU PENGADU (POLITIKus LUcu TUkang PENGAngguran berDUit
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana