Mariani

21 Maret 2017   10:47 Diperbarui: 21 Maret 2017   11:00 50 0 0

Tak banyak yang tahu perihal desa Sumber Pakis sebagai salah satu pemasok gadis-gadis cantik di Indonesia. Entah karena kalah sohor dengan Bandung atau karena warga desa Sumber Pakis tak ada yang menjelma jadi artis hingga media enggan menyoroti. Sumber Pakis bisa dibilang cukup terpencil dan jauh dari peradaban, siapapun enggan berlama-lama disana. Selain udara yang dingin khas lereng gunung, desa ini juga lumayan jauh dari kehidupan  kota. Akan sangat susah sekali mencari akses komunikasi karena kendala signal yang luar biasa menjengkelkan. Di jaman teknologi yang serba canggih ini, setiap orang  dituntut untuk meninggalkan kebiasan manusia purba seutuhnya. Tapi apalah daya jika penduduknya saja tak kenal apa itu teknologi. 

Masa bodoh dengan teknologi, yang penting ada makanan untuk hari esok, entah milik tetangga yang harus mereka jarah sekalipun. Kebodohan masih merajalela memang, akan tetapi tak membuat warganya hingga kehilangan moral. Pencurian, perselingkuhan, hamil di luar nikah, dan mabuk-mabukan bukanlah hal luar biasa yang bisa menyebabkan sakit jantung lalu mati, hanya cukup untuk membuat kepala pusing saja. Namun tak pelak banyak bidadari yang dilahirkan di sana, menjadi sasaran pemuda desa lain untuk dipinang. Memang tak sebanyak Bandung dan tak secantik Syahrini, namun cukup membuat beberapa lelaki dari luar kota rela melangkahkan kakinya ke Sumber Pakis. Salah satu bidadarinya memiliki nama Mariani.

Mariani kembang desa Sumber Pakis. Cantik, putih, rambutnya panjang dan tidak pernah terpoles dengan warna-warna aneh mengerikan yang sering orang-orang sebut make-up. Tubuhnya tinggi semampai bak model ibu kota. Matanya bulat dan polos, masih suci lahir batin. Perangainya baik, mirip malaikat namun tak bersayap. Senyumnya menggetarkan jiwa. Tuhan sangat adil. Fisiknya memang sempurna didamba pemuda-pemuda desa, tapi hidupnya sangatlah menyedihkan. Tinggal berdua bersama nenek tua renta yang bahkan menelan makanannya sendiripun kesusahan. Orang tuanya terlebih dahulu menghadap Yang Kuasa saat dia masih mengenakan popok, Si Mbok lah yang bertanggung jawab merawat dan membesarkannya. Sungguh malang nasib Mariani, kini Si Mbok  terbaring lemah menunggu ajal menjemput. Dokter tak mampu menyembuhkan, sudah parah katanya. Mariani berusaha kuat, dengan tekad sekeras baja pergi mengadu nasib ke kota untuk kesembuhan Si Mbok. Biarlah diri sengsara asal nenek bisa melihat dunia lebih lama. Tipikal gadis pujaan.

Expectasi tidak sesuai realita, begitulah ungkapan anak muda jaman sekarang. Yang diimpikan tak sesuai dengan realita didepan mata. Tak pernah terpikir dalam benak polos Mariani jika mencari pekerjaan dikota sama susahnya seperti menguras sumur pakek Aqua. Selain capek, susah lagi. Sudah satu minggu terlantar di kota Jakarta, dengan berbekal uang celengan macan pemberian Si Mbok  waktu bayi tapi tak ada satu lowongan pun yang mau menerimanya. Mariani sempat pusing, padahal tidak melamar menjadi direktur ataupun karyawan swasta yang membutuhkan titel atau  apalah namanya. Lhawong dia hanya ngelamar jadi pembantu kok ya susah amat. Dari seminggu yang lalu rumah gedongan yang Mariani datangi musti menolak, katanya gak butuh pembantu lah, takut dimalingin lah. Duh gusti, mana ada juga maling secantik Mariani, daripada jadi maling mending Mariani jadi tukang begal. Lebih ekstrem pikirnya.

