Dua Tahun Jokowi Jadi Presiden, Anda Dapat Apa?

20 Oktober 2016 00:00:26 Diperbarui: 21 Oktober 2016 08:11:50 Dibaca : Komentar : Nilai :
Di bulan yang kesepuluh pada tahun yang ke-2016 ini, genap sudah dua tahun pemerintahan Presiden Jokowi. Tentunya banyak suka dan duka, tawa dan tangis, ngakak dan sengak yang mengiringi perjalanan pemerintahannya. Sudah banyak pencapaian yang diraihnya selama 24 bulan ini, begitu pula dengan kelemahan serta ketimpangan-ketimpangan yang sudah pasti tentu saja menyertai pemerintahannya.
 

Pada pilpres 2014 yang lalu aku adalah salah satu penentang radikal yang tak mau memilih Jokowi sebagai Presiden Republik Indonesia karena kugantungkan harapanku pada saat itu dipundaknya Prabowo Subianto. Sebagai warga negara yang baik, kita harus mampu move on demi kepentingan NKRI. Keberhasilan yang diraih oleh Jokowi tentu saja harus diapresiasi, begitu pula dengan kegagalan dan ketimpangan pun juga harus dikritisi demi terciptanya kesempurnaan pemerintahaan berdasarkan prinsip good governance.

Berikut ini adalah puzzle-puzzle catatan kecil keberhasilan Jokowi, termasuk kelemahan serta kekurangan-kekurangan yang harus dibenahi sejak dini.

Keberhasilan Jokowi

Keberhasilan Jokowi dalam kurun waktu dua tahun ini, yang pertama yaitu dalam dua kalinya reshuffle Kabinet. Bagi sebagian besar orang beranggapan bahwa ini adalah kegagalan Jokowi karena telah memilih orang-orang yang bukan the right man on the right place, namun justru ini bagiku ini adalah keberhasilan Jokowi sebagai bentuk ketegasan dan komitmennya sebagai orang nomor satu di Republik ini.

Tentu saja pada saat pemilihan para punggawa yang menduduki kursi Kabinetnya, Jokowi meletakkan asa kepada mereka dan mengharapkan pilihannya tepat. Namun jika harapannya pada Menteri-menteri yang dipilihnya tak sesuai dengan track record dalam Curriculum Vitae sebagai nilai jual mereka, maka untuk mengejar ketinggalan bangsa ini, pergantian Menteri yang tidak produktif mau tak mau harus segera dilakukan sebelum terlambat.

Ibaratnya, dalam satu tubuh, jika ada bagian tubuh lainnya yang sakit, maka tentu saja bagian tubuh yang sakit itu harus diobati. Jika sudah tak bisa diobati lagi, satu-satunya cara harus diamputasi daripada jadi borok sehingga bikin tubuh pun tak normal lagi.

Yang kedua, keberhasilan Jokowi yang patut diapresiasi yaitu keberhasilannya mendongkrak perekonomian bangsa. Dengan masuknya srikandi bangsa Sri Mulyani dalam jajaran kabinetnya yang prestisius, maka semakin brilian gebrakan-gebrakan dibidang ekonomi demi tercapainya kemaslahatan bangsa secara adil dan merata.

Rasio pertumbuhan pekonomian di tahun 2016 meningkat sebesar 5,04% dibandingkan pada tahun 2015 yang hanya sebesar 4,79%.Artinya masih ada 3 tahun lagi untuk mencapai janjinya pada masa kampanye pilpres dulu yaitu pertumbuhan ekonomi sebesar 7%.

Yang ketiga, jumlah orang miskin juga menurun, dari 28,51 juta penduduk miskin di Indonesia pada tahun 2015 yang lalu kini turun menjadi 28,01 juta di tahun 2016 ini. Tentu saja ini adalah secuil keberhasilan yang menggembirakan karena sesuai dengan spirit dalam Pembukaan UUD 45 tentang kesejahteraan rakyat yang berdaulat.

Keberhasilan Jokowi yang keempat, yaitu ia berhasil menurunkan kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin, yaitu dari 0,408 di tahun 2015 menjadi 0,397 di tahun 2016.

Yang kelima, keberhasilan lainnya yaitu berhasil menurunkan jumlah pengangguran. Pada tahun 2015, jumlah pengangguran sebesar 7,45 juta orang, kini turun menjadi 7,02 juta orang. Tentu saja walaupun ini angka yang masih sedikit, namun setidaknya sudah ada perubahan perbaikan taraf hidup rakyat kecil.

Yang keenam yaitu dari sisi iklim investasi juga sudah mulai menggeliat dan memiliki prospek yang cerah. Realisasi investasi pada tahun 2016 mencapai Rp 298,1 triliun. Dari sisi investasi penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp 102,6 triliun dan investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) tembus Rp 195,5 triliun.

Yang ketujuh, Jokowi mampu menekan laju inflasi agar tetap rendah dan terkendali. Ditahun 2016, laju inflasi hanya sebesar 3,07%, lebih rendah dibandingkan inflasi pada tahun 2015 yang sebesar 6,83% itu.

Yang kedelapan, yaitu hasil dana Subsidi BBM yang dimutilasi Jokowi dulu kini sudah nampak hasilnya, yaitu Rp 211,3 triliun. Dana sebesar itu disebar Jokowi ke program-program prioritas melalui belanja pemerintah pusat dan belanja daerah serta desa tertinggal, kesinambungan fiskal, pembayaran bunga utang, serta subsidi listrik.

Yang kesembilan, pencapaian Jokowi yang cukup membuahkan hasil yaitu Tax Amnesty. Setoran uang tebusan peserta Amnesti Pajak besutannya Jokowi merupakan yang tertinggi didunia dibandingkan dengan negara-negara lain yang pernah menerapkan kebijakan Tax Amnesty.

Deklarasi harta peserta Tax Amnesti juga termasuk yang tertinggi di dunia, bahkan Herkules yang mantan preman Tanah Abang pun juga ikut Tax Amnesty. Tentu saja ini pencapaian yang luar biasa, kesadaran rakyat terhadap pajak ternyata cukup tinggi. Dari program Tax Amnesty besutannya Jokowi, ia berhasil meraup pencapaian uang tebusan Tax Amnesty terbesar di dunia dibandingkan dengan negara negara lainnya yang menerapkan kebijakan Tax Amensty, yaitu sebesar Rp 81,1 triliun.

Negara lain yang pernah menerapkan kebijakan Tax Amneaty seperti Italia hanya mampu meraup Rp 59 triliun, Chili Rp 19,7 triliun, India Rp 19,7 triliun, Spanyol Rp 17,7 triliun, Jerman Rp 13,3 triliun, Australia Rp 7,9 triliun, Belgia Rp 7,2 triliun, Irlandia Rp 4,1 triliun, dan Afrika Selatan hanya sebesar Rp 2,3 triliun.

Yang kesepuluh yaitu keberhasilan Jokowi yang menyatakan maklumat perang melawan pungli. Tak tanggung tanggung, enam oknum Dishub kena ringkus dan hingga kini sudah diciduk 101 oknum polisi yang kena OTT lantaran tertangkap basah melakukan pungutan liar kepada rakyat.

Kelemahan Pemerintahan Jokowi

Selain sejumlah keberhasilan yang telah diraih, Jokowi juga memiliki kekurangan dan kelemahan- kelemahan. Namun kelemahan dan kekurangannya masih bisa diperbaiki ditahun-tahun mendatang. Masih ada harapan, masih ada tiga tahun lagi, tentu saja banyak hal yang bisa diperbaiki dan ditingkatkan dalam kurun waktu tiga tahun kedepan.

Kelemahan pertama yaitu dari sisi hutang luar negeri. Di tahun 2016 ini, hutang luar negeri membengkak menjadi US$ 324,2 miliar, naik 6,4% dari tahun lalu. Tujuannya sebenarnya baik, dana hutang luar negeri itu banyak hal yang  bisa dilakukan untuk mendongkrak perekonomian bangsa, namun efek dan dampak kedepannya, anak cucu kita nantinya yang akan menanggung beban berat hutang beserta bunganya itu.

Kalau bisa hutang luar negeri agak direm sedikit dengan cara menyundul peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sampai batas maksimal, sehingga kucuran dana APBN sedikit banyak bisa dikurangi untuk dimanfaatkan ke sektor-sektor yang banyak menyedot dana dari hutang luar negeri itu. Ini hanya logika sederhana aku saja. Tentunya yang lebih ahli tentang persoalan hutang luar negeri yang lebih tahu mekanisme penanganannya bagaimana.

Yang kedua, mayoritas proyek-proyek infrastruktur strategis semuanya dibiayai dari hutang luar negeri dan dikerjakan oleh pekerja asing. Padahalbreak event point proyek-proyek infrastruktur strategis tersebut dapat menutupi hutang luar negeri beserta bunganya.

Yang ketiga, penyerapan tenaga kerja lokal untuk proyek-proyek infrastruktur strategis sangat rendah. Padahal orang Indonesia banyak yang jago dalam bidang konstruksi. Penyaringan SDM berkualitas untuk kepentingan penggarapan  proyek-proyek infrastruktur strategis belum dilakukan dan tidak digarap sama sekali oleh Kemeterian Tenaga Kerja. Sehingga justru tenaga kerja yang berkualitas lebih cenderung mencari kerja keluar negeri.

Yang keempat, kelemahan Jokowi lainnya, yaitu pembangunan infrastruktur masih belum merata diseluruh Indonesia. Tentu saja ini tak sejalan dengan spirit yang termaktub dalam sila kelima Pancasila. Dalam pengamatanku, saat ini pembangunan infrastruktur masih fokus di pulau Jawa dan Sumatera. Padahal Indonesia ini bukan hanya pulau Jawa dan Sumatera saja.

Yang kelima, kedaulatan pangan masih timpang dan jauh panggang dari api. Mayoritas pangan masih serba impor. Kran import dibuka sederas-derasnya namun justru tidak memecahkan masalah karena masih banyaknya para mafia dan spekulan yang berkeliaran dan merajalela bagaikan kutu yang beranak pinak. Ibaratnya bunuh satu tumbuh seribu. Para mafia dan spekulan itu adalah orang-orang yang kuat, baik secara mental maupun secara organisasi.

Yang keenam, Jokowi belum mampu memberantas dua momok yang membelit negeri ini, yaitu mahalnya harga daging sapi dan harga gas. Bayangkan saja, harga daging sapi sekilo Rp 120 ribu, harga gas 12 kilo seharga Rp 150 ribu, tentu saja ini bikin dompet rakyat miskin yang sudah kempes tambah kempes saja.

Yang ketujuh, Jokowi kurang perduli pada industri kerakyatan, salah satu contohnya industri batu akik yang kini terkapar tak berdaya tak mampu bangkit lagi. Padahal ini industri yang menguntungkan dan berpotensi mendongkrak Pendapat Asli Daerah (PAD). Negara kita ini kaya akan kandungan hasil alam yang bisa diolah selain untuk target pasar dalam negeri, juga untuk komoditas ekspor. Ini yang sama sekali belum tersentuh dan terendus oleh Jokowi.

Untuk menyundul industri kerakyatan batu akik, mungkin Jokowi harus pakai batu bacan agar indistri batu akik booming lagi, atau bisa juga dengan cara menghadiahkan batu bacan ke sohibnya Presiden Rodrigo Duterte, seperti dulu ketika SBY menghadiahkan batu bacan ke Presiden Barrack Obama.

Yang kedelapan, kelemahan Jokowi lainya yaitu belum mampu mengelola sumber daya alam berupa migas secara maksimal. Padahal sunber daya alam migas di negeri ini sangat besar dan melimpah ruah. Contohnya di kepulauan Natuna itu. Kandungan migas disana sangat luar biasa besar sampai bikin ngiler negara Tiongkok yang ingin mencaploknya sebagai wilayah kedaulatan negara mereka, namun belum semuanya tersentuh oleh pemerintah. Tentunya ini PR yang berat bagi pak Jonan dan Archandra Tahar.

Kepulauan Natuna itu memiliki cadangan gas alam yang terbesar di kawasan Asia Pasifik. Di dalam perut buminya itu bergelimang minyak yang melimpah ruah tak habis-habisnya. Cadangan gas alamnya memiliki kandungan 222 triliun kaki kubik (TCT), gas hidrokarbon sebesar 56 triliun kaki kubik, kandungan minyak bumi sebesar 298,81 juta barel minyak, dan gas bumi kandungannya mencapai 55,3 triliun kaki kubik. Tentu saja Jokowi enggak perlu lagi minjem duit ke luar negeri jika kekayaan migas di kepulauan Natuna itu ia garap dengan serius.

**

Itu saja uraian singkat aku tentang pencapaian Jokowi di usia pemerintahannya yang genap dua tahun ini. Tentunya masih banyak keberhasilan dan kelemahan yang belum disebutkan disini, namun jika ada yang bertanya, dua tahun Jokowi jadi Presiden, Anda dapat apa? Maka aku jawab, dua tahunnya Jokowi sangat jauh lebih baik dan lebih berprestasi dibandingkan dengan 10 tahunnya SBY itu. Ini fakta, bukan rekayasa.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
FOKUS TOPIK DUA TAHUN JOKOWI-JK
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article