Thamrin Dahlan
Thamrin Dahlan profesional

Sharing, connecting on rainbow. Pena Sehat Pena Saran Pena Kawan

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup highlight

Makna Reuni : Mengumpulkan nan Terserak

12 Mei 2017   09:40 Diperbarui: 12 Mei 2017   17:30 356 0 0
Makna Reuni : Mengumpulkan nan Terserak
akpersarjana-591510cd759773a15ad9ef5f.jpg

                                                                                                                    sumber : dokumentasi pribadi

Sejak tamat kuliah di Palembang kami berpisah.  Berpisah mencari peruntungan masing masing. Tahun 1975 awal kehidupan mandiri mencari pekerjaan dan tentu berlanjut mencari jodoh. Awak dari Jambi terlempar di Kabupaten Kerinci.  Kemudian  bekerja sebagai PNS di Palembang sampai tahun 1979.  Hijrah ke Jakarta mengikuti nasib ketika di terima sebagai anggota Polisi. Menjadi warga Betawi sampai saat ini setelah pensiun dari Badan Narkotika Nasional tahun 2010.   Kawan satu Alumni ada yang berkerja dan setelah pensiun menetap di Jakarta, Lebih banyak bermukim di Palembang dan entah dimana lagi sanak sedulur itu mencari peruntungan yang jelas masih di nusantara.

Kami acap bertemu dalam ajang reuni atau dies natalis kampus di Palembang.  Ketika reuni kami hitung berapa  teman yang masih ada dan berapa orang pula teman yang tak pernah muncul ke permukaan. Itulah Ibu Elly Asoen dan Bapak Heri Sulaiman.  Bayangkan 40 tahun lebih tidak pernah ketemu, kemana saja Ibu dan Bapak ?. Untunglah berkat bantuan Whatsapp akhirnya (mudah mudahan) Sabtu 13 Mei 2017 Heri Sulaiman dan Elly Asoen berkenan hadir.  Inlah acara silaturahim kesekian yang serius kami adakan untuk  menjalin persaudaraan sanak sedulur. Punya kisah seragam nylaber di Rumah Sakit Tentara Benteng Palembang.  

Mengapa dizaman modern ini orang ingin bertemu dengan kawan lama. Bukankah nenek moyang kita dulu sudah melakukan acara kumpul kumpul  sejak zaman dahulu kala. Perbedaannya mungkin terletak pada mobilitas manusia  zaman sekarang. Perpindahan (migrasi) nenek moyang kita tidak segencar orang modern. Biasanya kondisi orang dahulu,  dimana dia dilahirkan maka selama hidupnya selalu berada di desa dan wafatpun kampong halaman.

Oleh karena itu orang kampong dengan kawasan desa yang tidak begitu luas menyebabkan mereka hampir setiap hari ketemu.  Bertemu ketika mengerjakan sawah, bersua kembali dipasar ketika menjajakan hasil bumi serta di tempat ibadah rutin bersilaturahim.  Jadi untuk apalagi mereka kumpul kumpul, toh sudah setiap waktu bertatap muka.  Paling tidak secara resmi  bertemu ketika hari lebaran.  Jadi sudah pasti Nenek moyang kita belum mengenal istilah halal bihalal apalagi reuni.

Kemajuan teknologi transportasi di abad 20 membawa kemudahan bagi anak manusia berpergian. Merantau sudah merupakan satu keharusan untuk memperbaiki taraf hidup. Meninggalkan kampong halaman mempunyai 2 kepentingan yaitu melanjutkan sekolah atau mencari pekerjaan. Nenek moyang kita sadar bahwa kemajuan hidup dan kehidupan untuk mengapai kesejahteraan tidak bisa lagi dicapai dikampung dengan segala keterbatasaan.

Oleh karena itu perpindahan penduduk dari satu tempat yang sepi, minus atau tandus ketempat yang lebih subur dan ramai adalah suatu keniscayaan.  Anjuran orangn tua ada benarnya, maka satu persatu anak desa meninggalkan desa untuk mencari penghidupan yang lebih baik.  Bisa jadi menamatkan sekolah terlebih dahulu setelah itu baru mencari pekerjaan yang sesuai dengan disiplin ilmu.  Satu hal yang jelas setelah menjadi sarjana jarang sekali para pemuda pemudi balik kampong kecuali niat kuat ingin membangun desa.  Itupun harus sesuai dengan keahlian seperti pertanian, perternakan, kehutanan atau profesi guru serta dokter, perawat atau bidan.

hong2-591520813193739d0a328084.jpg
hong2-591520813193739d0a328084.jpg
istilah atau kegiatan reuni atau halal bihalal muncul di era modern.  Tidak seperti orang desa yang setiap hari berpapasan muka. Orang kota (asal desa) karena kesibukan dan tinggal di kawasan yang luas di daerah perkotaan sudah sulit untuk bersua.  Oleh karena itu kerinduan atas kampong di lepaskan dengan bertemu sesama orang desa melalui acara silaturahim atau disebut secara bergensi dengan halal bihalal.  Biasanya dilaksanakan setahun sekali setelah hari raya idul fitri.

Bagaimana pula dengan versi kumpul kumpul sesama alumni.  Inilah yang dinamakan reuni.  Seorang anak manusia dipastikan memiliki banyak teman mulai dari sahabat SD, SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi.  Belum lagi reuni karena pernah sama sama menunaikan Ibadah Haji atau Umroh.  Atau kumpulan anak manusia  yang ditakdirkan  pernah bekerja di satu tempat (kedinasan).  Maka bisa jadi seseorang warga dalam setahun sibuk menghadiri reuni sampai beberapa kali.  Tentu saja reuni menjadi magnet luar biasa untuk memastikan bisa hadir mengingat cerita cerita lama akan berkumandang lagi di acara reuni.

Pengalaman awak selama ini memang harus ada beberapa koordinator untuk menyelenggarakan reuni. Bisa jadi setelah berpisah di waktu sekolah atau wisuda ada beberapa teman yang hilang dari peredaran.  Untuk itulah sarana komunikasi canggih seperti Handphone menjadi alat utama mencari teman yang hilang. Istilah orang melayu mengumpulkan nan terserak. Jadi kata orang orang tua kita,  silaturahim itu sangat bermanfaat karena membuka pintu rezeki, meningkatkan kualitas kesehatan dan memperpanjang umur. Logik dan nalar bukan ? karena di acara reuni pasti terdengar gelak tawa berkepanjangan, lupa sama segala masalah dan  syaraf pun mengendor. Ajaib bin ajib.

Salam salaman

TD