Mohon tunggu...
Prayitno Ramelan
Prayitno Ramelan Mohon Tunggu... Tentara - Pengamat Intelijen, Mantan Anggota Kelompok Ahli BNPT

Pray, sejak 2002 menjadi purnawirawan, mulai Sept. 2008 menulis di Kompasiana, "Old Soldier Never Die, they just fade away".. Pada usia senja, terus menyumbangkan pemikiran yang sedikit diketahuinya Sumbangan ini kecil artinya dibandingkan mereka-mereka yang jauh lebih ahli. Yang penting, karya ini keluar dari hati yang bersih, jauh dari kekotoran sbg Indy blogger. Mencintai negara dengan segenap jiwa raga. Tulisannya "Intelijen Bertawaf" telah diterbitkan Kompas Grasindo menjadi buku. Website lainnya: www.ramalanintelijen.net

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Ayo Sama-sama Lawan Covid-19, Jangan Kalah dengan Virus yang Tak Bisa Mikir

16 Maret 2020   11:04 Diperbarui: 17 Maret 2020   16:41 230
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi menggunakan masker di antara kerumunan orang. (sumber: shutterstock via kompas.com)

Ada rasa prihatin dan khawatir, level pejabat tinggi yang kareba jabatannya bersentuhan langsung dengan orang yang bisa terkontaminasi saja tidak alert, masih salaman, cipika-cipiki. 

Menhub Budi Sukarya awalnya sibuk nyambut WNI yang datang dari Yokohama. Lalu pada Rabu (11/3) masih ikut rapat kabinet, bukan tidak mungkin sudah masa inkubasi. Beliau mungkin sudah tidak enak badan tapi menyepelekan karena semangat kerjanya.

Langkah pemda DKI yang mengimbau masyarakat membatasi kumpul-kumpul, meliburkan sekolah, menutup tempat rekreasi, apa efektif? 

Kemarin mobil yang rekreasi ke Puncak, macet 7 km, ini bukti rakyat Jakarta cuek-cuek saja, tetap liburan. Nah, pemerintah sudah saatnya lebih tegas bertindak, atasi berkembangnya convid-19. Covid-19 ini silent killer, karena tidak kasat mata dan mampu berevolusi, tidak menunjukkan gejala seperti SARS. Convid-19 dapat dikatakan sebagai teroris kecil: tidak bisa mikir, tidak kasat mata, dan pintar menyelinap di tubuh manusia.

Data yang terinfeksi, 2/3 (2 kasus), 4/3 (6), 6/3 (19), 10/3 (27), 11/3 (69) , 13/3 (96)- 5 meninggal, 8 sembuh, 15/3 (117) - kenaikan 21, lokasi 19 Jakarta, 2 Jateng.

Indonesia punya pilihan, belajar dari China, Jepang, Korsel, Iran, Italia, Spanyol yang merupakan negara-negara maju, tetapi ada yang gagal dan ada yang lumayan sukses melawan Covid-19. Tetap saja yang terinfeksi banyak.

Presiden Jokowi sudah tepat membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Ketuanya Letjen Doni Monardo, ex Kopassus. Jadi beban tidak ditanggung di pundaknya sendiri. 

Biarkan masing-masing Gubernur/Bupati berimprovisasi, itu tanggung jawab mereka kepada warga yang memilihnya. Ayo kita bergandeng tangan bersama, jangan sampai kita kalah sama virus yang tidak bisa mikir, sedang kita bisa mikir.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, jadi tumpuan utama, karena sepertinya Jakarta jadi epicentrum. 

Kini Anies diuji, apa keputusannya melakukan kompartmentasi agar virus tidak meluas bisa sukses. Butuh keberanian dan pethitungan masak, ini momentum, yang bila sukses akan tertanam di hati warga.

Edukasi publik ini yang penting. Mau lockdown atau apa langkahnya, terserah, yang penting ambil keputusan dengan risiko yang sudah dihitung seperti perkiraan banyaknya yang kena. Kemungkinan RS tidak mampu menampung yang terjangkit dan bahkan hitung kemungkinan chaos, tebatasnya logistik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun