HIGHLIGHT

Produk Dalam Negeri dan Krisis Ekonomi

02 Juni 2012 00:48:57 Dibaca :

Masih segar dalam ingatan kita, Pak Jusuf Kalla.  membuka sepatu dan menunjukan kepada penonton saat debat di stasiun Televisi. Sepatu saya buatan Cibaduyut.


Bagus khan !.




Secara berturut-turut, dua Triw terakhir (Triw IV/2011 dan Triw I/2012), Neraca Transaksi berjalan (Ekspor – Impor) Indonesia mengalami Defisit, sedangkan tahun 2010 sampai Triw, III/2011 selalu Surplus. Bahkan, Triw I/2012 defisitnya semakin besar dari sebelumnya defisit USD 1,57 miliar menjadi USD 2,89 miliar.


Berdasarkan Laporan Bank Indonesia, penyebab utamanya  adalah transaksi minyak yg mengalami defisit sebesar USD 5,8 miliar. Ekspor USD. 4,683 juga dan Impor USD. 10,127 juta. Defisit transaksi minyak ini juga semakin membesar dari sebelumnya (Triw. IV/2011) defisit USD. 4,25 miliar.


Dilihat lebih detail, defisit transaksi minyak karena produksi minyak Indonesia terus menurun. Dulu mencapai 1300 juta barel perhari, sekarang hanya 865 barel per hari. Disamping produksi yang menurun, harganya juga naik dan konsumsi minyak terus bertambah, naik 9% dibandingkan periode sebelumnya.




Penyebab lainnya, karena nilai ekspor juga turun dibandingkan periode sebelumnya terkait dengan resesi/krisis di belahan dunia lainnya, khususnya Eropa yang dipicu oleh skandal hutang Yunani, Spanyol, Portugal dan Italia.


Krisis di Eropa ini, kelihatannya memerlukan waktu yang cukup lama untuk bisa pulih karena sudah memasuki krisis politik. Yunani, kembali menggelar pemilu karena para politikus gagal membentuk pemerintahan.



Keinginan Yunani untuk keluar dari mata uang EURO yang mereka anggap salah satu obat keluar dari resisi mendapat tantangan dari pemimpin Eropa lainnya, khususnya dari Jerman karena Jerman adalah kreditor (pemberi pinjaman) terbesar kepada Yunani.



Krisis ekonomi yang merambat ke krisis politik juga terjadi di Italia dan Prancis. Silvio Berlusconi, PM Italia mundur dan digantikan oleh Mario Monti. Presiden Prancis, Nicolas Sarkozy yang menjabat sejak tahun 2007 kalah dalam Pemilu dan digantikan oleh Francois Hallande.



Pemimpin baru tersebut, sudah barang tentu memerlukan waktu untuk bisa tancap gas. Minimal, mempelajari terlebih dahulu kebijakan/program sebelumnya. Apa bisa dilanjutkan atau dirubah total.




Kembali kepada defisit Neraca transaksi berjalan, dampaknya merembet kemana-mana. Modal asing kembali keasalnya (Capital outflow). Nilai rupiah turun mendekati Rp. 9.700 per USD, dimana sebelumnya dibawah Rp 9.000 per USD.  Turunnya nilai Rupiah membuat harga barang menjadi mahal/naik. Harga naik adalah cerminan inflasi, musuh utama yang harus diperangi.

Kenaikan harga sebagaimana yang pernah kami tulis sebelumnya disebabkan karena persepsi pedagang atas rencana kenaikan bbm untuk menekan subsidi.


Walaupun bbm nggak jadi naik, tapi harga-harga nggak mau turun.



Produk Dalam Negeri.




Kembali kepada Defisit yang utamanya disebabkan bbm, sebagai anggota masyarakat dan warga NKRI, kira-kira kontribusi apa yang bisa kita lakukan untuk menekan defisit tersebut ?.
Mempengaruhi harga BBM, naik atau turun, kita tak bisa melakukannya. Serahkan saja kepada Pemerintah dan DPR yang punya kewenangan untuk itu.

Membantu Eropa keluar dari krisis untuk membuka peluang Ekspor produk Indonesia ke sana, juga usaha yang sia-sia, jauh panggang dari api.




Sebagai warga yang cinta NKRI, konstribusi yang bisa kita lakukan dan seratus persen kendalinya ditangan kita adalah mencintai produk dalam negeri. Bukan hanya mencintai, tapi memakai produk dalam negeri sebanyak-banyaknya.


Efek positif pemakaian produk dalam negeri.


Satu: Penurunan ekspor, membuat kapasitas tidak maksimal. Semakin kecil jumlah produksi, semakin besar biaya per unitnya karena biaya tetap faktor pembaginya semakin kecil.

Sebagai ilustrasi, Dulu biaya tetap Rp. 1 juta dibagi dengan produksi 1.000 unit. Sekarang Rp 1 juta dibagi dengan jumlah produksi 500 unit.


Secara matematis, obat mujarabnya adalah meningkatkan produksi sehingga biayanya turun yang pada akhirnya harga jual juga akan turun. Kapan produksi bisa meningkat?. Kalau ada permintaan.



Dua : Peningkatan permintaan produk dalam negeri akan menggantikan/mengurangi produk impor. Akhirnya, defisit jadi berkurang. Ujung-ujungnya nilai rupiah menjadi naik. Rupiah naik, biaya menurun karena masih ada sebagian bahan baku yang masih harus diimpor. Kok Rupiah naik ?. Karena permintaan akan mata uang asing berkurang. Hukum permintaan dan penawaran.



Tiga : Peningkatan ekonomi dalam negeri merembet kemana-mana. Tenaga kerja bertambah alias pengangguran berkurang. Terus…….terus………1001 satu efek positif yang nggak bisa diuraikan disini.



Beberapa hari yang lalu, saya ngobrol dengan seorang pengusaha pakaian jadi. Beliau baru saja pulang dari Jepang dan bercerita tentang kualitas tekstil Jepang yang begitu hebat. Saya katakan, coba Bapak beli tekstil mereka dan kirim pakaian kesana. Disini biaya produksi murah. Di sana bisa dijual dengan harga yang murah juga. Beliau jawab. Nggak mungkin, orang Jepang sangat fanatik dengan produk dalam negerinya. Ooooo begitu…..Pantesan ekonominya maju.



Aplikasi pemakaian Produk Dalam Negeri.



Untuk menekan subsidi BBM, Menteri BUMN menghimbau instansi Pemerintah dan BUMN untuk memakai Pertamax yang dijual dengan harga pasar. Kalau dipikir secara sederhana, pemakaian Pertamax oleh Pemerintah dan BUMN juga berasal dari Anggaran Pemerintah.. Subsidi berkurang, tapi biaya lainnya bertambah. Pencet di sini, muncul di sana.



Mencontoh pada kasus himbauan di atas, alangkah lebih baik jika Menteri BUMN menghimbau seluruh PNS dan pegawai BUMN untuk lebih sering memakai batik. Sebelumnya hanya setiap hari Jumat, mungkin bisa ditambah satu hari lagi atau bahkan setiap hari.



Pakai batik. Keren lho !

REFLUSMEN R

/reflus

Merindukan Indonesia Makmur
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?