Thamrin Sonata
Thamrin Sonata wiraswasta

Freelance writer

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Semisal ini Lebaran, Lembaran itu Kita Tulis Bersama

2 Juli 2017   07:31 Diperbarui: 2 Juli 2017   08:37 169 2 3
Semisal ini Lebaran, Lembaran itu Kita Tulis Bersama
dok. new.detik.com


Cerita Minggu Pagi 36

KAUbuku terbuka, dan bahkan kemudian melipat. Aku tergulung di situ. Sekali dan berarti. Kau juga merasakan itu. Pasti. Seperti lembar-lembar berikut yang kita baca bersama. Dalam rentang entah. Waktu atau jarak yang melebar-lebar.

Mudah sekali membacamu sedang jatuh cinta.

Bah! Aku ingin mengutuk ucapan menyerupai doa itu. Peramalkah engkau wahai wanita baru di sisiku? Kau bukan wanita pertama yang singgah, dan kau akan melukaikukah? Tak ingin aku membacai rangkaiannya kemudian. Biarkan angin yang membelai rambut panjangmu ketika kauurai tak sengaja dan kau terkikik ketika kukatakan engkau lebih mempesona begitu. Mengingatkanku pada seseorang?

Seseorang siapa? Yang singgah seperti angin atau memahat di hatimu?

Aku tak suka dengan dugaanmu itu, meski itu menohok ulu hati. Menghujam dalam, dan aku hanya bisa diam. Merentang waktu-waktu lalu dan mendaki gunung-gunung di mana kami pernah merambah bukan bersamamu. Pasti. Itu selembar daun masa lalu. Yang tergores dan kujadikan herbarium hingga bisa kusimpan lama di buku masa laluku.

Gamang aku berdiri di pintu masuk stasiun besar seberang pasar berundak itu. Aku memegangi tiket untuk pulang kampung: mudik sendirian. Menjauh darimu yang sepertinya kamu dekat saja sore kemarin ketika kutelepon dengan nada sumringah dan renyah seperti biasa saat-saat kau akan kusinggahi dengan cepat bibirku ke bibirmu lalu kau akan pura-pura menolak seperti dalam remang malam di sebuah mobil yang kita naiki dari sebuah acara yang kita hadiri untuk mengantarmu pulang dan ujungnya berpisah.

“Besok seperti ini saja, ya?”

Seperti apa? Aku ragu untuk menjawab pertanyaan tanpa kulihat mimikmu karena itu percakapan sore kemarin lain lagi. Aku mengerti untuk memanggilmu dari jarak kau jauh yang sudah sama-sama kita ketahui kilometer jaraknya. Apalagi kau meninggalkan raga dan menemuiku untuk menghidupkan asamu. Entah untuk kita atau untuk sejenak menikmati saat-saat kau menggelayut di bahuku yang kausebut seperti bahuku kukuh dan melindungi. Seperti saat menyebrang, dan kau kutuntun di sisi dalam kendaraan yang menggila di Jakarta yang ingin merenggut siapa saja yang menghalanginya karena serba gegas seolah tak ingin ketinggalan kereta yang setiap saat langsir kemudian. Untuk melanjutkan perjalanan hingga stasiun terakhir.

Sehabis kuteguk segelas air putih, aku tidur. Ingin panjang kulewati seperti biasanya. Sendirian. Tak perlu sedu sedan dan apalagi mimpi tentangmu yang masih di sana itu sedang apa dan apa tak kutahu dan tidak perlu dipikirkan panjang seperti rel yang seiringan tak pernah bertemu untuk jalan yang kan kaulalui denganku.

“Besok, pagi-pagi aku akan jalan.”

Besok kapan? Sepertinya benar besok, setelah hari ini. Bukan besok entah. Bukan besok Minggu setelah Sabtu. Bisa besok Senin, Selasa atau hari apa yang bebas kautentukan nama. Kecuali besok sebagai besok entah.

Lalu?

“Kaujemputlah aku.”

Dalam hati, aku menjawab sudah seperti biasanya. Dan akan kutunaikan seperti hari-hari kemarin. Di sebuah terminal di mana kali pertama kau datang tak sendirian karena malu-malu untuk bertemu denganku. Lalu kau potret-potret untuk meyakinkan orang yang kausebut perlu untuk diberi keyakinan untuk sebuah acara bernama bertemu denganku.

Aku tertidur lagi. Hingga sebuah panggilan aku mesti sembahyang. Yang perlu dengan pakaian baru katamu sebagai sebuah setengah kewajiban untuk menghadap kepada Yang. Karena bertemu denganku saja perlu persiapan dengan pakaian pilihan. Kau pilihanku, kau sebut ulang pada sebuah film yang kita tonton bersama. Pada seorang lelaki yang bingung menerima atau menolak sebab itu diucapkan oleh wanita yang muncul tiba-tiba. Wanita cantik mempersona dan melenggang dengan langkah penuh azimat layaknya seorang yang punya daya pikat nyaris sempurna.

Kutunaikan sembahyang di lapangan yang menjemurku ketika orang-orang menghilang dan kupandangi laki-laki berkarung serta wanita menggendong anak memunguti koran-koran bekas alas sembahyang pagi itu. Di mana sang pengkhotbah dengan kalimat itu-itu, dan diolah dari masa lalu. “Pulang dari sini, ciumlah tangan dan lutut orangtuamu.”

Tak ada yang bisa kucium dan kusungkemi seperti panduan indah itu. Aku kembali di depan layar putih tak beraksara apa-apa. Aku masih di sini. Ngungun gagu untuk bekata apa. Semisal ini benar lebaran, aku sesungguhnya ingin menuliskannya lembaran putih itu. Bersamamu. ***

1 Syawal 1438 H, AP