Mas Uung
Mas Uung Pekerja Seni

Orang biasa yang setia pada proses. Tinggal di www.istimewacreative.com

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Beginilah Tahapan-tahapan dalam Membuat Film

16 Juni 2017   19:55 Diperbarui: 16 Juni 2017   20:58 28 7 7
Beginilah Tahapan-tahapan dalam Membuat Film
Proses shooting | Foto:Dokpri

Tulisan ini saya buat sebetulnya semata-mata untuk mencatat semua yang saya alami, khususnya dalam bidang film. Sama sekali bukan untuk menggurui. Karena bagi saya perjalanan hidup akan menjadi kenangan yang indah jika dicatat dengan baik, agar menjadi catatan sejarah yang bisa diambil manfaat dan hikmahnya untuk orang lain.

Yang lebih penting lagi adalah agar bisa meninspirasi orang lain untuk membuat karya film. Jika ini tercapai, saya yakin akan mempunyai multiple effect dalam pengembangan industri kreatif di Indonesia.

Baiklah, mari kita obrolkan tentang "Produksi Film" dengan santai.

Film adalah karya kolektif, karena karya ini merupakan gabungan dari perangkat-perangkat yang saling mendukung antara satu dengan perangkat lainnya. Ada penulis naskah, Sutradara, Asisten Sutradara, Art Director, Director of Photography (DOP), Lightingman, Gaffer, Kameramen, Clepper, Continuity, Waredrobe, Make Up, Sound Designer, Sound Director, Location Manager, Pimpinan Produksi, Unit Manager, Pelaksana Umum (PU), Editor, dll.

Sebagaimana sebuah sistem yang terpadu, semua bagian-bagian itu harus bisa bekerja bareng untuk tujuan yang sama, yakni terciptanya sebuah film. Tanpa ada kerjasama yang baik, sebuah produksi film akan pincang.

Meskipun sepertinya kompleks, sebenarnya film bisa diciptakan dengan perangkat yang sederhana. Karena pada prinsipnya (menurut saya) jika visualisasi yang kita rangkai telah menampakkan sebuah alur cerita, substansi film telah kita dapatkan. Bahkan dengan perangkat HP pun sebuah film bisa diciptakan.

Secara umum, sebuah film digarap melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :

A. Pre-Production (Pra-Produksi)

Pra-Produksi mengacu pada hal-hal yang dilakukan oleh Tim Produksi sebelum eksekusi pengambilan gambar dalam membuat sebuah film (sebelum produksi film).

Seperti halnya memasak sebuah makanan, memulai produksi film perlu resep dan tahapan mengumpulkan bahan-bahannya serta meracik bumbu-bumbunya.

Berdasarkan apa-apa yang saya alami, ada beberapa step dalam tahap Pra-Produksi yang harus ditempuh; yaitu:

1. Membuat Konsep Dasar Naskah Film

Konsep naskah di sini yang memuat, visi, misi, tujuan film dibuat, jenis/genre film, durasi, segmentasi penontonnya dan perangkat-perangkat dasar yang melatarbelakangi sebuah film dibuat/diproduksi. Atau mungkin dalam istilah perangkat keras (Hard Ware) sebuah Komputer, konsep film saya ibaratkan sebagai spesifikasi HardWare. 

Dengan spesifikasi yang jelas, kemampuan sebuah komputer akan terpetakan. Demikian juga sebuah film, spesifikasinya jelas akan terarah mau ke mana imajinasi penonton dibawa, pesan apa yang mau disampaikan (What to say?) dan bagaimana (How to say?) teknik menyampaikan pesan dalam film yang akan kita buat.

Jika dalam konteks masakan atau makanan, Konsep Dasar Film bisa diibaratkan sebuah planning makanan apa yang akan kita buat?, dengan bahan apa? Disertai bumbu-bumbu apa saja? Berapa takaran bahan dan bumbu-bumbu tersebut? Bagaimana teknis memasaknya? Dan lain sebagainya.

Konsep dasar ini harus jelas. Jangan sampai kita mau masak Sop, jadinya malah Soto. Atau mau bikin sayur bening malah jadinya lodeh! Tentu akan mengacaukan rasa. Film pun punya sifat yang sama. Maka konsep dasarnya harus jelas.

Konsep Film Fiksi tentu berbeda dengan film non fiksi. Semua itu tertuang dalam konsep dasar naskah film.

Biasanya step ini oleh film maker jarang dibuat, dan hanya tersimpan dalam otaknya. Tapi menurut hemat saya ini penting, karena konsep dasar inilah yang akan menjadi referensi ketika proses pembuatan film berjalan. Jangan sampai di tengah proses pembuatan film melenceng dari tujuan utamanya. Meski itu sah-sah saja, tapi bisa bikin 'ribet' sebuah produksi film.

2. Membuat Sinopsis Film

Sinopsis film adalah gambaran umum sebuah film secara naratif. Jika dalam film fiksi, sinopsis film akan bercerita tentang jalan cerita film secara umum. Ini yang akan mendasari sebuah naskah film dibuat, karena di dalam sinopsis tidak menggambarkan jalan cerita secara detail.

Dalam sinopsis film fiksi biasanya dijelaskan jalan cerita secara naratif global. Perlu juga kiranya mengungkapkan stressing atau konflik-konflik yang akan muncul. Kemudian ada ending yang muncul di belakang.

Jika untuk sebuah promosi, dalam sebuah sinopsis biasanya ending film disembunyikan dengan sebuah pertanyaan. Ini kadang diperlukan untuk menstimulasi calon penonton agar penasaran dan tergerak untuk menontonnya.

Misalnya: "Di sebuah kampung di atas bukit, hiduplah seorang pendekar tua yang hidup sebatangkara. Kehidupan sehari-harinya mencari kayu bakar dan daun-daunan untuk dijadikan ramuan obat-obatan. Suatu hari dia didatangi oleh sekelompok anak muda yang berkeinginan berguru padanya. Setelah beberapa hari berguru, dan dirasa cukup ilmu kependekarannya sekelompok pemuda itu pamit pergi untuk menumpas kejahatan. Tapi kakek tua itu belum mengijinkannya. Bagaimana aksi sekelompok pemuda itu menumpas kejahatan? Mengapa kakek tua itu belum mengijinkan pemuda-pemuda itu untuk pergi dan menumpas kejahatan? Berhasilkah para pemuda-pemuda itu melakukan keinginannya? Saksikan kecerdikan para pemuda itu dalam film ini!"

Ini sekedar contoh sinopsis yang bersifat "provokatif," yang bertujuan untuk membuat calon penonton penasaran. Dalam sinopsis film ini ada misi promosi untuk memberikan stimulus pada penonton untuk menyaksikan film tersebut. Ada juga pola sinopsis yang datar-datar saja, tanpa kata-kata "provokatif". Tinggal kita pilih yang mana, monggo ...

Dalam film Non-Fiksi sinopsis menurut saya tetap dibutuhkan untuk mengetahui segmen-segmen dan alur narasi dalam mendeskripsikan sebuah pesan atau pengetahuan. Film Non-Fiksi bisa dibuat tanpa adanya bagian dramatik. Ada pula yang diselingi unsur-unsur dramatis sebagai penyambung antar segmen atau sebagai 'pemanis' sebuah pengantar pengetahuan/pesan.

3. Membuat Naskah Cerita

Sebelum membuat naskah skenario, sinopsis (lebih baik) dibuat/ditransfer ke dalam naskah
cerita dulu. Karena ini diperlukan untuk mengetahui alur cerita secara agak detail dan adegan-adegan secara naratif. Mungkin bisa dibuat sebuah cerita pendek dulu, biar alur cerita bisa dipetakan. Baru kemudian dibuatlah naskah skenario. Naskah cerita ini perlu untuk mengetahui garis besar narasi sebuah film, meski sedikit lebih detail.

Dalam pembuatan naskah cerita seorang penulis naskah perlu sedikit mengernyitkan dahinya untuk berimajinasi dalam detail narasinya. Di samping itu perlu kecermatan dalam alur cerita. Tokoh siapa saja yang menjadi protagonis, siapa saja yang menjadi tokoh antagonis, mana saja yang menjadi netral, dan konflik-konflik apa saja yang muncul, termasuk endingnya seperti apa. Semua harus terpetakan dalam naskah cerita ini.

Nah, naskah cerita ini akan lebih mudah dipetakan atau disusun jika film yang akan kita buat bersumber dari sebuah cerpen (cerita pendek) atau novel. Tinggal mencermati cerita dan menerjemahkan dalam bahasa visual film.

Di samping itu pula, penulis naskah perlu mencermati dan mengidentifikasi properti apa saja yang akan muncul dalam cerita tersebut. Ini bukan hanya kebutuhan sebuah cerita an-sich, tapi juga dibutuhkan penyesuaian terhadap budget produksi film.

Jadi kesimpulan sementara, pembuatan alur cerita (khususnya dalam film fiksi) perlu tahapan-tahapan tertentu agar kita tidak kebingungan dalam penggarapan sebuah film.

Dalam film dokumenter pun perlu ada naskah yang secara naratif mendeskripsikan informasi-informasi yang akan kita sampaikan dalam film dokumenter itu. Inilah yang akan menggambarkan segmen-segmen mana yang dramatik maupun deskriptif, sebelum masuk dalam breakdown storyboard.

4. Membuat Naskah Skenario

Naskah skenario merupakan implementasi dan pengembangan dari sinopsis dan naskah cerita yang telah dibuat oleh penulis naskah film.
Seorang penulis naskah skenario harus mempunyai daya imaginasi yang baik. Karena pengembangan sinopsis dalam bentuk skenario menuntut hal-hal yang detail dari bagian sinopsis.

Di samping itu, penulis naskah skenario juga harus faham dengan istilah-istilah kepenulisan skenario. Saya kira bisa dipelajari dari buku-buku teknis tentang aplikasi pembuatan naskah skenario.

Penulis naskah skenario harus faham dengan simbol-simbol visual maupun karakter suara atau ilustrasi sebuah film. Karena film adalah simbol-simbol yang muncul dalam karya visual yang bertujuan untuk mentransfer sebuah pesan kepada penonton atau penikmat film.

Seorang penulis naskah skenario juga dituntut mempunyai imajinasi yang kuat. Setiap scene dia bisa membayangkan suasana dan pesan yang akan disampaikan kepada penonton. Kesadaran akan ruang visual maupun simbol-simbol visual harus teraplikasikan secara benar.

5. Bedah Naskah (Scrypt Conference)

Bedah naskah adalah mengkaji dan mengidentifikasi secara teknis terhadap bagian-bagian naskah atau scene dari beberapa unsur untuk mengetahui kebutuhan-kebutuhan teknis di lapangan (pada waktu produksi/shooting day).

Mengapa bedah naskah ini penting? Karena ini menjadi ruang deskripsi dan sekaligus diskusi antara sutradara, penulis naskah, dan bagian-bagian lain dalam tim produksi film. Sehingga divisi-divisi lain bisa mengetahui kemauan sutradara.

Unsur-unsur yang dibedah ada beberapa hal, di antaranya adalah:

a. Setting waktu/era & Properti

Sebuah film tentu bermaksud menyampaikan sebuah pesan, dan pesan ini menuntut beberapa hal terkait era/waktu di mana visualisasi film akan menyampaikannya. Ini termasuk setting dasar sebuah film, dan ini akan mempengaruhi setting dan properti apa saja yang akan digunakan dalan film yang akan kita bikin. Sehingga dalam hal ini Art Director & Property berperan aktif dalam menterjemahkan kemauan sutradara.

Terlebih film fiksi. Film sejarah tentang Hitler misalnya, setting dan propertinya pasti harus disesuaikan dengan jamannya. Dan pemainnya tidak mungkin menggunakan/memakai arloji Rolex buatan tahun 2017! Dan terasa lucu ketika film era kekinian dengan kostum pemain tahun 70-an. Maka scrypt Conference menjadi ruang kesepakatan antara sutradara tentang properti yang digunakan.

Unsur ini juga meliputi benda apa saja yang dibutuhkan dalam setiap scene, baik kebutuhan dalam layar maupun di belakang layar.
Dalam scene dinner keluarga, otomatis scene ini membutuhkan sebuah ruang makan keluarga, set meja makan, seperangkat alat makan, makanan siap saji, dan berbagai asesoris yang lazim dalam sebuah ruang makan, dan lain sebagainya.
Dalam scene belanja di pasar, tentu membutuhkan ruang/setting sebuah pasar, alat-alat perdagangan, timbangan, rak, dll yang mendukung suasana sebuah pasar.

Dalam unsur ini perlu juga kecermatan bagian continuity, agar setiap adegan atau pun scene menjadi alur cerita yang benar.

b. Visualisasi gambar

Unsur ini lebih kepada visualisasi gambar yang akan di tampilkan dalam setiap scene. Peran Director Of Photography (DOP) dibutuhkan secerdas mungkin menterjemahkan dan mentransformasikan kemauan sutradara ke dalam bentuk visual.

Unsur ini bisa meliputi jenis alat yang akan digunakan, baik Kamera, Lensa dan lighting (lampu) yang dibutuhkan. Termasuk jumlah shot yang diambil dalam sebuah scene, engle (sudut) pengambilan gambar dan unsur-u sur lain yang terkait dengan visual. Dalam hal ini seorang DOP harus pintar dalam memaknai simbol apa visual apa yang akan dipakai dalam visualisasi gambar.

Dalam bedah naskah ini kiranya perlu juga andil seorang editor dalam rencana editing yang akan dikerjakan sebagai sebuah finalisasi visual. Perlu tidaknya animasi, atau trik-trik khusus dalam pengambilan gambar perlu dibahas antara DOP, editor, sound designer dan Sutradara. Sehingga akan menghasilkan visualisasi gambar yang fixed dan sesuai yang diinginkan sutradara.

c. Sound effect dan ilustrasi

Peran audio dalam sebuah film sangat krusial. Coba bayangkan sebuah film horor tanpa ada effect audio yang menyeramkan. Pasti tak akan terasa sebuah film horor, bahkan penonton akan merasa datar-datar saja, dan feel-nya tak masuk dalam ruang dan suasana horor.

Maka dalam bedah naskah, perlu deskripsi dan diskusi antara sutradara dengan Sound Designer, agar feel penonton akan terbawa pada suasana yang diharapkan oleh sutradara.

6. Recce & Survey Lokasi

Recce dalam beberapa istilah yang saya baca adalah mencari lokasi yang cocok untuk produksi film (shooting) terkait dengan hal-hal teknis lainnya. Misalnya dengan kebutuhan lampu, dan alat serta properti lainnya.

Setelah naskah dibedah dalam scrypt conference, maka akan muncul gambaran lokasi yang diinginkan dan disepakati oleh sutradara dan tim yang lain. Maka Location Manajer bertugas untuk survey lokasi yang sesuai dengan naskah tersebut. Dalam kegiatan ini sebaiknya seorang manajer lokasi didampingi oleh sutradara, pimpinan produksi dan unit manajer, agar survey lokasi menjadi lebih efektif dan hemat waktu.

Beberapa hal yang perlu dicatat dan disurvey adalah:

a. Lokasi/daerah secara umum. Kampung, perkotaan, atau daerah tertentu yang sesuai dengan naskah. Diharapkan beberapa titik lokasi terkumpul dalam satu wilayah (berdekatan), agar produksi film menjadi efektif.

b. Lokasi/ruang wardrobe dan makeup talent (aktor).

c. Lokasi/titik monitor sutradara dan pos properti.

d. Tempat/ruang transit talent (aktor).

e. Tempat Parkir baik untuk kru (tim produksi) maupun talent.

f. Tempat Genset

g. Tempat/ruang PU (Pelaksana Umum).

h. Toilet (MCK)

Semua titik lokasi tentu perlu dipertimbangkan perijinannya. Baik prosedurnya maupun pembiayaannya.


7. Mem-breakdown Naskah Skenario

Mem-breakdown naskah skenario adalah mengklasifikasikan beberapa scene ke dalam kelompok tertentu berdasarkan beberapa hal. Di antaranya; kelompok scene berdasarkan talent (pemainnya), kelompok scene berdasarkan waktu, kelompok scene berdasarkan tempat/lokasi shooting, dll.

Breakdown naskah ini bertujuan untuk meng-efektifkan kegiatan shooting (pada waktu produksi). Karena tanpa adanya breakdown naskah yang baik, produksi film bisa tidak efektif dan mengalami pembengkakan biaya.

Inilah step-step simpel yang perlu dilalui untuk memproduksi sebuah film dalam Tahap Pra-Produksi. Selanjutnya akan saya lanjutkan pada tahap Produksi. (Bagian #2).

Merujuk bahwa manajemen adalah seni mengelola, maka step-step ini bukan hal yang kaku, bahkan disederhanakan ataupun dibikin lebih kompleks pun sangat mungkin. Semua bergantung pada situasi dan kondisi yang ada.

Semoga bermanfaat. Sampai ketemu di Bagian #2 dari tulisan ini. ***