“Duh Gusti. Gimana ya kabarnya si mbok? Sudah makan belum to yo? Mbah Sarmi pasti merawat mbok dengan baik. Aku ndak boleh terlalu banyak mikir”

Mariani bingung pol. Apa salah ya kalau dia pergi ke kota? Niatnya kan baik, Cuma mencari kerja lagipula dia selama ini kan baik hati dan tidak sombong tapi kenapa yak kok dia tidak dapat-dapat pekerjaan? Sambil makan di pinggir jalan, Mariani ngelamunin nasib yang tak kunjung membaik tapi tiba-tiba ada seorang tante-tante yang jatuh di depan matanya.

“Lhoalah Gusti, sampean ini kenapa to mbak??”

Mariani kaget setengah mampus, baru kali ini ketemu orang berdarah-darah gitu. Ngeri kan ya, lagi enak-enak makan juga.

“Tolong saya mbk”. Bukan hanya kakinya saja yang berlumuran darah tapi wajah dan tubuhnya juga nampak kuyu. Kasihan sekali

Mariani tak tega melihat orang sekarat di depan mata, jiwa malaikatnya terguncang ingin menolong. Mariani pun menuruti kata hatinya. Hitung-hitung cari pahala.

“Saya bantu berdiri mbak, saya bawa ke kos mau ya mbak??”

Wanita itu hanya mampu menganggukkan kepalanya pelan, sepertinya benar-benar kesakitan. Mariani pun langsung membopong si mbak tadi dengan susah payah. Sebenernya dia gak mau repot, tapi kasian mbaknya. Kata Si Mbok, kita harus menolong seseorang yang membutuhkan pertolongan. Duh, lagi-lagi inget Si Mbok. Menggelengkan kepala Mariani langsung mencegat angkot dan membawa pulang tante-tente tadi ke kosnya tercinta.

         ************************************

Di kos

“Sebentar ya mbk, saya ambilkan kotak obat dulu”.

Mariani bergegas mengambil obat, takut si Mbak lukanya tambah mengkhawatirkan. Menghela nafas, untung Mariani punya kotak obat meski gak selengkap kayak Rumah Sakit. Lagian dia juga gak punya cita-cita bikin Rumah Sakit kok.

“Memangnya mbak habis ngapain kok sampek dipukulin orang?” Mariani bertanya-tanya kenapa orang secantik mbak ini bisa dipukulin orang, memangnya habis ngapain? Kan aneh gitu lho.

“Oh ya perkenalkan dulu mbak, nama saya Rebecca”. Wanita yang ditanyai pun akhirnya memjawab meskipun dengan suara pelan.

“Oh ngapunten mbak, sampek lupa memperkenalkan diri. Nama saya Mariani dari desa Sumber Pakis” Mengobati sambil mengobrol bukanlah hal yang buruk untuk mengenal si tamu lebih dalam.

“Gak apa-apa mbak. Makasih ya mbak sudah mau nolong saya. Karena mbak sudah menolong saya maka saya akan jujur sama mbak”

Mariani penasaran, kok hawanya rada gak enak. Kayaknya mbak didepannya ini ingin mengungkapkan sesuatu yang penting, dari mukanya aja kelihatan. Serius begitu.

“Mbaknya ndak usah ngomong banyak-banyak kalo masih sakit mbak” Meskipun penasaran, Mariani cukup tahu diri untuk tidak bertanya pada orang yang sedang terluka parah. Namun mbak itu malah tersenyum dan menggeleng pelan.

“Saya adalah selingkuhan seorang pejabat mbak, tadi saya kepergok sama istri sahnya lalu dia memanggil orang-orang komplek untuk memukuli saya”

“Selingkuhan itu artinya tukang perusak rumah tangga orang kan ya mbak?” Mariani segera menampar mulutnya karena mengeluarkan kata-kata yang tak mengenakkan hati. Tapi memang benar, survey membuktikan bahwa sebagian besar hancurnya rumah tangga adalah karena perselingkuhan.

Rebecca kaget untuk sekian detik mendengar ucapan Mariani, namun akhirnya tersenyum kembali. Dia sudah tahu bahwa pekerjaannya memang menjijikkan di mata orang normal. Tapi mendapat pertanyaan seperti itu dari gadis polos di depannya agaknya sedikit melukai hatinya. Tapi itu belum seberapa dibandingkan sakit hatinya istri para pejabat yang suaminya menjadikan dia selingkuhan. Tentu saja sakitnya berkali lipat tsadeesst.

“Saya terpaksa bekerja seperti ini mbak. Saya juga dari kampung sama kayak mbak, saya sudah mencari pekerjaan yang halal. Saya sudah berusaha tapi saya tidak mendapatkannya, sedangkan saya harus menghidupi anak dan ibu saya karena suami saya menghilang entah kemana”.

“Tapi apakah gak ada cara lain mbak? Mbak sudah coba jualan atau ngelamar jadi pembantu?”

“Sudah mbak, tapi tidak ada yang membeli dagangan saya dan juga tidak ada orang yang mau mempekerjakan saya. Akhirnya saya memilih jalan pintas”.

Inginnya Mariani bertanya lebih jauh tapi karena gak tega sama mbaknya akhirnya gak jadi.

“Anu mbak saya mau pulang dulu. Terimakasih untuk bantuannya. Ini kartu pengenal saya, kalau mbak Mariani butuh pekerjaan pasti saya akan menerima mbak dengan senang hati. Saya permisi mbak Mar”

Wanita itu berusaha bangkit meskipun agak tertatih, entah kenapa Mariani membiarkannya begitu saja. Apa mungkin efek dari kenyataan jika wanita dihadapannya ini berprofesi sebagai perusak rumah tangga orang? Mariani tidak mengerti. Mau sesusah apapun dan semenderita apapun seseorang, menjadi duri dalam rumah tangga orang bukanlah hal yang dibenarkan di mata agama dan hukum. Akankah kemiskinan akan terus mengikutinya hingga dia memilih menyerah dan berakhir seperti Rebecca suatu hari nanti?

Mariani yakin dirinya tidak serendah itu, kemiskinan memang sedang mencengkramnya saat ini, akan tetapi dia tidak mau menyerah. Dia masih muda dan kuat, kerja keras dan do’a adalah yang harus selalu dilakukan.

“beneran gak apa-apa mbak? Yaudah hati-hati mbak”. Mariani membiarkan wanita itu lewat dan pergi ke asalnya.

“Sekali lagi terimakasih ya mbak. Saya undur diri”

“Monggo mbak saya antarkan sampai depan pintu kos”

                       

                        ******************************************************

3 Bulan kemudian…

Saat ini dia masih duduk di pinggir jalan, dan masih sama seperti 3 bulan yang lalu, nganggur. Tidak ada pekerjaan sama sekali, semua lamaran ditolak. Jualan apapun hanya sedikit yang beli, banyak ruginya. Duh Gusti, kenapa mencari pekerjaan sesusah ini ya. Ngelamar jadi pembantu ditolak karena terlalu cantik katanya, takut suami majikan kecantol. Jualan kue gak laku gara-gara tetangga sebelah rumah jualan juga, katanya daerah kekuasaan dia lah. Situ penjual kue apa preman perempatan gang sih. Yang namanya nyari penghasilan ya mbok yo seng adil toh, emang kota ini punyae mbahmu apa? Sewot bener kamu Mar? lagi dapet?

“Kalau 3 bulan masih begini-begini aja, aku bisa kolaps alias mati. Niatku nyari kerja di kota bukan jadi pengangguran,. Duh apa ya musti aku ikutin jejak mbak Rebecca jadi simpanan para pejabat? Apa kata Si Mbok nanti kalau lihat cucunya jadi perusak rumah tangga orang? Bisa-bisa Si Mbok mati duluan gara-gara Mariani”

Bingung, musti gimana. Uang sudah hampir habis untuk transportasi dan buka usaha, gimana cara bayar kos bulan depan? Bisa-bisa dia ditendang kalau gak bayar kos bulan depan.

“Aaaaaaaaaaaaa….. mbok, Mariani harus gimana ini?!!! Aku bisa gila mbok!!”

Brumm Brumm..

Ngeeennggggggg

Tint.. tint…

Berada dipinggir jalan, tak ayal membuat Mariani ikut merasakan kebisingan lalu lintas kota Jakarta dan dengan tidak tahu malunya berteriak bak orang gila.

Dan lebih hebatnya malah memberikan dia ide yang lumayan bagus. puji syukur

“Sek, kenapa gak mencoba ngelamar gojek ya? Mariani kan bisa nyetir motor? Oke besok berangkattt!!!”

Bersambung……