Manajemen Sumber Daya Manusia: Study kasus

20 Juni 2017 08:47:39 Diperbarui: 20 Juni 2017 08:59:46 Dibaca : 6 Komentar : 0 Nilai : 0 Durasi Baca :

Meningkatkan kinerja Sumber Daya Manusia memerlukan pengelolaan yang sistematis dan terarah, agar proses pencapaian tujuan organisasi dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Ini berarti bahwa manajemen Sumber Daya Manusia merupakan hal yang sangat penting untuk keberhasilan perusahaan, besar atau kecil, apapun jenis industrinya (Schuller and Jackson, 1997:32).

Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan suatu ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan Sumber Daya Manusia dan sumber daya lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan. Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan suatu pengakuan terhadap pentingnya unsur manusia sebagai sumber daya yang cukup potensial dan sangat menentukan dalam suatu organisasi, dan perlu terus dikembangkan sehingga mampu memberikan kontribusi yang maksimal bagi organisasi maupun bagi pengembangan dirinya.

Persoalan manajemen memang tidak secara eksplisit dijelaskan dalam Al qur’an namun secara implisit, sesungguhnya islam menganggap sangat penting hal tersebut. Dari sirah nabiwiyah kita bisa menyimpulkan bahwa manajemen yang dibuat oleh Rosululloh SAW itu memang luarbiasa. Terbukti dari pencapaiannya dalam menyebarkan islam ke seluruh penjuru bumi. Terlepas dari campur tangan dari Alloh SWT, sebenarnya nabi SAW pun diaugerahi kecerdasan yang luarbiasa dalam perkara manajemen sumber daya manusia.

Sebut saja pada peristiwa perang “khondak” atau “perang parit”, secara matematis posisi umat muslim saat itu berada dalam posisi tertekan dan secara logis pasukan musuh akan dengan mudah mengalahkan tentara islam, hal itu mengingat jumlah pasukan keduanya tidaklah seimbang. Tetapi berkat manajemen yang baik hal itu justru yang terjadi sebaliknya, tentara muslim berhasil mengalahkan kaum kafir yang jumlahnya berkali lipat.

Manajemen sumber daya manusia yang dilakukan rasul pun terlihat selepas beliau wafat. Islam saat itu tidak lantas terlalu berlarut kehilangan sosok pemimpin selepas Nabi SAW wafat karena Rasul sudah menyiapkan kader calon pemimpin yang tidak kalah tangguh, yakni para sahabatnya. Sebut saja 4 khulafaur rasyidin, yaitu: Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan dan Ali Bin abi Thalib. Mereka dan sahabat-sahabat lainnya telah disiapkan jauh-jauh hari untuk memimpin umat selepas beliau wafat. Artinya, Rasul sudah melakukan perencanaan yang hebat dalam menghadapi persoalan transisi kepemimpinan. Ada kaderisasi dan proses upgrading yang dilakukan oleh beliau sehingga tidak ada kesenjangan terlampau jauh selepas beliau tidak memimpin dakwah umat.

Manajemen Sumber Daya Manusia di SD Muhammadiyah 01 Mantingan

Penulis mengambil penelitian di tempat ini karena memang sehari-hari mengabdikan diri di tempat tersebut sehingga informasi yang diperoleh bisa lengkap dan sumbernya dapat dipertanggungjawabkan.

Di sekolah tersebut dipimpin oleh seorang kepala sekolah yang sudah cukup tua karena beliau memang sudah pensiunan pegawai negeri beberapa tahun yang lalu. Sebelumnya sekolah ini dipimpin oleh seorang pegawai negeri yang memiliki jabatan kepala di sekolah lain yang sederajat hanya saja sekolah tersebut berstatus sekolah negeri.

Pada kesempatan Penulis akan mencoba menganalisa manajemen sumber daya manusia yang dilakukan oleh kedua kepala sekolah tersebut. Mulai dari dampak positif hingga negatifnya, tentu dilihat dari sudut pandang teori manajemen Sumber Daya Manusia.

Pertama,kepala sekolah yang sebelumnya yakni seorang pegawai negeri yang memiliki rangkap jabatan. Beliau secara intelektual memang mumpuni, hal itu karena memang beliau sudah aktif di dunia pendidikan puluhan tahun bahkan sebelum penulis lahir. Ide-ide yang dicanangkan amat progresif, namun karena beliau bestatus rangkap jabatan maka ide itu hanya berakhir dalam diskursus semata atau dengan kata lain minim aktualisasi. Bahkan kehadirannya pun bisa dihitung dengan jari sebelah tangan saja selama satu bulan. 

Dan yang terjadi adalah manajemen sekolah menjadi tidak maksimal karena hanya dipasrahkan begitu saja tanpa ada bimbingan atau evaluasi dari manajer dalam hal ini kepala sekolah dan yang terjadi adalah guru bekerja seolah tidak memiliki target dan tujuan yang jelas sehingga murid-murid pun mengalami hambatan dalam belajar.

 Belum lagi komplain dari wali murid terhadap kualitas pelayanan sekolah yang serba tidak memuaskan. Dalam hal ini penulis berkesimpulan bahwa kehadiran kepala sekolah itu sangatlah diperlukan dalam mengelola Sumber Daya Manusia sekaligus dalam rangka meningkatkan mutu sekolah. secerdas apapun manajer apabila ia tidak mampu mengelola dengan baik program-program sekolah yang dicanangkan maka hal itu akan berakhir dengan angka nol atau tanpa hasil.

Kedua,kepala sekolah periode kedua atau yang masih menjabat saat ini. Beliau adalah orang yang sangat peduli terhadap pendidikan khususnya di lingkungan sekolahan tersebut. Berbagai macam upaya telah dilakukannya, mulai dari pendekatan ke birokrasi (tingkat RT hingga Camat)kemudian pendekatan kepada wali murid semua dilakukan dalam rangka mengambil hati dan mengambil simpati mereka. Ketika ada momentum lebaran beliau selalu mengirimkan parsel dan kartu ucapan selamat idul fitri. Dalam event – event sekolah selalu mengundang mereka supaya ada pendekatan secara psikologis.

Hal itu ternyata cukup efektif, semenjak 2 (dua) tahun beliau memimpin jumlah murid kian bertambah. Yang semula hanya 3 anak per kelas, sekarang menjadi 20an anak perkelas. Ini prestasi yang luarbiasa saya kira. Sebuah manajemen yang hebat yang dilakukan oleh beliau bahkan tidak segan untuk menggunakan uang pribadi dalam setiap program-program tersebut. Dan yang lebih hebat adalah kepala sekolah ini tidak menerima uang gaji sedikitpun bahkan lebih sering ‘tombok’ (bahasa jawa).Saya kira tidak banyak kepala sekolah yang memiliki karakter semacam ini di indonesia.

Namun begitu, ada istilah “Tak Ada Gading Yang Tak Retak”begitulah peribahasa menyebutkan. Sebaik-baik manusia pasti memiliki kekurangan dan itu merupakan keniscayaan ‘bahwa manusia memang tempatnya salah dan lupa’. Dalam konteks ini penulis tidak bermaksud merendahkan atau mengungkit kelemahan kepala sekolah yang hebat tadi tetapi mencoba membanding fakta yang terjadi dengan teori manajemen yang ada, apakah sudah sesuai ataukah belum.

Dari segi usia, kepala sekolah tersebut sudah sudah tidak dalam usia produktif, artinya sudah saatnya ada regenasi supaya kemajuan yang sudah ada tidak lantas hilang ditelan bumi. Regenerasi bukan hanya dari seri manusia tapi juga segi pemikiran. Dalam hal ini berkaitan dengan usia, seringkali beliau lupa atau bahasa jawa “pikun”sehingga ketika rapat sering mengulang pembahasan yang sama. Sudah diingatkan pun ketika pertemuan berikutnya masih tanya lagi, hal ini terkadang membutuhkan kesadaran dan kesabaran dari guru – guru. Selain itu tingkat responsifitas beliau pun lambat, karena memang faktor usia itu tadi. Tidak jarang sekolah telat mendapat informasi dari dinas terkait.

Sesungguhnya beliau bukanlah praktisi pendidikan, beliau mantan kepala pertanian di tingkat Kabupaten sehingga keahliannya justru dibidang pertanian bukan pendidikan. Sehingga yang terjadi adalah administrasi kantor yang berkaitan dengan pendidikan tidak teratur. Beliau hanya fokus pada manajemen luar sekolah tetapi manajemen internal sering tidak sesuai. Program – program pendidikan semua diserahkan pada guru karena dianggap lebih paham. Tetapi perlu dicatat bahwa guru disana belum memiliki pengalaman dalam mengajar di lembaga pendidikan lain. Sehingga yang terjadi adalah tidak seimbangnya kekuatan manajemen luar sekolah dengan manajemen di dalam sekolah.

Maka dalam hal ini perlu adanya upgradinguntuk guru supaya ada keseimbangan dari dua lini tersebut. Kekuatan manajemen luar sekolah sudah bagus tinggal penguatan di sektor internal. Sehingga ada pembagian tugas dan tanggung jawab karena kita tidak bisa memaksa beliau berfikir di semua sektor. Program sekolah beliau yang menyusun, pendanaan pun tidak luput ditambah lagi konsolidasi dengan pihak eksternal pun menjadi tanggung jawab mereka. Lantas peran guru apa? Apa hanya di kelas menyampaikan materi? Tentu tidak. Maka dari itu perlulah belajar mengenai Manajemen Sumber Daya Manusia, supaya semuua unsur dalam sekolah dapat berdaya guna. Mulai dari yayasan, kepala sekolah, guru, tokoh masyarakat, birokrasi, komite, orangtua dan semua pihak yang tergabung didalamnya. Perlu ada komunikasi yang lebih serius supaya menghasilkan langkah nyata dan produktif dalam sekolah tersebut.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL humaniora

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana