Sigit Budi
Sigit Budi wiraswasta

content writer, blogger, penggiat ekonomi digital www.bluepenmedia.net email: info@bluepenmedia.net

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Label Negatif, Hidayat Nur Wahid Salahkan Media

21 April 2017   13:00 Diperbarui: 21 April 2017   13:25 754 6 5

Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua MPR, juga petinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengomentari pemberitaan media asing tentang Pilkada DKI Jakarta dengan kemenangan Paslon No. 3, dalam rilis tertulis dikutip oleh Detik.com.

"Menurut mereka (media Barat), itu adalah kemenangan radikalis atas kaum modernis. Saya bilang itu media Barat perlu belajar demokrasi dari Indonesia. Media Barat perlu belajar komunikasi massa dari media Indonesia," kata Hidayat dalam keterangan tertulis MPR, Jumat (21/4/2017).

Pernyataan ini menarik, terutama dalam pernyataan, ".........Media Barat perlu belajar komunikasi massa dari media Indonesia".  Mengapa media barat harus belajar komunikasi massa dengan media nasional Indonesia? Saya tidak mengerti bagaimana pemahaman Wakil Ketua MPR ini tentang komunikasi massa. Saya akan mengambil definisi yang umum saja dari Wikipedia, karena bila mengutip dari para pakar komunikasi akan membingungkan. 

Komunikasi massa adalah proses di mana organisasi media membuat dan menyebarkan pesan kepada khalayak banyak (publik).[1]  Organisasi - organisasi media ini akan menyebarluaskan pesan-pesan yang akan memengaruhi dan mencerminkan kebudayaan suatu masyarakat, lalu informasi ini akan mereka hadirkan serentak pada khalayak luas yang beragam. Hal ini membuat media menjadi bagian dari salah satu institusi yang kuat di masyarakat.

Pertanyaannya, apa yang harus dipelajari media barat dalam komunikasi massa dari  media nasional ? Dalam penjabaran definisi Wikipedia ada 2 (dua) kegiatan komunikasi massa yaitu :

  1.  Pembuatan Pesan
  2.  Penyebaran Pesan

Kegiatan mana yang perlu dipelajari ? Pembuatan pesannya? (berarti proses pemilihan, pembuatan, pengemasan pesan) atau penyebarannya ? (media elektronik, printing, online)

Menurut hemat saya, Hidayat Nur Wahid menginginkan media barat belajar dalam proses "pembuatan pesan" kepada media nasional. Secara tehnis, proses pembuatan pesan jurnalistik  dan prinsip - prinsipnya berlaku universal yaitu : independensi dan kebebasan mengungkapkan pendapat. Pembeda pemberitaan antar media  pada umumnya adalah sudut pandang redaksi pemberitaan yang dipengaruhi oleh sikap politik dari pemilik pemilik perusahaan media massa. 

Contohnya, MNC Grup milik Hari Tanoe secara eksplisit mendukung Paslon No. 3, untuk mendukungnya lewat channel iNews selalu menghadirkan tokoh pendukung dalam No. 3 dalam setiap program Talk Show dan kutipan - kutipan pemberitaan. Hal itu sah - sah saja.  Demikian pula dengan MetroTV, milik Surya Paloh  sebagai penyokong No. 2. Mengapa Hidayat tidak berani mengomentari MetroTV

Boleh - boleh saja Hidayat berkomentar tentang pemberitaan media barat terhadap Pilkada DKI Jakarta 2017. Padahal  media nasional juga tidak sedikit yang mengambil sudut pandang seperti media barat,  baik media elektronik, printing dan online. Jadi apa bedanya antara media barat dengan media nasional dalam pemberitaan Pilkada DKI Jakarta 2017 ? Bila Hidayat menginginkan pemberitaan media asing (barat) memberitakan secara positif proses Pilkada di masa datang dengan predikat positif, sebaiknya Hidayat membeli saham mayoritas perusahaan media asing agar selalu mendapat pemberitaan positif terhadap perilaku politik partainya. 

Bila Hidayat terganggu dengan pernyataan media barat ".....kemenangan radikalis atas kaum modernis"., apa membuatnya gundah?  Toh media nasional dan banyak tokoh politik nasional mengungkapkan hal yang sama di media televisi, radio, cetak, dan media online. Apabila label dari media barat tentang kemenangan itu bukan sebuah "aib", rasanya pendapat Hidayat tidak perlu sampai dibuat rilis. Sebenarnya Hidayat mewakili siapa dalam komentar ini, lembaga MPR RI atau Partai PKS