PILIHAN

Bau Nyale: Tradisi Turun Temurun Suku Sasak

16 Februari 2017 19:20:45 Diperbarui: 17 Februari 2017 11:52:48 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Bau Nyale:  Tradisi Turun Temurun Suku Sasak
2-58a67cf883afbd1c3a534129.jpg

                                                                                                       Sumber Foto  : Google 

Bau nyale adalah istilah yang kerap kali digunakan oleh masyarakat suku sasak kepulauan Lombok. Dimana "Bau" dalam bahasa Indonesia artinya menangkap sedangkan "Nyale" adalah cacing laut yang tergolong jenis filum annelida.

Tradisi Bau Nyale salah satu  tardisi turun temurun yang dilakukan sejak ratusan tahun silam. Awal mula tradisi ini tidak ada yang mengetahui secara pasti. Namun berdasarkan isi babad sasak yang dipercaya oleh masyarakat, tradisi ini berlangsung sejak sebelum 16 abad silam.  

Berbicara persoalan Bau Nyale sudah pasti akan berhubungan dengan cerita yang melegenda diingatan masyarakat tentang Putri Mandalika. Putri yang cantik nan jelita diperebutkan oleh banyak pangeran dari berbagai kerajaan. Putri yang terlahir dari rahim seorang permaisuri bernama Dewi seranting serta raja Tonjang Beru. Raja dan permaisuri ini amat terkenal dengan kerendahan hati serta kewibawaannya.

Begitupun dengan putri  yang dilahirkannya. Rupanya warisan budi pekerti dari kedua orang tuanya itu  menjadi warisan yang terpatriot dalam jiwa sang putri. Saat dewasa ia  amat disegani banyak orang akibat kelembutan hati dan tutur sapa terhadap masyarakat setempat.

Dari sinilah sejarah Nyale bermula.

 Disamping paras yang cantik dan kelembutan hati yang dimiliki putri sang raja, banyak diantara pangeran-pangeran yang berasal dari kerajaan suku sasak yang lainnya mulai mengincar Putri Mandalika untuk dijadikan permaisuri.

Ada dua kerajaan yang amat getol dalam memperebutkan sang putri yaitu kerajaan johor dan kerajaan lipur. Mereka adalah pangeran Datu Taruna dan Pangeran Maliawang, kedua pangeran ini bertekat untuk mendapatkan Putri Mandalika. Namun takdir berkata lain.

Putri Mandalika yang tidak berpihak pada kedua pangeran tersebut memilih jalan lain untuk hidupnya. Dikarenakan apabila ia memilih salah satu diantara kedua pangeran tersebut sudah pasti akan terjadi bencana besar yang mengakibatkan kerugian banyak orang khususnya masyarkata setempat.

Akhirnya jalan satu-satunya yang dipilih oleh sang putri adalah menceburkan dirinya ke laut. Dengan alasan agar bisa bermanfaat bagi orang banyak. Dilansir dari Website LOMBOK CYBR4RTdalam cerita rakyat, Putri Mandalika sebelum akhirnya menjelma menjadi cacing laut ia menyampaikan pesan yang amat singkat namun syarat makna.

 “Wahai ayahanda dan ibunda serta semua pangeran dan rakyat negeri Tonjang Beru yang aku cintai. Hari ini aku telah menetapkan bahwa diriku untuk kamu semua. Aku tidak dapat memilih satu diantara pangeran. Karena ini takdir yang menghendaki agar aku menjadi Nyale yang dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal saat munculnya Nyale di permukaan laut."

Setelah kejadian itu, tidak ada yang tahu pasti keberadaan Putri Mandalika, namun yang ada adalah ribuan cacing laut yang berwarna-warni menampakkan dirinya. Masyarakat meyakini bahwa binatang kecil berupa cacing laut ini adalah jelmaan dari sang Putri Mandalika.

Bau Nyale bagian dari Promosi Wisata

Putri mandalika yang dilahirkan pada tanggal 20 bulan 10 ( penaggalan Sasak ) atau awal bulan februari dalam kalender nasional menjadi momentum yang banyak dinanti oleh masyarakat pada umumnya tidak terkecuali wisatawan mancanegara.

Tradisi ini biasanya jatuh pada bulan februari dan maret. Ia dan memang betul hari ini 16 februari adalah hari pertama dirayakannya festival Bau Nyale hingga esok 17 februari. Pesta rakyat sekaligus penangkapan cacing-caing laut itu banyak menarik perhatian masyarkat lokal maupun mancanegara.

Selain memanfaatkan pariwisata yang tidak kalah cantik pesona alamnya dengan pulau dewata itu, pemerintah setempat juga memanfaatkan moment ini sebagai ajang promosi dikancah internasional. 

Mungkin bagi warga kelahiran suku sasak yang terpenting adalah tradisi ini terus dielestarikan selain untuk memperekat solidaritas juga melestarikan kebudayaan yang sudah mengakar dari para leluhur.

Ada kebanggaan tersendiri yang hadir saat perayaan Bau Nyale ini diselenggarakan. Mengingatkan kita akan sosok Putri Mandalika yang meimilih jalan hidupnya supaya bermanfaat bagi masyarakat banyak yang hingga saat ini bisa manfaatkan ataupun dikonsumsi. 

ynale-58a67daa66afbdf539a82958.jpg
ynale-58a67daa66afbdf539a82958.jpg

                                                                                                         Sumber Foto : Google

Bentuknya yang unik dan cita rasa yang khas memiliki manfaat masing-masing sesuai dengan keyakinan masyarakat. Banyak yang mengaggap cacing laut jelmaan Putri Mandalika ini bisa dimanfaatkan sebagia obat-obatan. Tidak hanya diolah menjadi makanan pelengkap nasi saja akan tetapi banyak diantara masyarakat juga secara langsung memakan hidup-hidup Nyale tersebut.

Sebelum perayaan dimulai biasanya banyak persiapan yang dilakukan berupa ritual-ritual pembacaan do’a. Setiap rangakaian acara festival Bau Nyale, biasanya akan diikuti dengan pagelaran seni dan budaya suku sasak. Mulai dari karnaval sekaligus pemilihan kandidat Putri Mandalika, Perisaian dan Gendang Blek.  

Adapun lokasi penangkapan Nyale ini berada di lokasi tertentu, tidak sembarang pesisir pantai. Biasanya banyak dijumpai di pesisir pantai Lombok Selatan. Seperti pantai Jerowaru, Pantai Sungkin dan pantai Kaliantan.


be06deb0-fc31-47a8-9052-3b28ef3d1710-169-58a67df535977362244d780b.jpg
be06deb0-fc31-47a8-9052-3b28ef3d1710-169-58a67df535977362244d780b.jpg
                                                                                                      Sumber Foto : Google 


Romantisme Bau Nyale

Setiap penyelenggaraan festival Bau Nyale, kondisi cuaca pasti akan mempengaruhi. Entah hujan yang diselimuti dingin ataupun hujan yang ditemani angin. Ia cuaca semacam ini akan kita rasakan setiap menjelang acara Bau Nyale. Hingga kemarin tiga hari sebelum menjelang hari diselenggarakannya festival  Bau Nyale, kondisi cuaca yang tidak bersahabat menerpa pulau seribu masjid itu.

Namun kondisi cuaca yang seperti itu tidak menyurutkan niat dan tekad masyrakat suku sasak dalam menyelenggarakan acara tahunan tersebut.

Merindukan  Tradisi Bau Nyale  dengan  masyarakat lokal yang ikut serta merayakan. Terkendala oleh jarak dan waktu semoga tahun yang akan datang bisa langsung ikut andil dalam Tradisi Bau Nyale untuk meneruskan warisan leluhur.

“nyambut musim Bau Nyale, disini kerap kali hujan” celetuk perempuan paruh baya yang tersambuang via telpon denganku.



Nahrul Hayat

/nahrul

Menikmati senja di sore hari sembari belajar seni untuk berdiri di atas kaki sendiri walaupun dipeluk tangan orang lain.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article