Jogja, Warnet dan Citizen Journalism Berbayar

20 Mei 2017 23:51:05 Diperbarui: 21 Mei 2017 00:21:13 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Tiba di Jogja terlampau malam, akupun terpaksa menunggu hingga jam check-in hotel. Harus membayar untuk 24 jam untuk layanan cuma 12 jam, kok, rasanya tidak masuk akal untuk kondisi keuanganku. "Masih tersisa 12 jam lebih," pikirku. Enaknya kemana, ya? 

Kucoba nongkrong sambil menikmati makanan di angkringan kawasan Mangkubumi. Ternyata daya tahan mereka tak sampai jam 3 pagi. Sementara itu posisi hotelku hanya 50 m dari arah Tugu. Kuayunkan langkahku ke arah Tugu, melihat kumpulan manusia yang asyik dan bebas selfie di dekat batu yang tingginya tak sampai 5 meter itu. "Batu ya tetap batu, apa uniknya? Kurang kerjaan juga anak-anak muda ini," batinku. Mungkin aku emosional karena gerah hati dan gerah body; terlebih kala itu Jogja lembab dan becek setelah seharian diguyur hujan deras. 

My survival ability pun diuji. Berdiam diri mengamati manusia dengan ragam usia dan jenis kelamin dengan aneka tingkah tak kalah mengasyikkan, ternyata. Percayalah, jika kau hendak menilai kearifan seorang manusia dan kejujuran sebuah kota, datangilah ia saat jam 2 pagi. Hanya hening dan kegelapan yang mengungkap kejujuran, karena ramai dan terang hanya mencipta ilusi berlapis yang dipastikan menipu diri. Aku hanya tertawa dengan kesimpulanku yang satu ini. "Bahkan Tuhan pun takut ditipu manusia sehingga mengeluarkan perintah melaksanakan tahajjud di jam-jam segini," kataku. 

Lamunanku sontak buyar saat tetes demi tetes air jatuh dari langit. Nowhere to run? I don't think so. Beberapa menit sebelumnya mataku berpapasan dengan kata-kata yang terpampang di bangunan sisi utara Tugu, yang mengarah ke pasar tradisional. "Bla bla bla ... NET? Mungkinkah itu warnet?" aku bertanya-tanya sembari melihat deretan motor dan hilir mudik pemuda keluar masuk tempat yang sama. Hanya dalam hitungan detik aku pun tiba di sana dan mengakuisisi satu bilik yang strategis di warnet ber-AC dan bebas asap rokok itu. Berselancar di dunia maya pun dimulai.

Saat bermain Internet dini hari itu aku mendapati sebuah link unik, yang mengarah ke sekumpulan situs media online. Ternyata media online-nya benar-benar unik, dimana penulisnya bebas bisa siapa saja asalkan sudah mendaftar di media tersebut. Aku awalnya bingung memasukkan media semacam ini ke kategori yang mana. Gampangnya, sih, media ini sejenis persilangan antara blog dengan citizen journalism dimana penulis nantinya dibayar sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kesimpulan sementaraku mengatakan ada 3 (tiga) macam pembayaran: (1) per artikel setelah mencapai sekian view; (2) total view dikonversi menjadi poin untuk kemudian dimonetisasi; dan, (3) dari iklan yang nongol di artikel.

Sebagian besar kontennya menarik dan, jujur saja, aku kagum dengan kontributor-kontributornya yang rata-rata masih muda namun sangat kreatif dalam memilih topik yang menghasilkan view banyak. Kemampuan mereka browsing dan mencari berita, serta menuliskannya dengan gaya tak baku, mencerminkan Internet literacy yang di atas rata-rata sekaligus kebosanan akan berita serta isu yang ditanamkan oleh media mainstream. 

Walhasil, aku pun tertantang untuk membuat tulisan sejenis. Dan sudah ada yang dimuat. Di sini contohnya.

Sungguh pembuka hari yang menyenangkan. Siapa sangka kegelapan malam dan hujan rintik di Kota Gudeg ini justru membuatku melangkah ke sebuah warnet dan merangsangku untuk menulis dalam gaya yang sepenuhnya baru? Apakah ciri khas dan gaya penulisan, apapun itu bentuknya, harus dipertahankan? Mungkin Orhan Pamuk akan berkata padaku saat itu bahwa gaya dan ciri khas (penulisan) adalah cacat; bukan keunggulan. Aku belum bisa berdebat dengannya. Namun, satu hal yang pasti, aku tak bisa hidup dengan tantangan yang sama.

Farid Solana

/solanaism

I'm divergent. And a Black Swan also.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana