Kokohkan Cinta dalam Rumah Tangga

28 April 2013 16:27:55 Dibaca :

Perkenalan saya dengan dirinya menyisakan sebuah renungan yang mendalam. Sebut saja namanya Ratu. Ratu baru menikah 6 bulan yang lalu. Sebagai seorang pegawai di sebuah bank yang terkenal di Ibukota Jakarta, ia melepas jabatan dan karirnya sebulan sebelum menikah. Alasannya adalah karena ia ingin mengabdikan semua sisa hidup untuk suami agar kelak suami selalu mencintainya. Subhanallah, sebuah jawaban yang sangat manis dan dewasa bila melihat siapa Ratu sebenarnya. Usianya masih sangat muda, baru menginjak 23 tahun tetapi pemikiran untuk memuliakan suami, mengokohkan cinta dalam rumah tangga sangatlah dalam. Dalam jaman yang semua orang ingin menggapai karir dan jabatan, Ratu rela melepas karir dan jabatan demi mewujudkan sebuah rumah tangga yang akan ia bangun.


“Saya membiasakan setiap akhir pekan untuk menyediakan beberapa kuntum bunga di ruang tamu dan ruang tidur, agar saat ia libur di rumah, wewangian dan pelayanan saya selalu ia rindukan di saat lima hari kerja ”


“Jika kelak suami saya memiliki dua surat nikah, saya tidak akan menyesalinya. Karena saya sudah memberikan sesuatu yang khas dalam kehidupan rumah tangga kami dengan harapan sampai kapan pun ia tidak akan melupakan saya”


“Jika kelak suami saya meninggalkan saya, saya tidak akan bersedih karena sejak awal menikah saya selalu memberikan pelayanan terbaik untuknya dari mulai ia bangun sampai ia tertidur”


Saya berdecak kagum dengan prinsipnya. Seorang Ratu yang sesuai dengan namanya Ratu, ia sangat cantik secara fisik, sangat baik dan mampu memahami nilai-nilai luhur sebuah kesucian rumah tangga, pahala yang Allah berikan pada seorang istri sholehah.


Di sisi lain, seorang istri yang telah menikah puluhan tahun, merasakan kehidupan rumah tangganya sebagai sebuah rutinitas yang dijalani tanpa sebuah variasi. Mulai bangun tidur sampai tidur lagi di jalani dengan ritme yang sama. Setelah selesai dengan ibadah pagi bersama Tuhannya, kembali disibukkan dengan menyiapkan sarapan pagi untuk seluruh anggota keluarga, membangunkan anak-anak yang belum bangun, membangunkan suami yang setelah shalat subuh tidur lagi, merendam pakaian diselingi menyapu dan merapikan rumah. Terlebih di rumah tidak ada asisten rumah tangga dan sang istri mempunyai pekerjaan di luar rumah. Pagi adalah jam tersibuk.


Kehidupan rumah tangga yang telah dilewati oleh seorang istri dengan rutinitas yang tidak ada variasi suatu saat akan mengalami titik jenuh. Tingkat kejenuhan bisa dipacu oleh kesibukan sang suami dalam mencari nafkah karena tuntunan anak yang semakin besar biaya sekolahnya, tuntutan ekonomi keluarga yang semakin meningkat seiring dengan besarnya kebutuhan sehari-hari sehingga kurang perhatian dan kurang terhadap masalah-masalah yang terjadi dalam rutinitas sang istri. Di sisi lain sang istri kurang memiliki kekuatan untuk terlalu banyak menuntut perhatian dari sang suami karena kasihan melihat sang suami yang berangkat pagi pulang sore. Anak-anak yang sudah mulai menikmati dunia remajanya, yang lebih senang bergaul dengan teman-temanya dari pada ibu bapaknya sehingga sang ibu di rumah merasa kesepian dan kehampaan. Bila hal ini terjadi, sang suami harus mengantisipasi hal-hal yang akan dialami istri. Komunikasi yang efektif dan harmonis perlu dibangun dan mengingat komitmen awal menikah sehingga cinta dan sayang antara suami istri tetap terpelihara walau usia pernikahan sudah tergerus waktu. Ingat selalu ketika cinta tumbuh dan bersemi di awal pernikahan, komitmen awal berumah tangga untuk menggapai ridho Illahi dan bersama mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah dan warohmah. Tidak salah juga untuk mengambil pelajaran dari Ratu untuk memberikan sesuatu yang khas dalam kehidupan berumah tangga.

Popie Susanty

/popiesusanty

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Seorang ibu empat anak yang ingin menulis kehidupan
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?