Etnisku Indonesia, Agamaku Kesejahteraan

01 Juni 2012 08:42:56 Dibaca :

Bagaimana mempertahankan identitas etnis di tengah keberagaman masyarakat urban dalam menghadapi pemilukada? Dan bagaimana isu etnis tidak dijadikan konsumsi politik untuk kepentingan elit? Inilah soal yang sedang marak diperbincangkan sehubungan dengan pemilukada kota Kupang Tahun 2012.


Bagi setiap orang, etnisitas adalah kemungkinan yang tidak dapat dielakkan. Seseorang lahir sebagai orang Timor atau orang Rote atau orang Flores adalah kenyataan yang tak bisa dibantah. Masalah geneologis selalu alamiah dan tidak bisa direkayasa. Bagaimana mungkin saya yang lahir dari bapa dan mama dari etnis Timor, dicap orang Flores. Ini pasti tidak rasional. Tetapi ada kasus lain, Si A lahir dari rahim mama yang etnis Flores dengan Bapa yang etnis Timor. Bagaimana kita menyebut etnisitasnya? Orang Flores kah atau orang Timor? Dengan mudah orang akan menyebutnya, Timor-Flores.(Blesteran Timor-Flores).


Akibat semakin canggihnya informasi dan komunikasi, memungkinkan pembauran antar- etnis merupakan sebuah keniscayaan. Orang tidak lagi gamang berelasi dengan yang lain, yang berbeda karena suku, ras, agama termasuk pola-pola yang menyertainya seperti gaya hidup, bahasa, cara bercakap, cara berelasi, warna kulit, dsb. Maka kawin mawin antar etnis merupakan konsekuensi ikutan yang merupakan dampak dari kecanggihan informasi dan komunikasi. Suatu saat- entah kapan – masyarakat manusia akan kesulitan untuk menentukan corak etnisitas secara gamblang karena keaslian etnisitas telah terkikis melalui pembauran kawin-mawin.


Dengan begitu, Romo Mangun Wijaya benar saat bertutur tentang Ke-Indonesianis. Tidak ada lagi yang namanya etnis, Jawa, Ambon, Tapanuli dan tentu saja nama-nama etnis di NTT Karena generasi-generasi terbaru lahir dari pembauran etnis. Maka, daripada bilang, Orang Timor tapi lahir dari rahim mama yang Tapanuli, lebih mudah mengatakan, orang Indonesia.


Toh demikian, isu etnis masih sering dimainkan oleh para elit untuk mencapai tujuan-tujuan politiknya. Politik yang seharusnya merupakan alat untuk mewujudkan kesejahteraan hidup masyarakat suatu polis (kota) tereliminir hanya untuk kepentingan etnisitas di tengah kenyataan pembauran yang sulit dibendung. Untuk kepentingan politik jangka pendek, isu etnisitas dipandang ampuh untuk meraih dukungan politik. Tetapi membiarkan alat ini (etnisitas) dimainkan tanpa control justru akan menciptakan sektarianitas dalam kepemimpinan ditengah kenyataan keberagaman mesyarakat.


Dalam masyarakat multi etnis, kepelbagaiaan ini mesti merupakan kekuatan yang mendorong pertumbuhan melalui kesempatan mengakses sumber-sumber penghidupan dengan adil dan merata. Maka itu, isu yang paling seksi sehubungan dengan pemilukada ialah apa kebutuhan masyarakat di tengah komunitas multi etnis. Apakah sumber-sumber penghidupan bagi masyarakat terpelihara dengan baik dan dijamin pemerataan dalam distribusi. Apakah seorang pemimpin dapat menjamin seluruh hal yang menjadi sumber-sumber identitas masyarakat multi etnis sekaligus menopang kehidupan yang berkeadilan. Isu ini lebih menyentuh aspek keadilan sehubungan dengan kebutuhan masyarakat karena meramu kepentingan-kepentingan kelompok dengan kebutuhan dasar masyarakat dengan membuka akses yang adil terhadap sumber-sumber penghidupan. Entah dari etnis manapun, setiap individu maupun kelompok membutuhkan hak untuk hidup dan bertumbuh.


Keberagaman etnisitas dalam suatu masyarakat urban dapat saja menciptakan polarisasi kepentingan termasuk dalam hal menentukan pemimpin dalam komunitas yang beragam ini. Tetapi politik etnisitas cenderung mengaburkan sendi-sendi demokrasi karena menguras perhatian kita hanya sebatas kelompok mayoritas Vs minoritas. Isu ini memang enak dimainkan untuk meraih dukungan oleh karena tata kelola pemerintahan cenderung diskriminatif. Seperti, diskriminasi akses informasi, minimnya perlindungan masyarakat di bidang hukum dan keamanan, kesempatan kerja yang mengutamakan aspek relasional, termasuk juga dalam pelayanan public, pemeliharaan identitas masyarakat local yang terabaikan dan masih banyak hal lain menyangkut kebutuhan masyarakat yang nyata-nyatanya mencederai asas keadilan. Sebagai kompensasi, orang melirik ke identitas asali dan berharap diskriminasi ini bisa dihapus dan hak-hak mereka dipulihkan. Sampai di sini, masyarakat terlanjur tidak percaya terhadap keberagaman yang berkeadilan.


Suatu Catatan Kecil Pdt. Emil Hauteas


KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?