MoU SoUL
MoU SoUL wiraswasta

".....tetiba saya rindu semua yang ada di Kompasiana....."

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Antara Je dan Jeh

2 Mei 2014   17:51 Diperbarui: 23 Juni 2015   22:56 1312 18 13

Membaca tulisan Mas Ikrom Zain tentang “Je” yang menarik, membuat saya benar – benar tergelitik sampai melakukan 2 aksi berbahaya yaitu PERTAMA : mengcopy paste tulisan Mas Ikrom Zain berikut link nya dan mengirimnya kepada 10 orang terdekat saya, di antaranya suami, bapak mertua, kakak ipar, adik ipar dan teman – teman saya yang orang Jogja yang kesemuanya memberikan respon terbelalak dan menggumamkan, "walah iyo yo," mereka dan yang KEDUA, menulis tulisan sepele ini untuk ikut menceritakan tentang “je” termasuk menuliskan bagaimana “Je” dan  “Jeh” bisa berjodoh.



Sebelum sampai kepada bagaimana sejoli “Je” dan “Jeh” berjodoh, saya akan cerita dulu tentang “Je” yang menduduki peran yang sangat penting dalam percakapan sehari – hari orang Jogja dan sekitarnya yang berbahasa Jawa Jogja.

Seperti dalam dialog ini :
”Kowe kuwi sarjana pendidikan, guru SMP, duwe sertifikasi, ning kok omahmu isih gedhek tho, Ngger ?” bertanya sang ayah kepada anak lelakinya dengan penuh prihatin.
Yang artinya, “Kamu ini sarjana, guru SMP, punya sertifikasi, tapi kok rumahmu masih gedhek sih, Nak ?”

“Lho Pak, aku kan sertifikasine lagi nembe wae minggu wingi je. Njuk aku kudu mbayar cicilan sepeda montorku, mbayar cicilan bank sing dinggo tuku lemah kae, terus mbayar silihan koprasi sing tak nggo ngragati sarjanaku wingi kae. Dadi omahku isih ngene je Pak,” jawab sang anak.
Yang artinya, “Lho Pak, aku kan sertifikasi ( profesi gurunya ) baru minggu kemarin “je”. Kemudian aku harus membayar cicilan sepeda motorku, bayar cicilan bank untuk membeli tanah itu, terus bayar pinjaman ke koperasi untuk biaya ( menempuh ) pendidikan sarjanaku kemarin itu. Jadi rumahku masih begini “je” Pak,”

Nah, untuk menjelaskan apa arti dari “je” ini, PERTAMA, mari lihat makna leksikalnya. Di mana leksikal artinya satuan bentuk bahasa yang bermaknasebagai bentuk adjektif dari leksikon ( sama dengan perbendaharaan kata atau kosakata ) yang satuannya disebut leksem ( kata ). Dengan demikian, makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem, atau bersifat kata yang bisa juga disebut makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita sebagaimana yang disebutkan oleh Chaer.
Contoh sederhana, saya ambil kata tomat dalam kalimat “Salah satu buah yang kaya vitamin C adalah tomat”. Di mana makna leksikal dari tomat adalah sejenis buah yang termasuk keluarga terong – terongan ( Solanaceae ) yang kalau muda berwarna hijau, setelah tua menjadi kuning kemerahan yang memiliki rasa asam manis segar, kaya air dan di dalam buahnya banyak terkandung biji berbentuk cakram ukuran mini yang berselimut lendir.


Nah, dari “je” apanya yang bisa kita tafsirkan sebagai makna leksikal ? Atau kalimat pertanyaannya dibalik. “Apa makna leksikal yang terkandung dalam “je” ? Bingung kan ? Hehehe ! Sama !

Yang KEDUA,suatu kata dapat ditafsirkan berdasarkan makna referensial dan non referensial yang dimilikinya. Di mana suatu kata dapat disebut memiliki makna referensial jika dia memiliki referen dari kata – kata tersebut, yakni sesuatu di luar penjelasan yang diacu oleh kata tersebut, maka kata itu dapat disebut sebagai suatu kata yang memiliki makna referensial. Demikian pula sebaliknya, jika suatu kata tidak memiliki referen, maka ia disebut kata nonreferensial.


Sebagai contoh, kata lemari. Kata lemari memiliki referen berupa peralatan rumah tangga untuk menyimpan sesuatu seperti pakaian, buku, perlengkapan makan, dll. Jadi kata lemari disebut kata yang memiliki makna referensial. Sekarang, mari kita fikirkan kata karena. Kemanakah referen kata karena mengacu dan menuju ? Tidak ada ! Jadi, kata karena tidak memiliki makna referen. Oleh karenanya, kata karena disebut sebagai kata yang bermakna nonreferensial.
Nah, “je” kesayangan kita tadi, menempati posisi mana ? Kata bermakna referensial kah atau nonreferensial ? Mungkin lebih tepatnya kata bermakna nonreferensial. Tapi, kembali lagi kepada struktur “je” itu sendiri. Apakah dia sebagai suatu kata ? Hehehe !

Yang KETIGA adalah makna denotatif dan konotatif. Suatu kata dapat disebut memiliki makna denotatif apabila suatu kata yang dapat diberi penjelasan yang sesuai dengan hasil observasi menurut aktifitas panca indera kita yakni penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan dan juga pengalaman yang meliputi rasa lainnya yang menghadirkan informasi faktual yang objektif.Maka, Chaer menyebutkan bahwa makna denotasi sering disebut sebagai “makna yang sebenarnya”. Contohnya kata wanita, pria, perempuan, laki – laki. Makna denotatif pada dasarnya sama dengan makna referensial. Kebalikan dari makna denotatif tadi adalah makna konotatif. Sebuah kata disebut memiliki makna konotatif jika kata itu memiliki “nilai rasa” baik positif maupun negatif. Sifat dari suatu makna konotatif adalah tidak tetap, yakni bisa berubah dari waktu – waktu. Contohnya, kata khotbah. Kata khotbah memiliki konotasi negatif yang diartikan cerewet dan bisa berubah menjadi berkonotasi positif yang artinya nasihat/ceramah agama.

Nah, apa makna denotasi dan konotasinya “je” ? Sedangkan diobservasi melalui pancaindra pun, “je” itu tidak terobservasi sama sekali. Demikian juga ketika ditanya, memiliki konotasi apakah “je” itu ? Negatifkah atau positif ? Saya tidak bisa menjawab, karena tidak menemukan jawabannya. Karena “je” tidak teraba, tercium, terlihat, terdengar dan terasa “keberadaannya” yang menunjukkan hasil yang menginformasikan kepada saya, apakah “je” itu. Halah biyuuung ! Mumet kan ? Sama !
Makin mumet ketika memikirkan konotasi dari “je”. Mau digolongkan ke negatif atau positif, tetap tidak bisa. Karena “je” semisteri keberadaannya itu sendiri. Hihihi.


Yang KEEMPAT, jika ditafsirkan berdasarkan makna konseptual dan makna asosiatifnya, “je” tetap tidak tertafsirkan sebagai apakah dia itu. Karena, makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun. Misalnya kata ikan yang secara konseptual adalah sejenis binatang yang hidup di air, memiliki ekor, sirip, bernafas dengan insang atau paru, ada yang bersisik dan ada yang tidak dan seterusnya. Kemudian kata putih sering diasosiasikan dengan kesucian, kebeningan dan kemurnian, walau secara konseptual putih memiliki makna sendiri. Demikian juga dengan kata kanan dan kiri. Secara konseptual berarti arah/posisi dan kanan sering diasosiasikan dengan bagus, benar, lurus, bersih dan elok, sementara kiri diasosiasikan sebaliknya.
Lantas “je” masuk kemana ? Konsepnya sebagai apa dan berasosiasi kemana ? Bisa jawab atau malah puyeng ? Hehehe.

KELIMA, “je” pun tidak bisa ditafsirkan seperti apa makna idiomatikal dan makna peribahasanya. Kok bisa begitu ? Ya, karena, sebagaimana kita ketahui bahwa idiom adalah suatu ujaran yang maknanya tidak dapat ”diramalkan” dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal, maka “je” tidak dapat ditafsirkan atau dipakai menjadi bentuk idiom manapun juga sebagaimana kata mengencangkan ikat pinggang dengan berhemat, hotel prodeo dengan penjara, dll.

Bagaimana dengan makna peribahasanya ?
Oh, boleh. Mari kita coba. Karena sependek pengetahuan saya, makna peribahasa masih lebih “longgar” dari pada makna idiomatikal dimana makna peribahasa masih dapat ditelusuri atau dilacak dari makna unsur – unsur yang terkandung di dalam ujaran tersebut dikarenakan adanya ‘asosiasi’ antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa. Sebagaimana yang terdapat dalam kalimat seperti anjing dengan kucing yang bermakna sebagai “dua orang yang tidak pernah akur”. Makna ini memiliki asosiasi, bahwa hewan yang namanya anjing dan kucing jika bertemu selalu berkelahi dan tidak pernah damai.
Nah, kemanakah “je” diposisikan ? Baik itu secara idiomatikal maupun peribahasa ? Rasa – rasanya, saya tidak pernah ketemu kalimat peribahasa yang mengandung “je” di dalamnya yang berperan sebagai komponen utama peribahasa itu. Mohon beritahu saya, bilamana anda menemukannya ya. Agar saya bisa menelaahnya dan bilamana masuk ke dalam fikiran saya, saya akan merevisi pemikiran saya tentang idiomatikal dan peribahasa yang menggunakan “je” sebagai “komponen utama” idiom dan peribahasa tersebut.



KEENAM, ada yang disebut makna kata dan makna istilah. Yang menegaskan bahwa walaupun setiap leksem atau kata memiliki makna, namun dalam penggunaannya makna kata itu baru menjadi jelas kalau sudah berada dalam konteks kalimat atau konteks situasi tertentu. Sebaliknya, suatu istilah mempunyai makna yang jelas, pasti, tidak meragukan, walaupun tanpa konteks kalimat. Oleh karenanya istilah sering disebut sebagai bebas konteks dan yang perlu diingat adalah, istilah hanya digunakan pada bidang keilmuan dan kegiatan tertentu seperti kedokteran, musik, biologi, dan lain – lain.



Untuk lebih jelasnya, pada dua kalimat ini, yakni tangannya tertusuk jarum suntik dan lengannya tertusuk jarum suntik.



Antara tangan dan lengan pada dua kalimat itu memiliki sinonim. Namun dalam bidang kedokteran, keduanya memiliki makna yang berbeda. Tangan bermakna bagian dari pergelangan sampai ke jari tangan atau dalam bahasa Inggris disebut hand, sedangkan lengan adalah bagian dari pergelangan sampai ke pangkal bahu atau biasa disebut arm dalam Bahasa Inggris. Kalimat contohnya adalah May I shake your hand ? Bukan May I shake your arm ketika situasinya dalam perkenalan antara orang yang satu dengan orang yang lain di mana orang yang satu mengajak berjabat tangan kepada yang lain.
Nah, “je” di”makna” kan dan di”istilah” kan ke mana, coba ? Dia tidak memiliki makna kata, juga bukan suatu istilah. Tambah mumet kan ? Sama ! Hihihihi !

Terakhir, yang KETUJUH. Yakni makna kias. Sim salabim, fuhhh.....fuuuhhh...fuuuhhh, tiup telapak tangan dan gosok – gosok agar “je” bisa diketemukan makna kiasannya. Hehehe. Mudah – mudahan juga, dengan kategori yang ketujuh ini, sang “je” bisa teridentifikasi.

Kita mengenal istilah “kias” atau “kiasan” adalah sesuatu yang digunakan sebagai oposisi dari arti yang sebenarnya yang cakupannya adalah semua bentuk bahasa yang meliputi kata, frase, atau kalimat yang tidak merujuk pada arti sebenarnya baik arti leksikal, arti konseptual, atau arti denotatif disebut mempunyai arti kiasan. Contohnya puteri malam adalah arti kiasan dari bulan, raja rimbaadalah untuk menyebut harimau, dst.



Lalu, dikiaskan kepada apakah “je” itu ? Sedangkan posisi dari “je” saja tidak diketahui dengan pasti, bagaimana kita bisa mengetahui syarat – syarat agar “je” bisa dimasukkan sebagai bentuk kiasan ? Nah lho, lagi – lagi tidak diketemukan dimaknakan kepada kiasan yang mana “je” ini. Lagi – lagi mumet kan ? Sama !



Jadi, dinisbatkan kepada apakah “je” itu ? Untuk sementara, saya hanya bisa menjawab “sebagai gong pada gamelan, dimana “je” adalah bunyi “gong” yang memungkasi larik alunan gamelan setelah alat – alat musik lainnya beradu bunyi secara serempak mengikuti irama tertentu”.
Kok bisa ?
Mudah – mudahan bisa.
Namun untuk ini, saya mohon dibantu agar Bapak Ibu yang sedang membaca tulisan sepele saya ini berkenan mendengarkan alunan gamelan baik melalui youtube atau sarana apapun yang membuat irama gamelan terpetakan di indera pendengaran anda. Atau secara sederhana saya onomatope kan sebagai “blangpak pang pak pang pak dung deng.......gooong !”Nah, “je” yang saya maksudkan, memiliki kedudukan yang dengan kata “gooong” yang memungkasi onomatope gamelan yang saya tuliskan tadi. Yakni sebagai penyedap, pemanis, pelengkap, penyempurna suatu ekspresi tutur yang ada dalam Bahasa Jawa Jogja dan sekitarnya !

Kok bisa disebut begitu ?
Mudah – mudahan bisa.
Mari sama – sama kita fikirkan kalimat ini,
“Aku arep menyang nang Solo je, Mas
Budi. Kowe melu ora ?”
Yang artinya, “saya mau berangkat ke Solo je, Mas Budi. Kamu mau ikut tidak ?”

Sekarang, bandingkan dengan kalimat ini,
“Aku arep menyang nang Solo, Mas Budi. Kowe melu opo ora ?”
Saya menghilangkan “je” nya. Artinya tetap sama, tidak berubah. Yakni, “saya mau berangkat ke Solo, Mas Budi. Kamu mau ikut atau tidak ?”
Sama kan ?
Tapi bedanya, kalimat pertama menggunakan “je” sebagai penyedap, pemanis, pelengkap, penyempurna suatu dialog sedangkan kalimat kedua tidak menggunakan “je”, walau tanpa “je” pun, kalimat kedua tetap sempurna dan punya arti yang jelas.
Tambah bingung ? Sama ! Hihihi !



Ok, dari pada makin bingung, mari kita panggil “Jeh”, karena di awal tulisan ini, saya menulis bahwa “Je” punya jodoh bernama “Jeh”.
Yang bener ?
Iya, bener



“Jeh” adalah juga suatu ujaran bahasa yang memiliki kedudukan seperti “je” namundigunakan oleh saudara – saudara kita yang ada di di Cirebon dan sekitarnya.

Seperti dalam beberapa kalimat di bawah ini,
“Sirae kapan arep balik ning Bandunge jeh ?”
Yang artinya “Kamu kapan mau pulang ke Bandungnya jeh ?”

“Kien kih, sing paling gede semangkae kih sing arep tek tuku jeh,”
Yang artinya “Ini nih, yang paling besar semangka ini nih yang akan saya beli jeh,”




Atau kalimat ini,
“Kuene jeh weduse Wa Kardi sing umahe ning pojok mbang lor kah bli di cangcang, dadi mbedal,”
Yang artinya,
“Itu jeh kambingnya Wa Kardi yang rumahnya di pojok utara itu, tidak diikat, jadi kabur,”



Masih kurang ?
Baik. Saya tambahkan kalimat ini,
“Lelungan adoh – adoh tekan ning Bali jeh sira kuh bli nggawa oleh – oleh ya,”
Yang artinya,
“Bepergian jauh – jauh sampai ke Bali jeh kamu itu tidak membawa oleh – oleh ya,”

Nah, sama seperti ketika saya menulis kalimat percakapan dalam Bahasa Jogja tadi, mari hapus “jeh” nya. Hasilnya tetap tidak ada perubahan makna dari kalimat – kalimat berbahasa Cirebon yang saya tulis itu.

Akan tetapi, saya merasa ada sesuatu yang janggal dan tidak maknyus, jika “jeh” nya dihilangkan, sebagaimana perasaan saya ketika berupaya menghapus “je” dari percakapan berbahasa Jawa Jogja di atas tadi.



Demikian pula ketika saya berusaha menelusuri apa makna “jeh” dalam percakapan berbahasa Cirebon - yang sudah termasuk sebagai salah satu bahasa daerah yang sudah diakui dunia melalui UNESCO - sama gagalnya seperti ketika saya menelusuri apa makna “je” yang digunakan dalam percakapan saudara – saudara kita yang ada di Jogja, karena saya tidak mampu mendefenisikan apakah “jeh” itu,selain dari pada sebagai “penyedap, pemanis, pelengkap, penyempurna” suatu percakapan yang posisinya sama dengan onomatope bunyi “gooong” yang memungkasi suatu gamelan, walauposisi “je” dan “jeh” tidak mutlak harus berada diakhir kalimat.



Dengan kata lain, saya hanya bisa mengatakan bahwa “je” dan “jeh” adalah sesuatu yang unik yang ada dalam percakapan kedua bahasa tersebut yakni Bahasa Jawa Jogja dan sekitarnya dan Bahasa Cirebon juga dan sekitarnya.

Lalu, di mana berjodohnya “Je” dan “Jeh” itu ?
Upppss.....iya, hampir saya lupa, soalnya barusan 4 orang “anak – anak” saya yang sudah meraih gelar sarjana pertengahan April lalu, pamit kepada saya untuk masuk ke dalam pesawat Lion Air jurusan Bandung – BIL dengan transit di Bali, yang akan membawa mereka pulang ke kampung halaman mereka di Lombok. Jadi sempat lupa di mana berjodohnya “Je” dan “Jeh” itu. Hihihi.

Baiklah, saya akan tuliskan di sini, tentang perjodohan “Je” dan “Jeh” itu.
Ya, anggaplah “Je” adalah seorang pemuda  Jawa asli dari Jogja dan “Jeh” adalah seorang gadis muda berdarah Tionghoa - Jawa. Mereka ditakdirkan bertemu pertama kali di sebuah kota yang bergelar Kota Kembang. Pemuda Jogja yang putih bersih dan kurus itu menatap lama kepada gadis muda keturunan Tionghoa dalam balutan jilbab dan pakaian putih – putih tapi bukan seperti pocong, di sebuah rumah sakit.

“Je” termangu melihat “Jeh” yang segesit swallow bird memburu serangga di hari senja,ketika mendorong seorang lelaki tua menuju ruang resusitasi di Unit Gawat Darurat salah satu rumah sakit tempat “Jeh” bekerja. Tangan dan kaki “Jeh” bergerak lincah seiring dengan mulutnya yang meminta tolong dengan cermat kepada rekan – rekannya tentang kondisi lelaki tua yang didorongnya masuk ruang resusitasi.

Singkat cerita, lelaki tua tertolong. Nafas yang terhenti akibat penyakit paru obstruksi kronis yang dideritanya, kembali pulih. Nyawa yang sempat ditarik ulur oleh Sang Pemilik Nyawa, dikembalikan penuh ke raga lelaki tua itu. Kini, di usia rentanya, dia menjalani hidup sehat atas kecerewetan “Jeh” yang memotivasinya agar berhenti merokok dan menjalani hidup sehat. Sebaliknya pemuda “Je” menilai selamat dan tertolongnya lelaki tua yang dibawanya ke unit gawat darurat dan diterima oleh “Jeh”, adalah suatu keajaiban. Bagaimanapun juga, lelaki tua itu adalah komandan, mentor, guru, pembina, bapak angkat, sekaligus partnernya bermain golf yang tiba – tiba terkapar tak berdaya ketika dia baru saja menyelesaikan hole in one nya di salah satu lapangan golf dan buru – buru dibawa ke rumah sakit di mana “Jeh” bekerja.

Mungkin ada chemistry dalam diri “Je” ketika melihat “Jeh” sehingga dia nekat bertanya di mana orang tua “Jeh” berada dan nekat meneteng satu bis merek Santoso berisi orang tua dan karib kerabatnya untuk melamar “Jeh” ke rumahnya yang nuuun jauh di sana.

Sampai kemudian “Je” berhasil menikahi “Jeh” dan menghadiahi “Jeh” seorang anak gadis yang kini sudah remaja berumur 16 tahun, “Je” tetap membuktikan bahwa dia lelaki sejati yang dipilihkan Tuhan untuk mendampingi “Jeh” dengan segala kelebihan dan kekurangannya serta dalam kondisi apapun.

Ya, kemarin, 1 Mei, adalah hari di mana “Je” resmi mengikat suatu perjanjian yang berreferen kepada pertanggungjawaban di Hadapan Tuhan atas diri “Jeh” sebagai suami istri. Dan “Jeh” pun seakan baru kemarin bertemu dan mengenal “Je” karena kemisterian dan kekemistrian yang ada pada diri mereka berdua.

“Yongan isune jeh seneng,”
demikian jawab “Jeh” ketika ditanya alasan dia mau dinikahi “Je” sang pemuda Jogja.
Padahal, jika saja “Jeh” mau memilih salah satu dari dokter, insinyur, polisi, tentara, birokrat dan pengusaha yang antri berharap cintanya di kampung halamannya sana, bukan sesuatu yang sulit.



“Wedok kae tak dadekke bojo mergo nek disawang marai tentrem ati je, Mas,” jawab “Je” lembut ketika kakak – kakaknya bertanya, mengapa dia mau menikahi wanita yang beda suku dan rumahnya jauuuuuuuh sekali di pedalaman Sumatera, padahal gadis – gadis cantik di sekitar rumahnya tidak sedikit yang menaruh hati padanya.



Kemarin pagi, “Je” dan “Jeh” memasak dan tertawa cekikikan bersama di dapur mereka yang luasnya hanya 40 meter persegi, ketika menyadari uban makin banyak di rambut mereka masing – masing. Pun ketika mereka menyadari gagalnya banyak upaya untuk menganggu kerukunan mereka berdua sebagai suami istri, karena mereka berdua memiliki komunikasi yang baik dan keterbukaan di antara mereka ketika aneka fitnah termasuk ketika ada tuduhan dan isu perselingkuhan yang diarahkan kepada “Je” maupun “Jeh” mampir.

Dengan itu keduanya makin menyadari, bahwa apa yang sudah dibangun belasan tahun lalu, tidak pantas disungkurkan hanya oleh karena isu perselingkuhan murahan dan fitnah orang – orang berhati kejam. Selain itu juga, “Je” dan “Jeh” senantiasa berpegang teguh penuh syukur kepada Tuhan Yang Maha Menyatukan dan Melindungi Dalam Genggaman.

Ya, “Je” dan “Jeh” yang sama – sama unik dan tidak terdeskripsikan, mampu saling melengkapi keunikan di antara mereka tanpa menghilangkan ciri keunikan masing – masing.

Iyo je, Nduk.
Iya jeh, Mas.







Referensi Tulisan Sepele Ini:
Hawkes, Terrance. 1977. Structuralism and Semiotics. London : Methuen & Co.
Leech, Geoffrey. 1976. A Linguistic Guide to English Poetry. London :Longman.
Perrine, L. 1974. Literature : Structure, Sound and Sense. New York  : Hercort, Bruceand Worid Inc.
Smith, Frank. 1982. Understanding Reading : A Psycholinguistic Analysis of Reading and Learning to Read. New York : Holt Rinehart and Winston.