Mohon tunggu...
Venusgazer EP
Venusgazer EP Mohon Tunggu... Freelancer - Just an ordinary freelancer

#You'llNeverWalkAlone |Twitter @venusgazer |email venusgazer@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Bukan Pahlawan Biasa

17 Agustus 2017   19:59 Diperbarui: 25 Agustus 2017   02:47 340
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Membangun budaya literasi (Dokumentasi Pribadi)

"Sudah berbuat apa untuk Indonesia?"

Sebuah pertanyaan  yang seketika memunculkan pertanyaan susulan yang terdengar sangat klise. "Apa yang sudah saya lakukan untuk bangsa dan negara ini?".

Beberapa detik kemudian hadir sebuah permenungan. Menjelajahi rentang waktu kehidupan. Bayangkan, ketika usia mulai mendekati setengah abad hidup dari tanah dan udara bumi tercinta ini bisa dikatakan "Kosong"!

Melihat sosok pahlawan wanita asal Aceh, Cut Nyak Dhien, seperti yang digambarkan dalam film "Tjoet 'Nja Dhien". Apa yang dilakukan beliau begitu membekas sampai saat ini. Walau harus keluar masuk hutan dan kehujanan tetapi semangatnya tidak pernah padam. Tidak ada kata menyerah walau sedang sakit sekalipun.

Rasanya jauh sekali jika membandingkan diri ini dengan pahlawan dari Tanah Rencong itu. Tidak adil jika tidak menyertakan pahlawan-pahlawan lain yang mengorbankan nyawa demi kemerdekaan Indonesia.

Selain tidak banyak yang bisa diberikan kepada bangsa dan negara ini. Saya pikir selama ini lebih banyak menuntut dan juga mengkhianatinya. Menuntut jalan-jalan diperbaiki, tetapi untuk membayar pajak kendaraan saja menunggak. Itu contoh kecil saja.

Soal berkhianat pada negara ini pun saya pernah. Dulu, di pekerjaan yang lama, menyogok guna mendapatkan proyek menjadi hal yang biasa. Padahal sering bernyanyi lagu "Bento".  Menjadi sebuah ironi karena pada tahun '97-'98 ikut dalam aksi demontrasi menyuarakan reformasi. Ternyata setali-tiga uang alias sama saja!

Kini, Kepenulisan memberikan dimensi kehidupan yang berbeda. Harus diakui bahwa dunia ini tampak lebih memberikan ketenangan. Tidak secara langsung bersinggungan dengan hal-hal negatif. Secara kasat mata memang begitu.

Tetapi kadang, kata-kata yang saya torehkan bisa menjadi pedang bermata-dua. Godaan-godaan untuk mempengarui orang lain dalam pembentukan opini-opini sering datang. Apalagi jika apa yang saya tuliskan sebanding dengan apa yang akan saya peroleh secara materi. Terus terang dalam hati mengakui bahwa itu tidak berbeda dari melacurkan diri.

Kembali lagi, sudah berbuat apa sih untuk Indonesia? Jujur bingung juga karena di luar sana banyak guru-guru atau dokter yang mengabdikan dirinya di pelosok terpencil. Ribuan tentara meninggalkan keluarga mereka hanya untuk menjaga perbatasan demi kedaulatan negara.

Jadi diri ini apalah? Sebentar, saya teringat dengan orang-orang terdekat yang setiap hari menemani hidup saya. Khususnya anak-anak tercinta. Kalau saya tidak bisa memberikan tenaga dalam bakti saya kepada negara secara langsung, saya gunakan cara lain.

Ada waktu bagi saya untuk menempa anak-anak menjadi orang-orang yang bisa menjadi pahlawan bagi Indonesia. Sejauh ini pendidikan agama dan budi pekerti mereka menjadi perhatian utama saya. Karena saya yakin itulah landasan utama bagi penerus bangsa.

Disamping itu, sejak dini saya sudah perkenalkan mereka dengan dunia literasi. Buku adalah gudang ilmu dan membaca adalah kuncinya. Sebuah kata bijak yang saya yakin kebenarannya. Cara mudahnya dengan sering mengajak mereka ke toko buku misalnya.

Apakah nanti mereka akan jadi dokter atau polisi bukan sebuah prioritas. Seandainya menjadi biarawan dan biarawati pun bukan masalah. Karena ketika nilai-nilai kebaikan universal sudah tertanam dalam diri mereka saya yakin apapun profesi mereka nanti pasti memberi manfaat bagi masyarakat.

Mereka harus menjadi penerus bangsa yang mencintai sesamanya tanpa membedakan suku dan agama. Apalagi darah mereka juga berasal dari dua etnis yang berbeda. Satu hal yang utama adalah mereka nantinya mereka harus sadar bahwa mereka harus 'membalas' kebaikan-kebaikan yang sudah mereka peroleh dari bumi yang mereka pijak.

"Bapak kok nggak pernah nulis lagi?" Sebuah pertanyaan yang dilontarkan anak saya yang paling bungsu beberapa waktu lalu. Terus terang saya kesulitan mencari jawabannya. Sesuatu yang mudah untuk mereka pahami.

"Momentum" itu jawaban dalam hati saya. Sebuah waktu yang tepat untuk kembali pada jalur saya. Caranya dengan membuang jauh-jauh ego pribadi dan melupakan luka-luka bathin. Back to my passion dan fokus pada keluarga. Memberikan kontribusi pada negeri melalui cara sederhana rasanya sudah lebih dari cukup.

Jayalah Indonesia, MERDEKA!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun